Blog CornerJakarta

22 Menit dan Kecanggihan Persejataan Polri

Suatu pagi di Jakarta yang begitu damai, dengan warga kota yang mulai sibuk dengan berbagi aktifitas mereka, tiba-tiba Jakarta menjadi tegang. Ledakan bom beruntun terjadi di pusat keramaian Jakarta. Kisah tragis itu, justru menjadi bahan tonton warga, ketika kepolisian berjibaku dengan para teroris. Masyarakat umum secara langsung menyaksikan bagaimana kepolisian baku tembak dengan teroris, layaknya  sebuah laga film holywood. Film 22 Menit yang baru ditayangkan di bisokop-bioskop Indonesia itu, adalah kisah fiksi yang didasarkan pada kejadian nyata, ledakan bom di jalan MH Thamrin Jakarta.

Film ini diawali dengan cuplikan ledakan bom dengan korban-korban yang bersimbah darah, suara tangis dan kepanikan ibu kota ketika ledakan bom Thamrin terjadi. Secara asrtistik dan pengemasan ide, masih kalah jauh, apalagi ketegangan yang diciptakan dalam film itu tiba-tiba saja terputus berganti layar hitam dengan angka-angka jam jam digital yang bermaksud ingin menyampaikan waktu kejadian sesungguhnya. Namun, Bagi saya, hal itu sangat menggangu, dan menghentikan ketegangan secara tiba-tiba. Penokohan dan pengkarakteran juga kurang menggigit, kecuali karakter Anas (Ence Bagus dan  Hasan (Fanny Fadillah). Meskipun demikian, bagi saya ada beberapa isu menariak yang bisa disimak dalam film 22 menit.

Ada lima isu yang sesuungguhnya ditampilkan dalam film ini. Pertama adalah soal kehidupan kota Jakarta sangat begitu padat dengan kehidupan yang ketat. Jakarta telah menjadi tempat tinggal bagi orang-orang dari berbagai macam kalangan, dengan berbagai aktifitasnya setiap hari. Mereke berpacu dengan waktu dan sengitnya persaingan di ibu kota Jakarta.

Kedua, film ini juga menampilkan sisi kehidupan anggota kepolisian, di mana mereka harus merelakan nyawa mereka, waktu, dan keluarga mereka untuk menjalankan tugas-tugas mereka. Mereka harus siap untuk untuk dikirim ke mana saja, untuk kepentingan negara. Kisah cinta Firman ( Ade Firman Hakim) Sang polisi lalu lintas, dimana g rencana pernikahannya dibatalkan oleh tunanganya keran sang Polisi Lalu Lintas itu harus berpindah tempat tugas di Sangihe, tempat yang sangat terpencil dan jauh dari kehidupan megapolitan Jakarta.

Ketiga, tampilnya Kapolri Tito Karavian yang melanggar lalu peraturan lalu lintas karena tdak menggunakan helm, serta ungkapan istrinya yang mengatakan, bahwa mereka jangan ditilang karena, mereka adalah teman baiknya Kapolri, memberikan indikasi kuat bahwa perilaku mengandalkan orang-orang dekat, kakak, paman yang menduduki jabatan tinggi di kepolisian untuk meloloskan diri,  ketika para pengguna jalan raya harus ditilang karena melanggar peraturan lalu lintas.

Keempat, kecanggihan polisi Indonesia, tak banyak orang yang tahu, seberapa canggih peralatan tempur yang kini dimiliki oleh pihak kepolisian dalam akasi-aksi mereka melumpuhkan teroris.  Ketika mata publik selalu disuguhi kecanggihan polisi Amerika dalam film-film laga Holywood, anda akan terheran-heran, termasuk saya ketika melihat kecanggihan peralatan yang dimiliki Polri saat ini. Anda akan melihat persenjataan miliki polri dengan kamera yang menangkap gambar teroris di balik dari gedung yang jauh, serta senjata penempak jitu yang super canggih, dan mampu menembus dinding gedung yang tebal.

Saya kira, Indonesia harus bangga dengan kecanggihan senjata dan peralatan pendukung yang kini dimiliki Polri. Di film ini anda akan menyasikan polisi Indonesia, layaknya polisi Amerika dalam film-film laga Holiwood. Kelima, film ini memberikan pesan tersirat bahwa, tak satu orang pun yang menginginkan aksi teror itu terjadi, dan mengakibtakan kematian, duka dan lara bagi mereka, sahabat, keluarga yang ditinggalkan. Singkatnya, film ini ingin mengatakan bahwa aksi-aksi teror yang selama ini terjadi, bukanlah kebetulan, bukan pula rekayasa, seperti yang sering dituduhkan kepada pihak kepolisian, teruma Kapolri dan Presiden.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *