CATATAN PERJALANAN HARI KE ENAM- DARI KOKAS MENUJU FAKFAK. Pukul 07:12 saya terbangun dari tidur malam. Parto yang tidur di sbelah saya masih pulas, demikian juga Yusuf dan Hidayat. Pak ahmad yang kali ini tidur di depan TV, nampak telah terbangun, demikian juga dengan Syarif. Pagi ini saya pak Ahmad dan Parto akan kembali ke Fakfak, selanjutnya ke Jayapura. Sambil menunggu jemputan yang dipesan oleh Parto, kami menikmati makan pagi dengan ikan asin gulai. Sungguh nikmat sekali. Beberapa saat kemudian Nurdin dan Imaran tiba, rupanya mereka yang diminta Parto untuk mengantar kami ke Kota. Kami masih santai, teman-teman lain masih menikmati sarapan, saya Nurdin, Parto dan Imaran sibuk membuat gelang dari akar bahar. Saya sudah punya, namun agak diperhalus dan diperkilat.

Akhirnya kami harus berangkat, Hidayat, Syarif dan Yusuf masih harus tinggal selama kurang lebih seminggu lagi. Rupanya mobil yang akan kami gunakan sejenis carry dengan belakang terbuka. Parto yang akan mengemudi, Pak Ahmad duduk di samping Parto, saya diminta duduk juga di depan, namun saya lebih leluasa dan ingin menikamti perjalan ini, sehingga saya memilih untuk duduk di belakang bak mobil terbuka bersama Imaran dan Nurdin. Kami singgah sebentar di sebuag kios membeli air minum, saya juga membeli dua bungkus rokok. Perjalnan mendaki, menurun dan berliku kini dimulai. Saya menikamti perjalanan ini. Sepnjang jalan kami juga bercerita kata Nurdin” jalan di sini sudah lumayan bagu, hanya ada beberpa bagian saja yang rusak, sementar kalau ke Patipi, belum seluruhnya beraspal, jadi kalau hujan sangat repot.”Ah, ternyata memang jalan ke Distrik Teluk Patipi masih belum seleuruhnya bersaspal. Sepanjang jalan kami menyaksikan begitu banyak pohon pala yang sarat dengan buah. Kemarin saya pergi tongko cabang pala karena sarat dengan buah” kata Nurdin. Nampaknya memang buah pala lagi banyak, itu sudah cukup meyakinakan ketika mempehatikan deretan pohon pala di tepi jalan sepanjang perjalanan kami.

Pohon Pala di Tepi Jalan yang padat dengan buah yang hampir matang untuk dipanen

Pohon Pala di Tepi Jalan yang padat dengan buah yang hampir matang untuk dipanen

Sudah hampir satu jam perjalanan kami, tiba-tiba saja hujan mengguyur, kami kewalahan. Tak ada antisipasi bahwa akan turun hujan. Nurdin memberitahukan Parto berhenti sebentar, di dalam tempat duduk depan ada terpal kecil. Parto kemdian memarkir mobil di samping jalan, hujan terus mengguyur. Nurdin mengeluarkan terpal biru kecil dan kami mencoba melindungi tubuh kami dan juga barang-barang kami. Tak lama, hujan pun berlalu. Kami kembali melipat terpal dan duduk santai. Sekitar tigapuluh menit kemudian, hujan kembali menghantam kami, kami harus bersusah payah lagi melidungi badan kami dan juga laptop dan kamera. Kali ini hujan cukup deras hingga sebagain dari badan kami harus basah. Namu terpenting adalah laptop kami dan camera saya. Kami harus menyerah memberikan sebagaian besar terpal untuk melindungi barang-barang kami. Hujan kemdian bersangsunhg-asngsur lenyap. Nampaknya di sini sering hujan lokal, sebab sebagain besar tempat yang kami lalu tetap kering, aspal jalan tidak basah sedikitpun. Hujan ini seakan tak merelakan badan kami kering, sebab ketika hendak memasuki kota (terminal kokas), hujan kembali deras menghantam kami. Kami pasrah biarlah kami basah, yang terpenting adalah barang-barang kami.

Menumpang KMP Kalabia Ke Arar -Sorong

Pukul 11:52 kami tiba di Kota Fakfak, hujan masih terus mengguyur, meskioun tidak sederas pagi tadi. Parto yang mengendarai mobil memutar haluan mobil menuju sebuah agen penjualan ticket peswat. Kami betrhenti di sana, Parto dan Pak Ahmad, turun dari pintu mobil depan dan berjalan masuk ke dalam ruang penjukan ticket. Beberapa menit kemuidan mereka berdua keluar, dan mengatakan, kita baru bisa nanti mendapat penerbangan pada hari Rabu, sementara hari ini hari Sabtu, itu artiny kami harus menunggu lagi tiga hari lagi. Pak Ahmad justru mengaytakan, jika kita nantinya berangkat hari rabu, saya mendingan kembali ke Patitpi, lebih senang di sana.

Nurdin, adiknya Parto mengatakan “di depan kita, tidak jauh, kantor PELNI (Pelayaran Nasional Indonesia), coba kita tanya informasi kapal. Parto dan Pak Ahmad masuk ke dalam mobil dan kita menuju kantor PELNI Fakfak yang cuma ditempuh sekitar 3 menit. Tepat di depan kantor PELNI kami berhenti, Parto dan Pak Ahmad kemudian turun dari mobil, dan berjalan masuk ke dalam kantor PELNI. Saya, Imran dan Nurdin tetap di atas mobil. Hanya selang kira-kira tiga menit kemudian, mereka berdua kembali, dan mengatakan bahwa informasi kapal tidak jelas, belum ada kepastian. Ah, saya jadi heran, mengapa bisa sampai tidak jelas seperti itu. Kita melanjutkan lagi perjalann kita, memutar jalan Izak Telusa, pertokoan kota Fakfak, tujuannya kami akan menuju Hotel Kokas. Pak Ahmad akan menginap di sana, sementara saya dan Parto akan menuju rumah mereka di Wagom dan akan menginap di sana.

Ketika melewati pelabuhan Fakfak, mata kami tertuju pada sebuah kapal yang sedang sandar di dermaga. Ah itu ‘ Kapal Kalabia’ kata Nurdin. Benar itu kapal, ‘coba kita tanya dulu, mau ke mana kapal ini” kata saya. Parto kemudian memarkirkan mobil di depan pertokoan jalan Izak Telusa, hujan masih terus mengguyur, meski tak terlalu deras. Nurdin dan Imaran berjalan menuju pelabuhan, yang hanya sekitar 200 meter Beberapa saat kemudian, mereka kembali dan mengatakan bahwa kapal ini akan ke sorong hari ini pukul 02:00 siang.

Oke, nampaknya, kami sepakat untuk menggunakan KM Kalibia menuju Sorong. Lagipula, kapal ini tidak singgah ke tempat lain sebelum masuk Sorong. Dengan menggunakan kapal ini, kami bisa tiba besok pagi dan lusa kami bisa menggunakan pesawat menuju Jayapura, lebih cepat daripada harus menggunggu 3 hari lagi. Hujan masih belum berhenti, kami sepakat untuk menuju Wagom, rumah saudara Parto, di sana kami akan istirahat sebentar, saya juga bisa mengganti pakaian, sebab pakian saya sudah basah. Saat mobil kami berjalan, hujan semakin deras, saya , Imran dan Nurdin yang duduk di bak belakang mobil terbuka, berusaha melindungi tas kamera dan juga laptop kami. Sepenggal tenda, saya gunakan untuk mejutup kepala saya. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit, kami telah tiba di jalan raya, depan masjid alfatah . Kami harus berjalans sekitar 50 meter lagi menuju rumah Ibra, saudara Parto yang letaknya berada di lereng bukit.

Kami akhirmya tiba di rumah Ibra, baju saya sudah kuyup, celana saya masih tidak terlalu basah, sebab terlindung dengan terpal, saya bisa menggantinya nanti setelah tiba di kapal. Saya hanya butuh mengganti baju biar tidak kedinginan dan masuk angin. Di ruang depan ada Ibra, pak Ahmad dan Parto yang duduk bercerita sambil menikmati kopi panas dan beberapa potong pisang goreng yang disediakan oleh tuan rumah. Obrolan kami kami pada seputar aktivitas kami di Kokas hingga Patipi. Hujan masih terus mengguyur, di depan rumah air yang tidak tertampung lagi di parit, mengalir deras lewat jalan di depan rumah Ibra. Sambil mengguggu hujan redah dan waktu keberangkatan, kami disuguhkan makan siang oleh tuan rumah. Nasi, sayur kangkung dan telur goreng. Sederhana namun cukup untuk mengisi perut kami, sebelum berangkat.

Obrolan kami sudah cukup panjang hingga pukul satu lewat. Kami pun bergegas menuju ke kendaraan. Hujan belum berhenti juga, namun kami harus berangakat menuju pelabuhan, sebab menurut informasi yang kami peroleh, KMP Kalabia, kapal yang akan kami tumpangi menuju sorong, akan berangkat pukul 14:00 siang. Karen hujan, saya memnbukus tas saya dengan parasutnya. Parto menyetir mobil, dan di sampingnya Pak akhmad, saya, Imran dan Nurdin, di bagian belakang yang terbuka luas. Hujan pun turun saat mobil kami meluncur, kami yang dudul dibelakng harus merapat ke rumah mobil, biar tidak terlau basah. Beberapa saat kami parkir di ruko Pasar Tambaruni, Adam ke ATM saya ke toko membeli tiga bungkus rokok.

Pukul 13: 11 menit kami tiba di pintu masuk pelabuan. Kami bergegas menurunkan barang-barang kami dari mobil memboyongnya ke atas kapal. Hujan membuat jalan cukup licin, ditambah lagi dengan tangga masuk ke kapal yang cukup terjal karena surutnya air laut. Dengan hati-hati saya melangkah masuk ke kapal, demikan juga dengan teman-teman yang lain. Kapal ini memiliki panjang 56,2 meter, lebar 14 meter dengan kecepatan 12 knot dan memiliki daya jelajah (bahan bakar) 500 mil laut. Rute kapal Fakfak – Sorong (PP) dan Fakfak –Wahai ( PP), dari jadwal yang tetempel pada papan pengumuman di atas kapal, menunjukan bahwa setiap minggu kapal ini akan menuju Sorong dari Fakfak.

Di dek kapal paling bawah, nampak begitu banyak perlengkapan militer. Rupanya ada satu kompi pasukan dari sorong yang ditugaskan di fakfak, akan kembali lagi ke sorong. Ternyata kapal baru akan berangkat pada pukul 15:00, satu jam lebih lama dari rencana semula. Saya teman-teman menambil barnag-barang kami dan menuju ke dek dua, rupanya di atas cukup nyaman, di kafertaria kami duduk, ngobrol, sementara Parto dan Nurdin coba mengecek kamar anak buah kapal yang bisa kami sewa untuk semalam, mengingat kami membawa laptop, kamera dan sebagainya, sehingga kami perlu mengamankan barang-barang itu. Namun, semuanya penuh, kamus harus membeli tempat tidur yang teoah disediakan, ada kelas VIP dan kelas ekonomi. Kapal ini memiliki kapasitas atau daya tampung sebanyak 196 orang, dimana 40 orang pada tempat tidur kelas eksekutif, 60 orang penumpang duduk kelas ekonomi dan 96 orang penumpang tidur kelas ekonomi. Kapal ini juga mampu mengakut truk sebanyak 15 buah dan 10 buah mobil sedan. Sehingga masih kelihatan sekali kapal ini masih sangat kosong.

Sekedar yang mengecek perbedaan antara kelas ekonomi dan kelas VIP, tidak terlalu mencolok. Bedanya hanya pada Air Conditioner (AC) yang ada pada kelas VIP sementara kelas ekonomi tidak. Di ruang kelas ekonomi justru ada mushallah sementara di ruang VIP tidak tersedia. Saya mengganti baju dan celana yang telah basah sejak tadi, dan untuk mengamankan camera dan tas laptop, saya mengikatnya lapis dengan tempat tidur. Pukul 15:15 menit, kapal lepas dari pelabuhan Fakfak, agak tertunda sedikit sebab di dermaga ada apel pasukan, tentara yang akan ke sorong (mungkin menunggu mereka). Kapal meluju perlahan keluar dari dermaga. Laut cukup tenang, tak ada ombak, dab penumpang pun asyik beridiri di sudut-sudut kapal dengan handphone mereka, kamera mereka memotret suasana sore itu.

img20161022150438

img20161022152632

Sekitar 30 menit kapal meninggalkan pelabuhan, beberapa orang petugas datang membawa karcis tikek untuk dibeli. Sesuai pengumuman di papan pengumuman Kapal bahwa ticket dijual di atas kapal. Kami sebetulnya telah meletakan barang-barang kami di dalam ruang VIP, sehingga Pak Ahmad hanya memberitahukan petugas Kapal penagih ticket bahwa kami di ruang VIP, sekejap petugas ticket itu mengucapkan angka yang haris dibayar. Parto kemudian membeli tiga ticket kelas VIP untuk kami bertiga. Harga untuk satu tempat tidur pada kelas VIP (eksekutif) Rp.257.000, hingga total kami bertiga harus membayar Rp. 771.000. Jika kami membeli kelas ekonomi kami hanya membayar Rp.450.000 untuk tiga orang. Sebetuknya ada juga ticket untuk penumpang yang tidak membeli tempat tidur atau penumpang duduk, namun saya tidak tahu persis berapa harganya. Nampaknya, harga tiket yang tertera pada papan pengumuman berbeda dengan tiket yang dijual di oleh petugas kapal di atas kapal. Selang beberapa detik, seorang petugas kapal mengatakan kepada bosnya bahwa “ bos ada penumpang yang mau naik?” kasi naik saja sudah?, demikan pinat anak buah kapal itu, bosnya pun mengiyakan itu dengan hanya mengangkat keningnya. Kapal kemudian menurunkan kecepatan dan melambat

Saya jadi penasaran, bagaimana bisa mereka menaikan penumpang di tengah laut. Rupanya ada dua perahu yang mendakat, namun bukan untuk menaikan penumpang. Mereka hendak menaikan barang-barang mereka yang memang sudah dikemas dalam box gabus, sepertinya barang yang tidak tahun lama seperti ikan. Perahu itu menaikan tali dan mengikatpewrahunya pada kapal, lalu dari atas kapal diturunkan tali untuk menarik barang-barang yang ada di perahu, dan mereka berhasil melakuka itu dengan baik. Saya menduga bahwa praktek ini sudah sering dilakukan, entah oleh warga sendiri atau melalui kerjasama dengan para bos di atas kapal. Mengepa mereka tidak mengangkutnya saat kapal sedang parkir di pelabuhan tadi pagi? Ini juga menunjukan betapa keamanan bukan menjadi hal yang penting lagi, baik petugas kapal maupun masyarakat yang hendak menaikan barang mereka di tengah laut.

Fakfak

Aktifitas Bongkar-Muat di Tangah Laut Saat Kapal Sedang berjalan

Kapal kembali melaju dengan kencang. Di kafetaria orang mulai ramai, ada yang memasan kopi, teh, indomie, pop mie dan sebagainya. Adapula yang hanya duduk merokok sambil menonton film yang ditayangkan lewat sebuah TV berukuran cukup besar di kafetaria. Parto juga meman tiga mangkok pop mie. Satu mangkok pop mie (mie gelas) diberi harga Rp.15.000,-, ini harga yang cukup mahal jika pop mie itu dibeli di darat, kita cukup membayar separuh harga. Namun, itu sudah dimaklumi oleh penumpang kapal, dan penjual di kafetaria juga menganggap itu hal yang biasa.

img20161022180425

Kapal kami sedang berada di laut yang teduh, kami kini berada di teluk bintuni, laut tidak terlalu berombak, hanya sedikit gelombang kecil, dan matahari sudah hampir tenggelam. Di ujung horizon sana kelihatan cahaya kuning-merah memancar. Hujan tadi pagi memang membuat penuh dengan awan, sehingga matahari juga tidak nampak jelas. Saya berjalan naik ke dek kapal paling atas dan menuju ke anjungan bagian belakang. Di sana nampak ada sekita sepuluh anggota TNI sedang duduk sambil, merokok sambil ngobrol. Dengan menggunakan kamera handphone, saya mencoba untuk membingkai suasana kapal dan senja sore itu. Tak lama kemudian saya kembali ke kafetaria, dan memotret suasana di sana.

img20161022175201

img201610221800301 img20161022181618

Saya kembali ke kamar di ruang VIP bagian depan kapal, naik ke tempat tidur susun paling atas, mengelurakan laptop saya dari dalam tas untuk menulis. Tidak banyak orang dalam ruang VIP itu, pada deretan tempat tidur dimana saya berada, tempat tidur bagian atas hanya ada saya di tengah, parto di bagian kanan, dan ujung kiri lagi ada seorang anak muda. Pada deretan paling bawah, Pak Ahmad berada di tengah dan ada seorang ibu dan anak kecilnya di ujung sisi kanan, serta ada seorang anggota tentara di ujung sebeleh kiri. Padang deretan tempat tidur di depan saya, jumlahnya juga hampir sama, hingga kira –kira haanya ada 12-15 orang dalam ruang VIP itu. Iya memang kapal sedang kosong, demikian kata orang-orang, tadi pagi juga ada kapal Ngapilu, milik PELNI yang jauh lebih bagus, tiket lebih ,murah dan langsung sandar di pelabuhan kota Sorong. Sementara kapal yang sedang kami tumpangi ini, akan sandar di pelabuhan Arar SP3, sekitar 40 kilometer dari Kota Sorong. Memang lebih beruntung jika menggunakan kapal Ngapulu atau kapal milik PT. PELNI lainnya.

Saya lanjut mengetik catatan harian saya, tak lebih dari satu jam, batterai laptop saya habis, dan saya harus mengecasnya. Di depan deretan tempat tidur sana ada colokan di dekat TV, saya pun kesana dan mengecas laptop saya. Beberapa penumpang di sebalah lagi sibuk menyelakan TV, dan rupanya mereka berhasil menyangkan dua film. Film petama adalah tentang Gladiator, sementara yang kedua saya lupa. Saya hanya meononton beberapa bagian akhir dari film Gladiator itu, saya sudah tertidur. Hanya sebentar saja saya terbangun lagi, lantaran perut yang tidak enak. Saya keluar dari ruang itu, dan di luar saya bertemu Pak Ahmad juga Parto yang asyik duduk sambil merokok. Pak Ahmad sedang membaca-baca sesuatu di laptopnya, dan meminta bantu saya untuk membaca sebuah artikel, namun saya kurang konsen membacanya. Di atas setiap meja ada sebuah kaleng berukuran besar dan sedang, berwarna merah, putih an kuning. Itu adalah tempat asbak penumpang. Pagi penumpang yang duduk dan merokok di kafetaria, akan menggunakan kaleng-kaleng itu untuk membuag abu rokok mereka. Di kafetaria, begitu ramai dengan para penumpang yang kebanyakan adalah anggota TNI. Mereka asyik nonton, minum teh, kopi, dan merokok. Mereka tidak lagi berseragam resmi seperti sore tadi sebelum berangkat.

img20161022135843

Ruang Ekonomi Penumpang di Bagian Depan Kapal

img20161022135702

Ruang VIP dan Tempat Tidur Penumpang

Parto meminta saya untuk menaikan kaki di atas kursi, ia ngin memijit betis kakiku agar sakit perut hilang, saya pun menuruti perintahnya, perut sakit memang terasa kalah sakitnya dibanding sakitnya urat betis kaki yang dipijit. Oh, Tuhan, hanya beberepa saat, badan saya gemetar hendak, kedinginan seperti hendak malaria. Saya akhirnya pamit, masuk dan tidur. Ketika masuk ke dalam ruang VIP itu, badan semakin gemetar, hingga saya harus mematikan semua AC sebab ruang VIP sungguh sangat dingin, tidak ada remote kontrol untuk bisa mengatur suhu AC. Tidak ada juga selimut untuk menghangat tubuh. Mungkin ini pelajaran, lain kali harus bawa selimut tebal, jika hendak menggunakan ruang eksekutif. Beruntung saat saya mematikan AC, sebagain besar penumpang di dalam telah lelap tertidur. Saya berusaha naik ke tempat tidur dan menutupi seluruh badan saya dengan kain, saya juga menutupi kepala saya dengan handuk. Badan saya gemetar semakin parah, namun saya memaksa untuk tidur, dan akhirnya saya bisa tertidur juga.

Hampir jam lima pagi, saya terbangun dari tidur, badan saya terasa lebih baik, meskipun perut saya masih tetap tidak nyaman. Dari dalam kapal memang tidak kelihatan dari jendela fajar pagi. Saya kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan ke luar, rupanya, kapal ini sedang berada di selat Sele. Nampak dengan jelas obor gas yang tersumbur tinggai lewat pipa. Sela memang tempat penambangan minyak bumi, dan tempat ini sudah sangat terkenal. Saya mencoba menggunakan kamera handphone untuk memotret suasana jelang pagi itu. Saya berjalan ke anjungan kapal bagian belakang namun sepi, di sana hanya ada seorang anak muda yang tertidur di kursi. Pelabuhan tujuan kami masih sekitar tiga jam perjalanan lagi. Saya kembali ke kamar melanjtkan sisa mimpi.

Cahaya Obor Minyak SELE Sorong Jelang Pagi

Cahaya Obor Minyak SELE Sorong Jelang Pagi

img20161022175402

 
READ ALSO  When Teachers Left School

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *