Blog CornerKaimanaWest Papua

Arguni Wenum Kosi; Mengenal masa Kanak-kanak

Warwasi; Wenum Kosi

Warwasi; Wenum Kosi

Pagi tadi ketika merapat dengan speed boat di dermaga, ada rasa haru, kembali ke kampung kelahiran, bertemu ayah dan ibu, sudara dan kawan. Seketika menginjakkan kaki di atas tanah, saya langsung berjalan dari ujung rumah ayah dan ibu menuju ke ujung kampung sebelah, memandang dan menatap wajah kampung kecil ini. Rasa haru dan sedih bercampur aduk, mata berkaca-kaca. Banyak yang hilang dari kenangan masa kecil seakan tak relah jejak-jejak kenagan masa kecil, tempat-tempat di mana dulu bermain, dan teratwa bersama sahabat. Banyak juga yang baru, tetapi tak seindah dulu. Saya bertemu om, tante, kakak sepanjang jalan, mereka memelukku, manatap wajahku dalam-dalam penuh haru, “ moe…. Oro dirfe? O ba mese”…., itulah kata-kata yang selalu terucapkan saat bertemu mereka. Sahabat-sahabat seangkatan telah pergi, merantau mengadu nasib di negeri seberang, ada juga dari mereka yang telah menjadi ayah dan ibu dengan anak-anak mereka yang telah tumbuh besar, bahkan bocah –bocak kecil yang dulu masih telanjang berlarian di jalan di kampung ini, kini juga telah menyandang gelar ayah dan ibu.

Saya terus berjalan hingga ke gubuk kecil, gubuk dimana dulu kami tinggal bersama tumbuh menjadi dewasa dan keluar satu persatu tinggalkan rumah itu, mengadu nasib. Rumah dimana dulu kami selalu bermaian, tidur dan makan seadanya. Masih tertancap kokoh hasil karya ayah dan bunda serta kami anak-anak yang selalu membantu mereka memasang pondasi dan dinding rumah. Ketika memandangi pondasi dan dinding beton itu, kelihatan sungguh kasar,norak jelek dan tidak elok dipandang mata. Tapi itu adalah hasil kerja keras ayah dan bunda, itulah yang bisa mereka lakukan saat itu, dan ini adalah rumah kenangan kami sekeluarga.

Saya berjalan sore itu menelusuri panjang tepi pantai hingga duduk di ujung jembatan, dermaga kecil tempat tambatan perahu nelayan di kampung kecil ini. saya duduk memandangi laut yang teduh dan tenang, melihat bocah-bocah kecil berenang, bermain gembira di atas air, locat berputar-putar di atas air sambil menunggu senja datang. Sesekali saya memotret bocah-bocah itu hingga malam menjemput saya di atas dermaga kecil itu.