Blog CornerLive Corner

Bintang Kejora dan Bintang Daud: Noken antara Inspirasi dan Aspirasi

Hari sudah lewat tengah hari , ketika itu saya tiba di depan gerbang masuk pasar dan juga adalah terminal Oyehe, Nabire. Di dalam terminal itu nampak masih banyak warga yang sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Saya memang berkeinginan masuk ke dalam pasar Oyehe, namun mata saya telah tertuju pada beberapa wanita asli Papua yang sedang memamerkan noken warna-warni kreasi mereka, yang hanya beberapa langkah di depan saya. Saya kemudian berjalan lurus menuju mereka. Di atas beberapa batang kayu kecil yang dibentangkan, mereka menggantung berbagai bentuk dan corak noken hasil kreasi mereka. 

“Mari liat-liat, bisa beli satu dulu ka?”

Demikian sapa, salah satu wanita separuh baya kepada saya. Wanita itu nampak dengan santai sedang mamainkan jari-jarinya pada beberapa utas benang warna-warni dengan sebuah jarum. Ia nampak sangat mahir mamainkan jarinya, merajut helai demi helai benang. Dengan warni-warni helai-helai benang itu, wanita itu nampak sedang membentuk sebuah ornamen, yang belum sempurnah. Entah apa ornamen yang sedang dirajut itu. Perempuan yang satu lagi sedang berdiri memperbaiki tiang kayu penyangga noken-noken mereka yang tampak miring.

Saya mendekati jualan mereka itu, namun saya tidak bisa menjawab kata-kata wanita itu, apalagi menanyakan berapa harga satu buah noken kreasi mereka, sebab saya memang agak sunhgkang untuk bertanya, lagipula saya tidak bertujuan membeli noken mereka. Mata saya lebih tertuju pada beberapa motif dari noken-noken yang mereka rancang. Sebagian besar dari moitif yang mereka cetak pada noken-noken mereka adalah mofi-motif alami, dengan karakter-karakter khas Papua. Selain itu, dua motif lain yang menarik perhatian saya adalah motif Bintang Kejora atau yang orang lebih kenal dengan motif Bendera West Papua, dan motif Bintang Daud atau yang lebih dikenal dengan Bendera Israel. Dua motif ini sungguh menarik perhatian saya dan menjadi pertanyaan saya, saat pertama kali memandang dua motif itu, apakah kreasi mereka itu adalah benar-benar sebuah aspirasi yang berakar, ataukah hanya sebuah inspirasi yang lahir dari gejolak politik yang terjadi di Papua yang berakhir pada komodifikasi simbol politik ke ranah ekonomi.

READ ALSO  Kaimana-Nabire; Ke mana Wings Air?

Noken dan Bintang Kejora

 

Noken memiliki banyak nama, hingga bentuk yang berbeda di setiap daerah. Namun noken telah menajdi hasil kreasi kultur di senatero tanah Papua. Apapaun nama dan bentuknya, yang mereka paham adalah bahwa noken adalah alat untuk mengisi dan membwa barang seperti hasil kebun. Dan secara kultur telah menjadi bagian dari kehidupan orang Papua. Ketika memandang noken dengan motif Bintang Kejora, maka itu memiliki cerita yang berbeda, dan itu adalah hal yang baru. Noken dengan motif Bintang Kejora dapat dijumpai dengan mudah. Lambang bintang pagi itu beredam di masyarakat tidak hanya melalui noken, tetapi juga pernak-pernik lokal lainnya, seperti gelang tangan dan baju kaos. Umumnya, mereka yang menggunaknnya adalah mereka yang memiliki hubungan kultur dengan kreasi-kreasi budaya itu, meskipun secara idiologi, politik, sulit untuk dikatakan bahwa mereka adalah bagian dari gerakan politik itu. Lantas noken-noken karya perempuan-perempuan Papua itu memiliki tujuan politis? Tentu. lambang Bintang Kejora pada noken dan pernak-pernik lainnya itu, bisa dipandang sebagai political campaign, bagi mereka yang memang sedang bertarung ke arah sana, maupun mereka yang sedang malawan aspirasi lewat simbol bintang pagi yang semakin dekat dengan orang-orang Papua itu. Sehingga wajar jika motif bintang Kejora pada noken, baju dan lain sebagainya, sempat menjadi target sweeping oleh pihak yang berwajib di Indonesia. Baca di sini. Bagaimana dengan mereka (mama- mama Papua) yang merajut noken-noken itu?

Apakah mereka juga bagian dari political campaign itu? Mungkin juga, namun saya, tidak melihat itu. Aspirasi mungkin ada, namun dalam kaitannya dengan karya noken itu, saya memandang mereka sebagai orang-orang yang tidak terlalu peduli soal aspirasi politik di balik simbol tersebut

Seorang Perempuan Papua dengan Noken bermotif Bintang Kejora- Pasar Oyehe Nabire

Noken Papua dan Bintang Daud (Isreal) 

Menjadi pertanyaan khlayak adalah apa hubungan mereka dengan Israel? Apakah ada hunbungan politik antara Papua dan Israel? Ataukah Papua merupakan bagian dari Israel? Bagaimana mungkin? Ataukah ada hubungan ideologi Agama? Apa benar? Papua dikenal sebagai Kristen (mayoritas) sedangkan Israel adalah Yahudi? Bagaimana bisa?

READ ALSO  Nabire : Dulu Kota Singkong, Sekarang Jeruk Manis Plus Emas

Sejak beberapa tahun belakangan (sekitar 2009) simbol itu bintang Daud ( bendera Israel) muncul secara masif di Papua, terlebih khusus di kota Jayapura. Anak-anak muda banyak yang menggunakan kaos dengan gambar Bintang Daud, stiker bertebaran di mobil-mobil dan sepeda motor, poster dan pamflet kebaktian tak luput. Hingga spanduk-spanduk kampanye politik juga tak luput dari lambang yang menjadi panji Israel itu. Beberapa kali telah diselenggarakan seminar besar di Kota Jayapura tentang Israel, serta pawai anak-anak di jalan raya dengan membawa lambang Bintang Daud secara masif. Henri Myrttinen menyebutkan bahwa kemunculan bintang Daud itu bertepatan dengan serangan Israel ke Tepi Gaza (Operation Cast Lead) an munculnya ketakukan terhadap wacana Islamisasi di Papua, gejolak ini kemudian disusul dengan frekwensi kunjungan rohani (wisata rohani) orang Kristen di Papua ke Israel yang mereka sebaut sebagai ‘the holy land’ yang memiliki sebagais sebuah perbandingan yang tepat dengan istilah “Tanah Papua”.

Tentu fenomena ini dapat dipahami bahwa ada upaya-upaya dalam rangka mencari relasi-relasi antara Papua dan Israel. Kita sepakat bahwa orang Papua bukanlah orang Israel, namun ada masyarakt juga yang meyakini bahwa orang Papua adalah bagian dari orang Israel. Tentunya itu adalah upaya-upaya dalam membangun relasi geneologis antara orang Papua dan orang Israel. Secara teologis, orang Papua memaknai Israel sebagai ‘promised land’ dan ‘Tanah Papua’ juga diyakni sebagai the promised land.’ Orang Papua dan Israel menjadi orang-orang yang tergusur di tanah sendiri, seiring dengan wacans Islamisasi di Papua, Sehingga Israel bagi mereka adala sebuah simbol perlawanan terhadap dominasi Islam. Namun bagaimana dengan hubungan politik? Apakah Iseael mendukung aspirasi Papua untuk merdeka? Itu sulit untuk dikatakan. Saya belum pernah menemukan adanya pernyataan dukungan negera tersebut terhadap Papua Merdeka, dan Indonesia juga tidak memiliki hubungan diplomatic resmi dengan Israel. Kaluapun ada mungkin hanya orang-orang Israel secara personal atau lembaga-lembaga tertentu.

READ ALSO  Kehidupan di Kota Jayapura (2)

Lantas bagaimana dengan noken Papu, hasil rajutan permpuan-perempuan Papua berlogo bintang Daud itu? Bisa saja itu adalah eskpersi peralwanan dari kaum tertindas, namun saya cenderung melihat perempuan-permpuan itu hanya sebagai penjula kerajinan Papua yang mengambil untung dari wacana politik di Papua. Secera khusus terkait lambang bintang Daud di noken itu, cenderung untuk kepentingan pasar.