Malam minggu, hujan turun menjadikan jalan di sekitar Blok M Square basah, pada beberapa titik nampak air tergenang dan memberikan pantulan cahaya yang warna-warni dari lampu-lampu dari ruko-ruko, hingga tempat club karaoke yang berjejeran. Tak jauh dari tempat saya berdiri, sebuah cafe sangat padat dengan pengunjung. Iya, cafe itu bernama filosofi kopi, yang sempat menginspirasi dua film layar lebar. Saya sendiri belum pernah menonton dua film itu, yang katanya sangat inspiratif. Dalam suasana hujan yang cukup membuat kedinginan itu, terdengar suara-suara gadis -gadis berpakaian sexy, berdiri di depan cafe dan club memanggil, manggil orang-orang yang berlalu-lalang di depan tempat-karaoke yang tak jauh dari pandangan mata saya. Ada yang menggunakan sapaan ala Jepang.

Hujan masih masih terus turun, orang-orang di lobby Blok M Square pergi satu persatu meninggalkan tempat itu, hanya ada saya dan beberapa orang lagi yang masih berdiri, mengamati situasi, dan berharap hujan segera redah. Di kafe kecil itu masih nampak sibuk dengan anak-anak mudah yang masuk dan keluar. Saya cukup penasaran dengan kafe kecil itu, sehingga saya harus menabrak hujan, menyebrang jalan ke ruko di sebelah jalan, dan berjalan merapat ke  kafe itu. Nampaknya tempat itu terlalu sesak dengan manusia. Dari dalam hingga luar kafe, di tangga, hingga di sudut-sudut kafe, anak-anak mudah duduk menikmati kopi mereka, ngobrol dengan asyik dan ketawa. Saya tidak mendapat bagian tempat duduk, sehingga saya tidak bisa memaksa untuk masuk ke dalam kafe. Mungkin saya perlu datang lagi besok atau lusa bersama kawan untuk menikmati kopi di kafe ini.

Hujan rintik dari tadi bertambah sedikit deras, dan posisi di mana saya berdiri kurang nyaman, sehingga saya harus menyeberang ke gedung sebelah yang nampak memiliki teras yang lebih luas. Saat melalui beberapa klub dan tempat karaoke, saya diajak oleh beberapa gadis-gadis cantik yang berdiri persis di depan pintu, “ ayo karaoke bang !” . Demikian mereka mengajak saya, salah satu dari mereka bahkan memegang tangan saya dan mengajak masuk ke dalam. Saya hanya bisa menjawab menjawab “lain kali ya? Mungkin itu cara yang cukup baik untuk menolak ajakan mereka.

Di sini ada cukup banyak tempat karaoke, klub dan restoran karaoke ala Jepang berjejeran. Saya menyeberang jalan dan berdiri di sudut terus sebuah restoran, menunggu hujan redah sambil mengamati suasana di sekitar.  Mobil-mobil terus berdatangan, para ekspatriat jepang, dari anak-anak muda hingga orang tua, turun dari mobil, dan dijemput dengan payung oleh gadis-gadis di rumah karaoke yang berjejeran di situ. Ah, mungkin di suatu waktu saya akan mengajak kawan dan masuk untuk merasakan bagaimana suasana di dalam rumah-rumah karaoke dengan gadis-gadis cantik itu.

Setelah beberapa saat berdiri di sudut restoran itu, saya berjalan mendekati sebuah hotel yang cukup elegan, tiba-tiba saya disapa oleh seseorang yang belum saya kenal. “ saudara, mampir dulu di sini, masih hujan !” sapa laki-laki separuh baya itu. Dugaan saya, jika bukan orang dari Maluku, pasti orang dari Nusa Tenggara Timur sebab terkadang orang-orang timur memiliki klik yang selalu menjadikan mereka saling tegur dan sapa, meski tak saling kenal. Dugaan saya benar, laki-laki itu asalnya dari Flores. Ia bekerja sebagai satpam di hotel itu sudah cukup lama. Pria itu lalu mengajak saya untuk menikmati alunan musik instrumen klasik di hotel itu secara gratis, sambil saya menanyakan suasana dan kehidupan malam di Blok M yang dikenal orang sebagai little Tokyo itu.  Pria itu lalu bercerita tentang BLOK M, khususnya beberapa tempat massage dan spa yang ada sekitar Blok M. Ia juga berkisah tentang salah satu sahabat baiknya dari Papua, dimana mereka dulunya bekerja bersama, susah dan senang bersama, namun, kini sahabatnya itu, telah mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik di sebuah kapal, dan mereka sudah tak bisa saling kontak lagi. Kami bercerita cukup lama hingga hujan redah dan saya pamit untuk pulang. Meskipun demikian, saya sebenarnya saya masih belum ingin pulang, saya ingin menyusuri sisi-sisi yang dalam di Blok M sebagaimana diceritakan tadi.

Mau Coba Massage dan Spa?

Beberapa puluh meter di depan ada sebuah warung dan gerobak sate dan lontong, tampak dari kejauhan si penjual sate sedang melayani seseorang yang membeli satenya. Saya berjalan mendekati penjual sate itu dan memesan satu porsi. Di sebuah bangku di depan warung, saya duduk sambil mengunyah sate ayam, nampak empat orang anak muda, keluar dari sebuah tempat massage and spa. Wajah mereka ceria, tersenyum sambil ngobrol dan tertawa, mereka nampak santai,  salah satu dari mereka mengeluarkan rokok dari saku dan menyulutnya dengan korek api. Wajah mereka cukup enjoy dan menikmati massage dan spa di tempat itu. beberapa saat kemudian, nampak seorang bule, entah dari negara mana, dengan celana pendek dan kaos oblong, menyerobot masuk ke dalam tempat massage dan spa itu. Saya jadi penasaran apa sebenarnya yang ada di dalamnya, meskipun sangat ragu untuk masuk.

Saya memberanikan diri untuk masuk ke dalam tempat massage and spa itu. Di ruang depan itu, ada dua orang gadis yang bekerja sebagai resepsionis, sedang melayani dua orang pelanggan yang hendak membayar tagihan mereka. kedengarannya biaya yang ditagihkan dua pria itu masing-masing lima ratus ribuan. Tidak tahu persis apakah itu jasa massage saja atau ada penambahan lain, seperti minuman atau makan. Sedikit gugup, saya dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tengah, dengan cahaya lampu yang redup. Saya sedang membayangkan apa yang akan terjadi, dan bagaimana saya harus menghindar.  Di depan saya, ada seorang anak mudah, berkulit hitam, kemungkinan dari bagian Timur Indonesia. Tak lama kemudian, seorang pria mudah berbaju putih dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi, datang dan duduk pada sofa di sisi kiri saya. Di tangannya, ia memang sebuah tablet android, sebuah bolpoin dan sebuah buku kecil. Pria itu kemudian berbicara dengan nada yang sedikit rendah, menuliskan angka di buku kecil itu, 380.000,- dan 550.000,- . Ia kemudian menjelaskan kepada saya maksud kedua angka itu. Intinya, Masing-masing memiliki layanan yang berbeda.  Harga itu telah termasuk layanan massage dan kamar. Perbedaannya ada pada jenis kamar yang dikehendaki. Pria itu lalu, membuka layar tabletnya dan menunjukan wajah-wajah para terapis yang tersedia untuk dibooking. sekedar iseng, saya bertanya kepada pria berbaju putih itu, ‘mana yang bisa direkomendasi untuk massage?,” sambil memikirkan bagaimana saya bisa keluar. Ia lalu menunjukan tiga gambar wajah yang ada dalam tabletnya, namukan katanya, yang satunya telah dibooking. Sambil menjelaskan kemampuan para terapis yang ada di dalam tabletnya itu, Ia lalu meminta saya untuk boleh memilih salah satu dari dua yang direkomendasikan, atau boleh yang lain. Saya mengatakan kepada pria itu bahwa saya masih menunggu teman, jadi nanti saya kabari lagi, jika teman saya sudah tiba, saya akan kabar (sambil memesan  satu botol coca cola). Pria itu lalu mengatakan ‘oke ditunggu ya”, lalu bangkit dari sofa dan menghilang dari pandangan saya, mungkin ke ruangan yang lain. Saya berdiri dari sofa itu, menuju kasir dan membayar satu botol coca cola dan berjalan keluar ruang yang redup itu.