Travel StoryYogyakarta

Celoteh Senja di Pantai Parangtritis, Yogyakarta

Desiran angin laut begitu kencang membawa gelombang dari laut lepas menghempas bibir pantai, meningalkan buih-buih putih di atas pasir, burung-burung camar beterbangan, bermain ceria di atas buih-buih ombak. Memang agak sedikit kasar angin menghempas wajah-wajah ceria di pantai hari ini hingga menggetarkan tiang-tiang perahu nelayan yang berjejeran di pantai. Laut hari ini mungkin agak marah seolah tidak menginginkan kehadiran kami di pantai hari ini, sejak pagi memang cuacanya kelihatan mendung dan sepertinya akan turun hujan. Tetapi setelah memperhatikan hembusan angin yang begitu kencang, menggerakan awan dari arah selatan ke utara usai membeli tikcetnya tadi pagi di stasiun Tugu Jokjakarta, ku memastikan bahwa kemungkinan besar hujan tak akan turun. Kami akhirya menuju ke sini, di Pantai Paris, Paris van Jokja alias Pantai Parangtritis 30 kilometer arah Selatan Jokjakarta.

Kini Kami tiba di Pantai Parangtritis sekitar satu setengah jam yang lalu setelah kupacu sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 60km/jam, sedikit hujan gerimis sempat mengguyur kami ketika tiba di pertigaan jembatan Sungai Opak yang bermuara di pantai Parangtritis. Sepeda motor ku belokan ke arah kanan Pantai Depok. Tinggal beberapa langkah lagi kami akan capai bibir pantai,  tetapi ketika tiba di pos pembelian tiket masuk, hujan pun deras, kami terpaksa berhenti sebentar. Beberapa saat kemudian hujan redah, ku nyalakan motor dan kami pun masuk ke dalam areal parkir.

Sambil menunggu hujan gerimis benar benar redah, kamu berdua menuju ke tempat pelelangan ikan, kami memilik dua ekor ikan kakap merah, setelah ditimbang dan ku bayar, ada seorang ibu yang menewarkan jasa untuk membakar ikan kami di warungnya sekaligus santap di sana. Sedikit aku menatap gadis cantik yang berada di sampingku ini, dia menganggukkan kepala tanda setuju. Aku lalu menyerahkan kantong plastik hitam berisi dua ekor ikan kakap merah kepada ibu itu lalu kami pun menyusul dia ke warungnya.

Tidak begitu banyak orang yang ada di warung itu, mungkin karena cuaca yang agak mendung beberapa hari belakangan ini, hanya ada sepasang kekasih yang lagi menikmati santap siang sambil ngobrol, bercanda dan tertawa. Pastinya mereka bukan berbicara tentang politik Indoneaia yang amburadul hari ini, membicarakan tentang pembantaian di Palestina, atau mungkin berbicara tetang Timnas Sepakbola Indonesia yang kalah semalam ditaklukan Harimau Malaya 3:0 di Malaysia. Di sini memang tempat yang cukup indah untuk memaduh kasih. Ah, Kemungkinan saja mereka sedang berbicara tentang cinta mereka,tentunya hanya mereka berdua yang tahu persis.

Aroma ikan kakap bakar kecap, benar-benar menusuk batang hidungku, menggugah selera makanku begitu disajikan di atas meja. Meja yang diletakan di atas lantai setinggi dada ketika duduk bersila, duduk makan berisila seperti ini sudah menjadi traidisi orang di Jokjakarta, hampir setiap warung menyediakan meja berukuran kecil seperti halnya gaya minum teh atau makan dalam tradisi orang Jepang. Dia menimbah nasi ke dalam piringku, ini hal yang jarang ku temui, jika ku coba menghitungnya kali ini baru dua kali terjadi dalam hidupku. Kami menyantap dua ekor ikan kakap merah itu dengan sebakul nasi hingga habis dan perutku terasa barat kekenyangan.

READ ALSO  Kaki Lima di Kereta Eksekutif

Hujan sudah redah, matahari nampak bersinar cerah, orang-orang sudah ramai menuju ke pantai. Kami pun bergegas ke pantai setelah membayar jasa ibu tadi yang telah membakar ikan kami dan menyediakan hidangannya. Oran-orang begitu ramai, ada yang membawa keluarga dengan anak-anak kecil yang berkejaran dengan obak yang menyapu bibir pantai. Ada sekelompk gadis gadis yang berjalan sepanjang pantai, ada juga yang bersama kekasih mengahabiskan sisa hari mereka bercanda dan bercumbu mesra di atas pasir seakan tak peduli orang-orang di sekitarnya. Hmm, aku melihat dia tersenyum ceria, pasti dia senang, dengan kamera sakunya, dia memotret dan merekam aktivitas orang-orang di pantai. Sesekali aku membidik kameraku ke wajahnya yang manis. Kami berdua berjalan menyusuri garis pantai, memandangi sisa buih-buih ombak di atas pasir dan kepingan bunga warna-warni yang terdampar di atas pasir. Sesekali aku memandangi wajahnya dengan senyum tipis dan memang aku iri melihat wajahnya yang halus dibelai kasar oleh angin.

Hari semakin siang, matahari bertambah terang, orang-orang semakin banyak berdatangan di bibir pantai. Iya, hari ini juga akan digelar upacara “sedekah laut” oleh nelayan di sini. Upacara ini selalu dilaksanakan setiap tahun dan diadakan oleh masyarakat pesisir pantai selatan sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Yang Maha Kuasa atas limpahan rahmat, karunia, keselamatan selama masyarakat tersebut mencari nafkah di kawasan pesisir pantai maupun sebagai seorang nelayan yang mencari ikan di laut.  Mereka bisanya melakukan upacara ini pada setiap bulan Muharam atau bulan Syuro dalam kalender Jawa dan pasarannya pada hari Jum`at kliwon atau Selasa kliwon. Entah Mengapa mereka memilih hari dan bulan Muharam,  bulan Muharam merupakan bulan dimana umat Islam mengawali tahun kalender Hijriyah. Bagi orang jawa tradisional, hitungan bulan dengan pasaran kliwon memliki keistimewaan, bobot dan nilai bagi mereka. jika kita melihat kembali dalam tradisi Islam, ada banyak kisah dan keistimewaan Bulan Muharam. Di Iran, adalah hari istimewah kaum Islam Syiah sebagai hari Asyura setiap bulan Muharam untuk memperingati dan menghormati kematian heroik Hasan-Hussein, putra sahabat Ali Bin Abi Thalib. Bulan Muharam juga adalah bulan pengampunan, ini adalah salah bulan suci dalam Islam, dan satu-satunya bulan di mana umat islam dilarang berperang dan melakukan pertumpahan darah. Ah, tetapi mungkin saja mereka, nelayan pantai Selatan pulau Jawa memiliki nilai tersendiri dengan hari dan bulan yang mereka pilih.

READ ALSO  Hermenutika dan Fotografi

Kesibukan begitu nampak di salah satu rumah di tepi pantai mempersiapkan sesaji dan hiasan-hiasan serta bunga-bunga sebab sebentar siang pukul 02 siang upacara akan digelar. Saya sebenanrya sangat tertarik dan ingin menyaksikan bagaimana upacara itu dilaksanakan di laut dengan ombak yang begitu ganas hari ini. Hanya saja saya melihat dia tidak begitu tertarik dan suka dengan hal-hal seperti itu. Akhirnya aku mengajak dia menyusuri garis pantai ke arah utara, menuju gurun pasir.  Di samping jalan kami berhenti, lalu memarkirkan sepeda motor di sebuah pondok kecil lalu kami masuk menyusuri bentaran pasir yang membentuk gurun pasir.  Tempat ini bisanya digunakan untuk shooting film dan motret, ah, untuk sekarang ini kamu yang jadi bintangya dan aku  yang memotet. warga di sini juga bisanya melakukan tapa di tempat ini. Cukup indah tempat ini dengan gundukan-gundakn pasir yang membentuk gurun. Ini adalah proses alami, eoleon morphology, di mana  angin yang cukup kencang akan mampu menggelinding atau menerbangkan butiran-butiran pasir dalam jumlah yang banyak hingga membentuk gamuk atau tumpukan pasir  seperi ini, ada yang berbetuk parabolik, ada yang membentuk garis memanjang, ada juga yang membentuk bintang.

Wah indahnya, aku melihat dia tersenyum ceria, memandangi hamparan pasir yang luas dan bukit bukit serta curam. “Sungguh Indah” katanya. Ya “memang Indah, beberapa bulan yang lalu sebelum aku pindah ke Jakarta ,aku sering main ke sini, memotret sore hari sambil menunggu matahari terbenam,” jawabku. Aku memandanginya duduk begitu manis di atas hamparan pasir, dengan senyum yang tipis merekah di wajahnya. Sungguh aku merasakan getaran di dadaku semakin kencang,  tak akan ku biarkan momen ini berlalu begitu saja, beberapa frame gambar dari kemeraku ku bidikan ke wajahnya, wah, indah sekali. Aku melihat dia juga merekam keunikan gurun ini pasir kecil ini dengan kamera sakunya. Aku ingin menarik tangannya dan bersama mendaki ke atas bukit pasir, berdiri di atas berdua memamdangi sejauh mungkin ke pantai, mendengar deruan ombak yang memecah di tepi pantai, menatap sejauh mata memandang hamparan pasir yang luas. Ah aku belum mampu melakukan itu, tapi kemudian dia pun berjalan perlahan ke atas bukit di mana aku berdiri, kami bisa memandang sejauh mata kami memandang, ke pantai, ke gunung atau ke jalan raya dengan orang-orang yang sibuk lalu lalang.

READ ALSO  Cemara Cemara Cinta

Setelah cukup puas kami menikmati padang pasir dengan batu-batu kecil yang mengelilinginya, kami kembali melanjutkan perjalanan kami menuju pantai sebelah timur, ku pacu sepeda motor perlahan-lahan menyusuri jalan yang membentang sepanjang garis pantai. Lima belas menit kemudian kami tiba di pantai, ku langsung masukan sepeda motor di dalam sebuah rumah yang terletak di jalan kecil  yang menuju ke pantai. Selain lokasi parkir yang telah disediakan, warga di sekitar pantai ini juga menyediakan rumah mereka sebagai tempat parkir bagi para pengunjung dengan harga sekitar 4000 rupiah perjam. Kami lalu berjalan menuju ke pantai.

Pantai begitu ramai dengan pengunjung dan aktifitas mereka masing-masih. Aku melihat sepasang kekasih yang lagi bermesraan di tepi air, ada juga mereka yang bermain berkejar-kejaran di pasir, tidur-tiduran dan memotret. Mata kami terpaku pada parasut yang lagi melayang-layang di dudara. Ya, ada sekelompok orang penggiat olahraga paralayang dan terjun payung yang sedang melakukan aksi-aksi mereka di udara, dari ketinggian hingga mendarat di atas pasir. Ah, sungguh indah, aku melihat dia terbuai, “ wah keren” kata dia. “ ah, kamu mau,” tanyaku, . ah, ngga” jawabnya. Dari wajahnya aku liat sebenarnya dia pingin, tapi tidak mungkin dia bisa melakukan itu sekarang sebab terjun payung dan paralayang di sini tidak disediakan untuk umum. Aku lalu bertanya kepadanya “ eh, di puncak Bogor ada kan terjun payung dan paralayang?” “ iya, ada”jawabnya. “Hmmm, suatu saat nanti ku ajak kau terbang bersamaku sambil aku memotret keindahan kota dari udara.” “ he he he, dia lalu tertawa.

Matahari sudah condong ke Barat, sebagian orang mulai merapikan barang-barang mereka bertanda mereka akan meninggalkan pantai ini. Kami berdua berencana akan ke bioskop malam ini, berharap bisa bertemu film romantis di sisa-sisa waktu kami hari ini, mungkin  sperti Gone With the Wind,Dear John, Eat Pray love, Trilogi Twilight  Saga, P.S I Love You atau yang lainnya. Ah, Aku memandangi lagi laut  jauh ke batas horizon, hmmm, hari yang cerah setelah diguyur hujan sekejap siang tadi membersihkan sisa-sisa awan di atas horizon, sore nanti matahari pasti akan mekar, menyumburkan sejuta warna dipermukaan laut dan pohon-pohon di pantai ini, sayangnya kami harus menginggalkan pantai ini dengan anginnya yang terus bernyanyi sepanjang siang dan malam. Terima kasih sayang, sudah bersamaku hari ini, semoga kita tetap seperti angin yang terus bernanyi tak kenal henti.