Hampir setiap minggu pagi kita bersama menelusuri sungai ini, menyusuri  liku-liku air yang mengalir dari kaki gunung yang keluar dari celah-celah batu dan  pepohon. Saat itu, kau selalu berada di sampingku, kita berdua berjalan menyusuri tepi hutan di kaki gunung ini, memotret serangga, memotret warna-warni bunga-bunga liar yang tumbuh sepanjang sungai ini.
“ Kak motret bunga yang merah itu untuk aku.” Kuning yang itu juga, cantik sekali, aku mau !”
Aku ingat , saat itu matahari masih baru sejengkal di atas bukit, pohon-pohon, daun-daun  dan bunga-bunga masih basah oleh embun pagi dan kumbang-kumbang yang lagi beterbangan di atas bunga-bunga liar di tepi sungai itu. Kita berdua menyesuri pepohonan dan embun pagi memotret bunga-bunga yang akan mekar di situ, lalu kau memintaku memotret kembang merah, kuning, ungu, putih, juga kupu-kupu atau kumbang yang warna-warni untukmu. Kenangan itu sunguh indah, sejenak aku duduk dibawh pohon lalu melihatmu belajar memotret kupu-kupu dan bunga-bunga dengan kameraku, seskali kau memintaku memberitahu bagaiman cara memotretnya, hmmmm…. Aku rindu detik-detik itu bersamamu di tempat ini.
Tanpa janji jani, Di sinilah setahun yang lalu,Hati Kita Menyatu

Sejenak aku terpaku pada kisah di suatu senja, saat kita memakirkan sepeda motor di simpang jalan ini dan memamdang  ke arah matahari terbenam sana, menikmati pesona lembayung senja dari celah-celah pucuk  cemara. Kau memeluk ku dengan erat, lalu mengatakan,
“ Kak bawalah aku terbang setinggi mungkin, ke manapun kau mau”. Aku hanya mengatakan waktu itu “ Aku tak ada apa-apa De, mana mungkin aku bisa membawamu terbang tinggi.” Saat itu aku menatapmu dan kau hanya tersenyum lalu mengatakan “ Kakak bisa, kakak Pasti bisa.”
Terima kasih atas waktu yang telah engkau habiskan bersamaku.. Aku bersyukur bisa mengenalmu, meski tak begitu lama tetapi cukup banyak yang aku dapat darimu waktu itu dan berarti  sekali. Kau seperti telah menghidupkan kembali bara apiku yang hampir padam, saat aku berburu peluang demi peluang hingga aku  hampir menyerah lalu mencari kesibukan dengan memotret setiap hari , lalu suatu sore aku berkenalan denganmu di sudut kota favoritku jika ingin memotret matahari terbenam sore hari.
Alangkah sedihnya aku ketika aku kembali dan melihat semuanya telah sirnah, tepi sungai yang biasanya kita duduk berdua, bercerita, bercanda, sambil mendengar gemercik air yang mengalir dari celah-celah batu telah gersang, tempat bunga-bunga liar itu telah pupus. Kini hanya kutemui bangkai-bangkai kayu berserakan dengan tebing dan lereng-lereng bukit yang tandus. Wedhus Gembel telah menghapus semua jejak-jejak cinta kita di sini. Tak puas dia melihat orang senang, dari tahun ke tahun dia selalu menghancurkan dan membunuh jutaan cinta yang bersemi di sini sejak ratusan tahun silam.
Bingkai Bingkai Cinta itu pun kering, padahal aku pernah mengatakan bahwa “ aku akan kembali menemuimu.” Aku ingin membawamu terbang seperti apa yang pernah kau katakana. Aku mencarimu selama tujuh  hari dan tujuh  malam,  aku ke tempat-tempat kesukaanmu, aku ke sudutt kota di mana kita bersama sering menghabiskan sisa-sisa waktu, tapi tak aku temukan kau di sana.  Oh, Jika saja aku tak mungkin lagi membawamu terbang tinggi, maka aku hanya ingin berterima kasih kepadamu dan biarkanlkah cinta yang pernah terukir di atas dahan-dahan cemara, di liku-liku air sungai yang mengalir sepanjang kaki gunung itu, kering dan sirnah oleh waktu.