AsiaLembah BaliemPapua

Dari Cerita Perang Suku ke Kisah-Kisah Romantis

Bermain Pikon- alat musik tradisional orang Dani di pegunungan Jayawijaya, Papua

Salah satu alasan kuat Papua dikenal orang selain sumber daya alam yang berlimpah, keindahan panorama dan kemahalan di Papua adalah konflik. Tidak hanya konflik politik, tapi juga perang antar suku yang terus-menerus disebarluaskan lewat saluran TV, Koran dan sebagainya, telah ikut mengenalkan Papua dengan budayanya kepada dunia dan masyarakat Indonesia secara khusus, meskipun dalam bingkai yang seram, keras dan ganas. Pada sisi yang lain, kehadiran kemera TV di tengah kerasnya perang-perang antar suku di Papua juga turut menggairahkan perang-perang suku itu sendiri, seakan mereka sedang dibingkai dalam film ala Hollywood. Tak jarang orang yang masih terus bertanya soal manusia kanibal di Papua atau bertanya soal seramnya perang-perang suku di Papua.

Ketika perang antar suku itu ditayangkan di saluran TV, sebagian orang memandang itu dengan kengerian atau bahkan kekolotan. Namun, tak sedikit pula orang yang penasaran dan tertarik untuk menyaksikan perang-perang itu, mereka ingin lebih dekat dan mengenal budaya perang itu sebagai keunikan budaya Papua. Jangankan perang-antar suku dengan panah dan tombak, ledakan bom oleh teroris bahkan menjadikan orang-orang penuh penasaran itu bukan pergi menjauh, namun justru berbondong-bondong datang mendekat. Sungguh nyata bahwa ledakan bom ataupun perang sekalipu tetap memiliki daya tarik yang luar biasa, demikian juga dengan perang antar suku di Lembah Baliem Papua. Daya tarik tradisi perang antar suku di Lembah Baliem itu kemudian dibaca oleh Pemerintah Kabupaten Jayawijaya sejak 1989, dan mereka berhasil secara perlahan-lahan mengubah wajah seramnya perang antar suku di Lembah Baliem itu menjadi ajang pelestarian warisan budaya, sekaligus mendekatkan budaya warisan leluhur kepada generasi muda. Festival Budaya di Lembah Beliem itu perlahan juga telah merubah presepsi keseraman dan kerasnya budaya Papua menjadi atraksi budaya berkelas dunia di tengah hiruk pikuk budaya moderen.

READ ALSO  Kehidupan di Kota Jayapura (2)

Tahun 1989 adalah pertama kalinya Festival Budaya Lembah Baliem digelar, dan mata dunia telah perlahan meliriknya. Perang antar suku Dani, Lani dan Yali yang dulunya adalah ajang unjuk kekuatan antar suku, simbol keperkasaan suatu suku, kini bertarnsformasi menjadi lambang kesuburan dan kemakmuran Lembah Baliem, dan menjadi festival tertua di seantero Tanah Papua. Festival Lembah Baliem telah memberi kesan baru tentang keunikan Papua dari Lembah Balliem, yang bisa dinikmati oleh siapa saja secara langsung atau ikut mengambil bagian dan merasakan sakralnya budaya perang, warisan leluhur Lembah Baliem. Di sana tidak hanya dipertunjukan tradisi perang antar suku, tetapi tradis-tradis masa lalu juga ditampilkan termasuk karapan babi, seni memainkan pikon, witawo dan lempar sage.

Memang sejak awal digelar Festival Budaya Lembah Baliem , tak banyak diminati oleh wisatawan domestik, melainkan dari manca negara, itupun tidak banyak. Hal ini mungkin karena tak mudah untuk menjangkau Lembah Baliem. Butuh perjuangan keras dan biaya yang sangat tinggi. Selain itu, kebanyakan pandangan masyarakat Indonesia masih terbingkai dalam kengerian dan kerasnya budaya di Papua.

Namun, sejak awal digelarnya Festival Lembah Baliem, pemerintah terus konsistensi dalam menyelenggarakannya setiap tahun. Kini, festival tahunan ini telah menggaung ke penjuru dunia dan telah menarik ribuan wisatawan asing dan domestik ke Lembah Baliem. Festival itu kini telah menjadi buruan para fotografer professional dari Indonesia maupun dari manca negara. Mereka datang setiap tahun ke Lembah Baliem untuk menyaksikan dan membingkai keunikan Papua ini. Tidak hanya mereka, beberapa kelompok pelajar dari luar negeri memilih melakukan studi ke Lembah Baliem dengan tujuan utama melihat Festival Budaya Lembah Baliem, seperti yang dilakukan oleh sekelompok pelajar dari Australia yang mejadikan Festival Lembah Baliem sebagai destinasi dalam study tour mereka ke Indonesia.

READ ALSO  Pikkon; The Dani Indigenous Music

Festival-festival budaya yang memadukan keunikan budaya dan keelokan alam Papua terus tumbuh menggaung. Festival Danau Sentani (FDS) yang mengangkat keunikan 18 suku yang hidup di tepian Danau Sentani lewat seni dan tari mereka juga makin diminati. Festival Budaya Teluk Humboldt yang di digelar di pesisir Pantai Hamadi, teluk Hombboldt, juga menampilkan keunikan masyarakat pesisir dengan berbagai budaya, kreasi karya seni dan kerajinan mereka. Di bagian selatan ada fesitival suku Komoro yang menampilkan tarian Kasuari lengkap dengan pakaian perang suku Komoro. Dan yang tak kalah menarik adalah Festival Asmat, yang menampilkan keunikan orang Asmat dengan patung-patung kayu kreasi mereka yang telah mendunia. Mereka mempertunjukan kehebatan seni mengukir patung dari kayu tanpa sketsa.

Kebangkitan seni dan budaya Papua yang menampilkan keunikan-keunikan setiap suku di Papua  muncul dengan berbagai bentuk pegelaran festival seni dan budaya. Tak hanya itu, di beberapa daerah festival budaya telah dipadukan dengan pesona alam dan surga bawah laut, telah menyihir sirna kengerian, perang suku, konflik dan kerasnya budaya dan alam di Papua menjadi sepotong surga yang diimpakan oleh para petualang.

Eksotisme Lembah Baliem, Danau Sentani, Teluk Humboldt, Surga bawah laut di Raja Ampat dan Teluk Triton, Kaimana telah menaklukan mata dunia tentang Papua. Perlahan,  lembaran-lembaran baru tertata, cerita-cerita indah dan romantism di Papua mulai terangkai, tertata dalam benak setiap orang. Jiwa petualangan anak-anak muda makain bergairah, ingin pergi  mengukir selembar sejarah hidup mereka di Bumi Cenderawasih.

Akan tetapi, banyak dari para petualang yang harus menyimpan dalam-dalam impian mereka ke Lembah Baliem, ke Asmat, ke Raja Ampat, ke Teluk Triton dan lainya, dikarenakan tingginya biaya yang harus ditanggung. Bahkan, tak sedikit yang harus memutar haluan ke negeri seberang untuk liburan mereka. Bayangkan saja, perjalanan udara termurah Jakarta – Jayapura dan kota kota lainnya di Papua pada musim liburan bisa mencapai 5 juta rupiah untuk sekali jalan, belum termasuk biaya penginapan dan konsumsi yang juga tak kalah besarnya. Sementara ke Korea Selatan, atau Jepang yang jaraknya lebih jauh, 5 juta rupiah sudah bisa untuk perjalanan pergi dan pulang. Meskipun demikian, Papua masih selalu manjadi impian orang untuk berpetualangan sampai kapanpun

READ ALSO  Kehidupan di Jayapura, Papua

Kata kawan saya, “Jika Tuhan mengijinkan, sebelum mati saya akan berenang di Teluk Triton,”

Masa depan pariwisata Papua kini bergantung kepada infrastruktur dan aksesibilitas. Kesiapan infrastruktur dan akses yang mudah, akan turut menurunkan biaya transportasi ke Papua, dan turut mempengaruhi turunya tingkat kemahalan di Papua, sehingga akan mendokngkrak wisawatan domestik dan manca negara ke Papua. Bandara Internasional Frans Kaisiepo di Biak yang dulunya menjadi pintu gerbang wisatawan manca negara di Papua, namun ditutup, sudah seharusnya kembali dibuka. Dengan demikian para pelancong dari manca negara yang hendak ke Papua, tak perlu lagi melewati Jakarta atau Denpasar. Sehingga, waktu dan dolar mereka bisa lebih banyak di Papua, selain bisa memangkas ongkos transportasi mereka ke Papua.

Kesiapan masyarakat lokal juga harus terus dikembangkan agar tidak hanya sebagai penonton para pelancong, namun juga sebagai pelaku bisnis pariwisata di Papua. Festival Lembah Baliem, Festival Danau Sentani, Festival Teluk Humboldt, Festival Asmat dan Komoro, Sasi laut di Raja Ampat, Sasi Anggama dan Teluk Triton Kaimana, hanyalah beberapa dari budaya dan tradisi 300 suku bangsa di Papua, yang telah memberi perubahan besar bagi Papua, dan masih ada sekian banyak potensi lainnya yang terpendam dan perlu terus dieksplorasi dan dikembangkan untuk masa depan pariwisata di Papua, agar nantinya bisa memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat di Papua. Tidak hanya manfaat ekonomi, namun juga merawat warisan budaya leluhur untuk generasi masa mendatang.