Blog CornerIndonesiaTravel Story

Dari Tragedi Air Asia Hingga Pesona si Angsa Putih

Aksi Beriev -B200 menumpahkan air

Tragedi 28 Desember 2014 di selat Karimata menjadi salah satu dari luka rakyat Indonesia, dalam catatan buruk dunia penerbangan sipil di Indonesia. Entah siapa yang harus bertanggung jawab penuh atas peristiwa ini, apakah harus menyalahkan sepenuhnya kepada pihak Air Asia, pihak otoritas bandara, dan petugas ATC bandara, ataukah pemerintah juga turut memiliki andil dalam kecelakaan ini. Sejak diberitakan hilangnya pesawat naas itu, berbagai media televisi bertarung menjadi yang terdepan dalam menginformasikan kabar-kabar terbaru terkait hilangnya pesawat dengan kode penerbangan QZ8501, rute Surabaya-Singapura. Upaya-upaya pemberitaan itu di satu sisi sangat informative namun kadang mengabaikan soal etika dan santun dalam memberitakan kedukaan. Kadang pertanyaan reporternya pun ngawur, misalnya saja, ketika seorang reporter menanyakan keluarga korban , “bagaimana perasaan anda ketika mendengar berita ini? Apa harapan anda yang ikut dalam pesawat itu? reporter yang cerdas itu tidak perlu lagi menanyakan pertanyaan yang telah terjawab dengan sendirinya tanpa ditanya, atau tidak menanyakan pertanyaan yang secara langsung menambah kesedihan para keluarga korban. Wajar jika keluarga penumpang pesawat naas itu tidak menolak wartawan hadir dalam pertemuan mereka dengan pimpinan Air Asia.

Peragaan Penggunaan Peralatan Selam Kopaskal di TVRI

Sebagian stasiun TV mengalokasikan slot waktu yang cukup panjang untuk menginformasikan kasus ini lewat tagline berita “Breaking News”. Program berita terkini non stop hingga bisa sehari penuh, selama beberapa hari. Bukan tidak boleh, namun terkesan sedikit memaksa dalam pemberitaan, sebab ketika memperhatikan berita yang disampaikan, hanya mengulang-ulang pemberitaan sebelumnya. Untuk mengisi alokasi waktu yang panjang itu, stasiun TV pun menghadirkan berbagai pembicara, dari pilot, mantan pilot, pimpinan militer hingga penyelidik KNKT. Mereka diajak untuk berteori dan membangun asumsi-asumsi soal penyebab-penyebab jatuhnya pesawat tersebut, dan membuat rekayasa kronologis jatuhnya pesawat itu dengan ratusan penumpang di dalamnya. Tak luput menyoroti kemampuan pesawat, kepiawian sang pilot, cuaca hingga aturan main penerbangan dan berakhir pada kesimpulan-kesimpulan yang ambigua. Bukankah semua orang telah paham bahwa sebab-musabab jatuhnya pesawat itu baru bisa terungkap melalui data yang terekam dalam flight recorder. Sekedar mengobati rasa penasaran boleh, namun ketika kabar itu terus menerus dihembuskan, dugaan miring itu akan dipahami sebagai sesuatu yang benar adanya.

Peragaan Penggunaan Peralatan Selam Kopaskal di TVONE

 Di hampir setiap slot waktu yang disediakan, para pembicara yang diundang tak jauh beralih dari upaya-upaya media dalam mengungkap kronologis dan penyebab jatuhnya pesawat. Satu pembicara bisa menghabiskan waktu berjam-jam berada di studio pemberitaan TV dan berpindah dari satu stasiun ke stasiun TV lainnya untuk berteori yang sama. Namun, sepertinya media lupa bahwa Indonesia punya Mr. Cracker, Pak Habibie yang tersohor dengan teori thermodynamics dan aerodynamics, mengapa tidak diajak bicara . Dari setiap slot jam tayang, saya hanya menanti kapan Pak Habibie angkat bicara soal kecelakaan Airbus QZ8501 itu. Di dua statsiun TV yang selalu terdepan dalam pemberitaan kasus ini pun saya tidak menemuinya. Akan tetapi Jika beliau telah berbicara maka saya orang yang orang yang menyeal tidak mengikutinya , tapi jika belum maka saya berharap Pak Habibie bersedia, “ to say something about it”. Paling tidak saya juga bisa paham bagaimana jadinya jika pesawat sekelas Airbus berada atau menabrak awan colomunimbus, apa yang terjadi dengan badan pesawat? dan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa terjadi dengan badan pesawat. Lantas bisakah Indonesia memiliki pesawat yang tahan terhadap badai awan colomunimbus, tentunya Pak Habibie yang bisa menjawabnya. Mungkin ini akan sedikit mengobati rasa penasaran saya, daripada saya mendengar ulasan tentang kecanggihan pesawat Amphibi milik Rusia, helicopter Seahawk milik Amerika, dan peragaan-peragaan pakaian menyelam dan perlengkapannya di TV. Bukan tidak bermanfaat, namun tidak terlalu penting untuk diulas pada momen ini, apalagi sampai membawa pasukan dan perlangkapan menyelamnya di studio televisi. Masyarakat Indonesia sudah pasti bangga memiliki pasukan elit seperti Kopaskal, namun tidak penting untuk memperagakan penggunaanya di studi berita TV, bukan itu informasi yang ingin disaksikan pemirsa. Masyrakat justru menanti aksi sungguhan mereka di dalam air dalam operasi evakuasi pesawat Air Asia yang katanya berbenam dalam dasar laut, dan ingin menyaksikan bagaimana bangkai pesawat itu bisa dievakuasi beserta para korbannya.

Pesona Beriev B-200 Amphibi dan Keperkasaan Seahawk di Perairan Indoensia

Terlepas dari aksi-kasi luar biasa tim Basarnas, yang menuai pujian berbagai kalangan dari dalam dan luar negeri, hingga memasuki hari ke 10, masyarakat nampak mulai sedikit beralih chanel TVnya ketika terus menyaksikan pemberitaan yang tidak variatif, dan belum jelas terkait beberapa obyek yang telah teridentifikasi sebagai bangkai pesawat, meskipun belum berhasil diungkap secara jelas. Tim gabungan Basarnas, TNI, POLRI yang didukung dengan kapal-kapal dengan teknologi cangggih, milik Basarnas, TNI AL maupun kapal riset BPPT dengan teknologi canggih dalam memantau dasar laut, jutaan mata masyarakat juga sedikit terpesona dengan kehadiran pesawat amphibi Beriev B-200 Altair milik Rusia beserta tim selamnya, serta Seahawk, Si Rajawali Laut milik AS dalam operasi AA-QZ8501 di Selat Karimata

Tugas –tugas kemanusiaan selalu mengundang simpatik masyarakat dunia, hingga menembus segala batasan yang mangganjal, siapapun akan bersedia untuk mengulurkan tangan, dalam misi-misi kemanusiaan, termasuk mereka yang ada dalam tim gabungan Basarnas di Selat Karimata. Mereka bahkan dengan suka rela hadir dengan perlengkapan tercanggih yang mereka miliki dalam mempermudah operasi kemanusiaan. Ini tentunya tidak terlepas dari hubungan baik Indonesia dengan negara-negara yang ikut terlibat dalam operasi kemanusiaan AA-QZ8501. Salutasi yang tinggi patut diberikan kepada Basarnas yang dengan saksama membangun tim kerja yang solid, termasuk dua negara adi daya yang selalu memiliki hubungan pasang surut, mampu bekerja untuk kemanusiaan lewat komando Basarnas.

Dari operasi AA-QZ8501, sisi lain yang juga menjadi pemberitaan media dan perhatian masyarakat, termasuk saya adalah kecanggihan peralatan operasi yang digunakan dalam pencarian hingga evakuasi korban AA-QZ8501. Selain kapal Basarnas, TNI AL dan Kapal milik BPPT dengan teknologi sonar hingga penggunaan robot di dasar laut, menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia juga tidak kalah canggihnya dengan negara-negara lainnya di dunia. Selain itu, ketangguhan dan kemampuan tim penyelam Kopaskal yang juga dilengkapi dengan peralatan selam yang canggih turut menjadi salah satu kebanggaan dalam rasa duka yang mendalam. Ada rasa Indonesia yang kental di tengah hadirnya bantuan bantuan pihak asing dengan perlengkapan kapal dan pesawat di perairan Indonesia. Dari kehadiran bantuan negara-negara lain dalam operasi AA-QZ8501, harus kita akui bahwa selain misi kemanusian, ada terselip trik marketing yang sangat jitu dalam mempromosikan teknologi mereka kepada Indonesia, atau bahkan kepada dunia, sebab berita peswat Air Asia telah menyita perhatian dunia.

Bagi saya yang kurang paham soal strategi pertahanan, Si Rajawali laut (Seahawk) mungkin saja bisa menjadi incaran jitu dalam melengkapai peralatan pertahanan negara. Namun, si Angsa Putih, pesawat amphibi Beriev B-200 yang tampil mempesona itu, dan mengundang decap kagum, memiliki kesan tersendiri. Tak tanggung, sebagian orang ingin berpose dengan latar pesawat itu. Pesawat yang mampu melaju di udara dan di atas air bak angsa putih itu patut diperhitungkan dalam upaya memperkuat pertahanan negara ketika mempertimbangkan kondisi geografis Indonesia dengan ribuan pulaunya. Meskipun, dalam operasi kemanusian AA-QZ8501 masyarakat belum tahu persis apa kontribusi Si Angsa Putih itu dalam tim gabungan Basarnas dibandingkan Seahawk yang behasil mengevakuasi beberapa korban Air Asia.

Dengan kacamata yang agak miring, bagi saya target utama kehadiran Rusia dengan pesawat Beriev B-200 dalam misi AA-QZ8501 adalah untuk memperkenalkan Si Angsa Putih tersebut kepada Indonesia. Pemerintah Rusia paham betul kondisi geografis Indonesia dengan ribuan pulau dan selalu menjadi langganan kebakaran hutan yang sporadis setiap tahun, dimana Beriev B-200 memang di desain juga untuk itu. Apalagi dengan adanya komitmen pemerintah dalam memberantas illegal fishing di perariran Indonesia, patroli perbatasan dan sebagainya, Beriev B-200 nampaknya pilihan yang jitu untuk dilirik.  Rupanya kasus Sukhoi Super Jet 100 di Gunung Salak 2012 silam, tidak melunturkan ambisi Rusia dalam mengembangkan sayapnya dalam bisnis pesawat terbang di Indonesia. Namun, akankah Indonesia terpikat hatinya dengan si Angsa Putih, Beriev B-200 milik Rusia, kita tunggu saja !