Blog CornerKaimanaTravel Story

Guru antara Profesi atau Pekerja: Cerita Perjalanan dari Kaimana

Ilustrasi

Ilustrasi from clipartsbest.com

Matahari baru saja lepas beberapa jengkal di balik gunung, rumput dan dedaunan sepanjang jalan masih basah oleh embun. Pagi ini terlihat gerombolan kecil anak-anak berseragam putih merah, beberapa di antaranya tidak beralas kaki. Bersama ceria pagi, berjalan menuju sekolah.

Saya jadi terkenang masa-masa kecil, berangkat sekolah, dengan berjalan kaki dalam lumpur yang cukup dalam, berjalan sambil melompat kecil-kecil mencari celah yang kering di tengah lumpur. Kini jauh berbeda, anak-anak hari ini tidak lagi khawatir jika pakaian seragama mereka akan kotor karena lumpur sepanjang jalan menuju sekolah, atau karena tergelincir dan jatuh dalam lumpur. Jalan utama di kampung ini kini telah beraspal dan memiliki trotoar dan dengan ceria anak-anak itu berjalan dengan santai menuju sekolah.

Saya yang tadinya duduk di teras rumah, kemudian bangkit dan berjalan ke arah jalan utama, mendekati anak-anak itu, mereka lalu memberi salam ‘ Selamat Pagi Kak ! ah… ! Dulu saya juga melakukan hal yang sama, mengucapkan salam ketika melewati orang di jalan waktu ke sekolah, atau ketika pulang dari sekolah, dan memang kami diajarkan guru untuk selalu memberi salam kepada siapa saja ketika bertemu di jalan. Ah, sepertinya, kini hal seperti itu telah jarang ditemui lagi, menjumpai anak-anak sekolah di jalan memberi salam kepada orang yang dilaluinya di jalan sewaktu berangkat atau pulang dari sekolah. Memandangi anak-anak itu, tentu terkenang nostalgia masa kanak-kakak bersama, sahabat-sahabat kecil dulu. Sambil berjalan menuju dermaga kecil di kampung itu, saya terkenang lagi masa SD dulu di sini.

Namun, beberapa saat kemudian saya melihat anak-anak itu tengah berjalan kembali. Ada di antara mereka yang masih lengkap mengenakan pakaian seragamnya, ada yang telah melepas baju seragamnya dan diletakan di pundak. Saya kemudian berjalan mendekati mereka. Sebelum mereka memberi salam, saya sudah duluan bertanya kepada mereka, kenapa kalian tidak kembali? Lalu beberapa anak langsung menjawab, ‘tidak ada guru Kak.” Saya jadi heran, memang tidak ada lagi satupun guru di sekolah? Saya lanjut bertanya kepada anak-anak itu. ‘ Ada ibu xxxxx tetapi, tidak masuk, kepala sekolah juga tidak ada, kata salah satu anak yang telah melepaskan baju seragam dan meletakan dipundaknya. Saya masih tidak yakin, bagiamana mungkin SD yang dulunya begitu ramai, SD tempat dulu saya bersekolah adalah SD yang paling banyak siswanya, gurunya, dan bahkan mungkin SD yang paling baik dari seluruh SD di Kecamatan itu, SD itupun berada di ibukota kecamatan.

Jelang sore harinya saya lalu pergi ke rumah salah satu saudara perempuan saya, yang tidak jauh dari rumah kami. Mungkin dia satu-satunya ibu guru yang dimaksudkan anak-anak tadi. Saya ingin mengkonfirmasi berita dari anak-anak tadi. Dan ketika saya mengkonfirmasikan informasi dari anak-anak tadi, ternyata benar. Menurutnya, bahwa dia hanya satu-satunya guru honorer yang masih ada di sekolah itu saat ini, sedangkan guru yang lainya, termasuk kepala sekolah, sudah tidak lagi ke sekolah. Mereka semunaya berada di kota (Ibu kota Kabupaten). Saya tidak ingin lagi bertanya lebih jauh, sebab saudara saya itu telah marah-marah, karena kesal dengan guru-guru di SD itu. Bagi saya, ini sangat memprihatinkan, sekaligus lucu, sebab seharusnya Kaimana yang dulunya kecamatan dan kini telah berubah status menjadi kabupaten, seharusnya lebih baik lagi dari yang dulu dan hal seperti ini tidak harus terjadi.

Di SMP, tempat dulu saya sekolah, ada mengalami sedikit perubahan dari fasilitas pendukung, berupa komputer bahkan internet program Depkonminfo terpasang di sekolah itu. Selama di sana saya memang kehausan mengakses internet, melihat email dan sebagainya ketika berada di kampung. Lalu saya berjalan menuju SMP, sekolah dimana saya dulu belajar untuk mencoba mengakses internet. Tetapi ternyata internet tersebut menggunakan tenaga surya (solar cell), yang pada akhirnya tidak bisa beroperasi. Saya akhirnya pulang ke rumah dengan menyesali fasilitas yang tidak berfungsi itu. Alangkah menyedihkan lagi, sekolah itu dari fisik bangunan nampak rapuh seperti, sepertinya, hanya warna cat yang terus perbaharui.

Selama di sana, saya pernah bertemu atau berpapasan dengan beberapa guru, namun nampaknya sebagian dari mereka kurang bersahabat dan kurang bersosialisasi dengan masyarakat setempat.. Ketika saya berkelakar dengan beberapa anak-anak muda di kampung itu tentang guru-guru baru itu, mereka mangatakan memang ada sebagain yang demikian. Tetapi ada juga beberapa orang guru yang memang cukup dekat dengan anak-anak muda dan juga masyarakat kampung tersebut termasuk kepala sekolah SMP itu.

Sudah hampir dua minggu saya berada di kampung, meskipun masih banyak yang ingin saya amati, saya dibatasi oleh waktu izin saya. Saya kemudian melihat jadwal kapal,. Ada kapal kayu perintis yang disiapkan pemerintah untuk menghubungkan masyarakat kampung dengan kota setiap satu minggu sekali. Dua hari kemudian kapal kayu itu tiba, saya bersama Ibu berangkat ke kota. Di atas perintis itu, saya melihat ada begitu banyak anak-anak yang ingin ke kota, dan sudah pasti mereka tidak sekolah sebab ini bukan waktunya libur. Saya lalu mendekati mereka dan bertanya pada beberapa anak di atas kapal itu, agak sedikit marah. ‘Kenapa kalian tidak sekolah dan mau ke kota? Anak-anak itu nampak terdiam seketika mendengar nada suara saya yang agak tinggi. Lalu salah satu dari mereka mengatakan’ habis tidak ada guru juga di sekolah. Terus kalian mau ke kota buat? Mau cari guru? Dengan nada yang masih tinggi, saya menantang anak-anak itu. Tidak Kak, jawab salah satu dari mereka. Salah satu dari mereka justru mengatakan ‘cari guru buat? epen ka? (Jargon lokal Papua: Epen ka = emang penting ka?). Saya lalu berjalan meninggalkan mereka, menuju geladak kapal, memotret aktifitas masyarakat di atas kapal sambil sesekali menjepret pemandangan alam sepanjang perjalanan.

Setelah beberapa hari berada di Ibu Kota Kabupaten, saya bertemu dengan seorang guru senior dari SD yang saya maskudkan di sini. Sekedar saya bertanya tentang aktifitasnya di kota serta sekolah di kampung bagaimana. Dia lalu mengatakan bahwa SD di kampung memang tidak ada guru, guru-guru honorer semua meninggalkan sekolah karena sudah beberapa bulan honor mereka belum dibayarkan, sehingga guru yang lain pun meninggalkan sekolah sebagai bentuk solidaritas terhadap teman mereka. Saya hanya mengerutkan dahi, mendengar jawaban dan penjelasan guru senior tersebut yang adalah kepala sekolah SD yang saya maksudkan dalam tulisan ini, dan juga mantan guru saya dulu. Dan kata guru tersebut dia ingin beralih dari pengajar ke tenaga administrasi pada Dinas Pendidikan di Kabupaten. Ah, sepertinya beralih dari profesi mengajar ke tenaga administrasi cukup menarik apalagi beralih ke Dinas Pendidikan dan tinggal di ibukota kabupaten, kemungkinan lebih menjanjikan. Satu sisi saya berpikir mungkin wajar bagi guru senior yang sudah cukup lama mengabdi di sekolah, dan ingin mencari suasana baru. Namun hal itu tidak hanya terjadi pada guru-guru senior melainkan guru-guru junior yang baru saja menyandang profesi sebagai guru. Sisi yang lainnya juga, seharusnya guru senior bisa lebih mampu memotivasi dan menguatkan guru-guru muda tentang profesi mengajar.

Ah, kota memang memiliki daya tarik yang kuat, tidak hanya bagi guru-guru muda dan pegawai-pegawai lainnya, selain orang-orang kampung, terlebih lagi anak-anak muda. Tetapi jika semua orang ingin di kota, lalu siapa yang mengajar di kampung? Akibatnya, anak-anak sekolahpun berhamburan ke kota untuk waktu yang tidak menentu. Di satu sisi aksi meninggalkan tugas mengejar sebagai bentuk solidaritas yang mereka lakukan ada benarnya, tetapi imbasnya anak-anak tidak bersekolah dengan baik.

Good Old Days - Guru Dulu dan Sekarang Beda

Orang mungkin mengatakan jika membandingkan guru dulu dan sekarang adalah membandingkan dua jaman yang berbeda. Benar jaman memang berbeda tetapi saya bisa mengatakan bahwa guru dulu lebih berhasil mendidik anak mereka di kampung dibanding guru jaman sekarang. Saat ini boleh saya katakan bahwa secara umum tingkat pendidikan guru saat ini lebih baik dari yang pernah ada dulu, guru-guru di sekolah SD saat ini hampir semuanya memiliki gelar sarjana, minimal Diploma Dua. Awal tahun 2000 pemerintah lokal banyak bekerjasama dengan berbagai universitas di Indonesia menyelenggarakan program pendidikan guru SD dan SMP, dari tingkat Dpiloma Dua (D2), Diploma Tiga (D3) hingga Sarjana Starata Satu (S1), dan telah menghasilkan begitu banyak guru-guru, sarjana. Tentunya secara kualitas bisa dikatakan jauh lebih baik. Mereka tentunya lebih baik secara administrasi, perencanaan pembelajaran, mengajar dengan metode-metode lebih baik dan melakukan evaluasi dengan berbagai model, jika dibandingkan dengan guru jaman dulu.

Tetapi pendidikan dalam hal ini mengajar, itu tidak cukup menjadikan siswa lebih baik. Mengajar itu berbeda dengan mendidik. Dan motivasi mendidik itu yang tidak dimiliki oleh kebanyakan guru jaman sekarang di kampung. Mereka boleh hebat secara teknis dalam desain materi belajar, mengajar dengan metode yang bervariatif serta bisa mengevaluasi belajar dengan berbagai cara. Tetapi jika ada siswa yang malas sekolah, siswa yang memiliki masalah keuangan, memiliki masalah dengan kemajuan belajar, mereka tidak peduli dengan itu. Ada ungkapan yang lazim oleh guru bahwa

“Terserah kalian, mau sekolah atau tidak, belajar atau tidak, yang penting tiap bulan saya menerima gaji.”

Ungkapan ini saya sering mendengarkannya, bahkan saat saya SMA, saya sering mendengarkan seorang guru mengungkapkan pernyataan tersebut. Jika prinsip ini masih tetap dipegang maka sampai kapanpun, anak yang malas sekolah, yang dianggap bodoh di kelas, akan tetap seperti itu.

Hal yang lain adalah bahwa guru hari ini, kurang memiliki kecakapan sosial, dalam hal bersosialisasi dengan masyarakat, dengan siswa dan secara khusus dengan orang tua siswa. Mereka lebih memilih di kelas, di meja kerja dan rumah mereka. Padalah kata para pemikir-pemikir pendidikan, bahwa pendidikan itu investasi, tetapi bagaimana mungkin investasi itu bisa terjadi, jika kepercayaan tidak dibangun, antara sekolah, guru, orang tua siswa dan masyarakat secara umum. Masih terekam betul di benak saya, bagaiman guru-guru jaman saya SD dulu menangani anak-anak yang malas sekolah dan lebih memilih main ke pantai, berenang, ke hutan, ke dusun bersama orang tua dan lain-lain sebagainya. Guru-guru tersebut mendatangi orang tua mereka, ketika seorang anak tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Bercerita dengan orang tua, tentang anak tersebut, sekaligus memberi pemahaman terhadap orang tua tentang masa depan anak-anak. Sehingga di sini terbangun sebuah kepercayaan yang kuat antara orang tua dan guru, bahkan saat itu orang tua tidak segan-segan mengatakan ‘jika anak saya di sekolah malas, atau malawan, pukul saja’ (meski saat ini sudah dilarang). Tetapi ini sebuah indikasi tentang kepercayaan yang kuat dari orang tua terhadap guru dan juga sekolah. Hal ini yang sulit ditemukan pada guru-guru jaman sekarang, apalagi di kampung.

Pemerintah lokal (Papua) cukup memahami masalah ini sehingga merekrut guru-guru lokal, dengan salah satu maksud akan mengembalikan guru-guru tersebut ke tempat dimana mereka berasal. Namun hingga saat ini, masih belum mampu, bahkan melenceng dari tujuan tersebut, sebab mereka telah merasakan nikmatnya hidup di kota, mereka justru kembali melupakan profesi mereka sebagai guru, dan sebagai pendidik. Dan ini bisa terjadi karena tidak adanya motivasi yang kuat untuk menjadi tenaga pendidik. Lalu mengapa guru-guru jaman dulu bisa begitu betah tinggal di kampung bersama masyarakat, hingga dua sampai tiga bulan tidak menerima gaji dan jatah beras, dari mana mereka bisa makan, maka kembali lagi kepada motivasi dan sosialisasi tadi. Guru jaman dulu di kampung, di beri tanah untuk berkebun, disuport bahan makanannya oleh orang kampung, bahkan orang kampung membangun rumah untuk guru.

Kurangnya motivasi dan kecakapan sosial ini menjadi dua hal fundamental yang menyebabkan guru malas ke kampung untuk mengajar, apalagi di kampung tidak memiliki hiburan yang banyak seperti di kota sebagaimana mereka pernah menikmatinya selama kuliah di kota, dan kurangnya kecakapan sosial ini bisa mengakibatkan seorang guru bisa mati kelaparan di kampung, atau justru dihajar orang kampung karena memukul siswa di sekolah, dan lari meninggalkan pekerjaan. Berbeda dengan guru jaman saya dulu SD “hajar saja anak saya kalau macam-macam di sekolah!” kata orang tua di kampung.

Dalam lingkup yang lebih besar, malas mengajar, apalagi ke kampung, serta malas tahu dengan kemajuan belajar siswa, saya melihat ada terjadi perubahan orientasi dari pekerjaan seorang guru sebagai profesi menjadi hanya sekedar pekerja yang digaji pemerintah. In jelas terlihat, orang berbondong-bondong melamar menjadi guru, menurut saya bukan karena keterpanggilan profesi, tetapi karena adanya pekerjaan yang disiapkan oleh pemerintah, bagi mereka mendapatkan pekerjaan (PNS) adalah hal yang utama agar bisa menghidupinya, dan ketika akan ditempatkan di kampung, maka keberatan-keberatan akan diajukan dengan berbagai alasan, atau menerimanya tetapi dalam waktu yang tidak terlalu lama, akan mengajukan usulan pindah tempat tugas ke kota, dengan berbagai alasan. Ini bisa terjadi juga karena adanya perubahan besar dalam paradigma pendidikan dunia yang merasuki jiwa pendidikan di Indonesia. Pendidikan selayaknya adalah menciptkan kebebasan orang berpikir dengan dan bebas berkreasi, namun pendidikan saat ini cenderung menjadi pabrik yang memproduksi tenaga kerja, ke berbagai lembaga, yang pada akhirnya, keberhasilan pendidikan diukur dengan berapa besar lulusan sebuah universitas diserap oleh dunia kerja. UW