AsiaJapanPeople & CulturePlace to GoWest Japan

Harae (祓) ; Ritual Penyucian Jiwa di Kuil Jepang

Harae (祓) ; Ritual Penyucian Jiwa di Kuil Jepang

Ikuta Shrine

Ikuta Shrine dan Tradisi Pagi Orang Jepang

Hari masih pagi, saya keluar dari hotel tempat saya menginap yang tidak terlalu jauh dari jalan raya. Udara terasa adem sekitar 15-16 derajat celcius. Jalan raya telah ramai, di dua sisi trotoar warga berlalu lalang, ada ynag berjalan agak santai, ada juga yang berjalan tergesa-gesa, hingga kesibukan kota pagi itu terasa sekali. Tujuan pertama saya pagi ini adalah menikmati suasana pagi di Ikuta Shrine 1 Chrome 2-1 Shimoyamatedori, Chou Ward, Kobe- Hyogo perfectura.

 Mengunjungi kuil Jepang adalah hal baru bagi saya, belum pernah saya mengunjungi kuil Jepang dalam petualangan saya selama ini. Ketika tiba di sana, seketika saya beridir di depan gerbang masuk dan mengagumi keindahan karya seni dan budaya astiketur Jepang yang hingga hari ini masih kental. Orang masuk dan keluar, anak-anak sekolah, orang tua, para profesioanal, masuk dan keluar dari kuil itu. Dentuman gong di terus berbunyi bertanda orang sedang memanjatkan doa kepada sang penguasa.

Harae (祓), Ritual Penyucian Jiwa

Perlahan saya melangkah masuk, mendekati sebuah tempat di mana air terus mengalir dari sebuah beberap pancuran, di situ nampak warga membasuh tangan mereka, untuk membersihkan jiwa mereka sebelum masuk ke dalam kuil untuk berdoa. Jika boleh saya gambarakan prosesi ini seperti melakukan wudhu dalam agama Islam. Saya berdiri beberapa lama dan mengamati cara mereka menyucikan diri (harae) mereka dengan air mancur yang ada di depan kuil itu. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri (self-purification) dari keburukan dan ketidak beruntungan. Jika saya uraikan maka ada beberapa langkah dalam Harae (祓) ;

 Pertama, orang harus antri di depan air mancur, tempat penyucian diri, bersabar dan menunggu giliran, hingga datang gilirannya. Ada banyak timbah yang disipakan sehingga tidak terlalu lama harus menunggu. Timbah-timbah itu terbuat dari kayu. Kedua, mengambil timbah yang ada dengan tangan tangan kanan. Ketiga, pegang timbah kayu tersebut (dengan tangan kanan) dan arahkan ke air mancur yang keluar dari batu dan isikan hingga hampir penuh. Keempat, timbah yang berisi air (dipegang di tangan kanan) itu dituangkan ke tangan ke atas tangan kiri. Kelima, pindahkan timbah tangan kiri dan memegang timba itu. Keenam, arahkan lagi timbah itu ke air mancur dan isikan timba dengan air hingga hampir penuh dan tuangkan tangan kanan dan mencucinya. Ketujuh, gantikan lagi memegang timba dengan tangan kanan (isikan lagi dengan air). Kedelapan, menadahkan telapak tangan kiri untuk menampung air dari timba, lalu tuangkan air, dan upayakan air tetap berada dalam telapak tangan. Kesembilan, minum air tersebut, (saya tidak meilhat mereka meminum air langsung dari timba, mengkin tidak diperbolehkan). Kesepuluh, kumur-kumurr dengan air tersebut dan keluarkan air tersebut di bawah air mancur tersebut. Kesebelah, masukan lagi air dalam timba tersebut (dengan tangan kanan). Keduabelas, arahkan timba ke atas agar air keluar dan kosong. Ketigabelas, membalikan timba pada tempat yang telah ditentukan.

Ikuta Shrine

Ikuta Shrine

Tentunya dari ketigabelas langkah yang saya uraikan ini, mungkin saja ada yang terlewatkan, ada yang belum saya sebutkan, atau ada yang saya keliru menguraikannya, sebab urutan-urutan itu hanya saya peroleh dari pengamatan sepintas. Pada bagian memasukan air ke dalam mulut, saya juga meilhat ada sebagian orang yang tidak melakukannya. Saya sendiri belum tahu pasti apakah memang itu bagian yang bisa diabaikan (tidak diwajibkan) sehingga bisa dilewatkan, atau memang wajib namun sengaja diabaikan. Tentunya butuh penelusuran yang lebih dalam, termasuk tempat air mancur, sebab pada kuil yang lain yang sempat saja kunjungi kemudian, saya melihat ada tempat ritual penyucian itu yang berumah dan ada yang tidak berumah. Kemungkinan memiliki makna tersendiri. Saya juga tidak terlalu bisa membedakan antara kuil Shinto dan kuil Budha di Jepang, sebab ini adalah kali pertama saya mengunjungi kuil di Jepang. Uraian saya terkait tahapan-tahapan ritual Harae itu hanya sekedar catatan perjalanan saya dan jika ada kekeliruan mohon maaf.

READ ALSO  Ikuta Shrine Kobe, Japan

 Setelah cukup saya mengamati ritual penyucian diri, saya melangkah maju berdiri di depan kuil, beberapa menengok ke dalam areal kuil yang luas dan rapih tertata, kemuadian berjalan mengelilingi kuil itu. Di Ikuta Shrine Kobe, saya memperoleh beberapa hal yang unik dan indah, yaitu kertas potongan-potongan kertas kecil yang terikat pada utsan-utsaan tali di samping kuil. Setelah saya mencari tahu ternyata, ikatan-ikatan itu disebut ‘omikuji’, kartu meramal nasib, yang telah saya ulas pada tulisan saya sebelumnya (baca di sini). Saya juga menemukan susunan-susunan pelat kayu dengan tulisan dan gambar-gambar dan kaligrafi yang indah, yang kemudian saya tahu kalau potongan-potongan kayu itu disebut ’ Ema’, yang adalah doa memohon keberuntungan, yang juga sudah saya uraikan pada bagian yang lain (baca di sini).

Kobe downtown

Kobe downtown

Selama hampir satu jam di Ikuta Shrine, meliahat aktifitas di sana, memotret beberapa gambar, sayapun bergegas keluar dari gerbang kuil, menuju tujuan saya selanjutnya. Namun, dari kunjungan sepintas itu, saya berkesimpulan bahwa setiap pagi orang Jepang sebelum melalukan aktifitasnya, mereke selalu datang dan berdoa lebih dahulu, agar apa yang mereka cita-citakan hari ini, bisa tercapai. Mungkin bagi mereka yang tidak sempat ke kuil karena jauh, atau karena tidak sempat mereka melakukannya di rumah. ET/UW**

[huge_it_video_player id="2"]

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *