Blog Corner

Hermenutika dan Fotografi

Wah, ketika saya mempelajari bagaimana cara membuat sebuah foto yang bermakna ternyata gampang –gampang susah, butuh skill dan harus terus berlatih hingga saya sampai bertemu pada sebuah istilah filsafat “ hermeneutika”. Saya  juga baru mengenal istilah ini kira-kira tiga tahun yang lalu padahal istilah ini sudah cukup lama dikenal  dan ketika saya mempelajarinya sedikit ternyata ada kaitannya juga dengan teori linguistik.  Saya bisa sedikit memahaminya sebab saya juga sedikit mengetahui istilah Sign dan Signifier oleh Ferdinand de Saussure , salah satu tokoh linguistik.

Dalam lingkup Hermeneutika, memahami arti implisit terhadap eksistensi sebuah fakta sehingga menjadi eksplisit. Memang ada berbagai macam metode untuk mengeksplisitkan sebuah makna dengan menjabarkan bagaimana fakta tersebut berhubungan secara keseluruhan. Begitu juga untuk mengerti makna secara menyeluruh, perlu melakukan analisa  terhadap cara-cara bereksistensi. Dalam arti bahwa setiap pendekatan dilakukan maka selalu didahului oleh sebuah pra-pemahaman. Untuk memperoleh sebuah hasil yang  jelas maka analisis hermeneutik selalu berbentuk seperti siklus, ketika sebuah putaran berakhir maka selalu dimulai lagi dari awal.  Sebuah contoh yang sederhana digunakan oleh Heidegger adalah seperti kita mempelajari sebuah bahasa asing. Jika kita ingin memahami makna dari kata-kata dalam sebuah kalimat maka terlebih dahulu kita harus memahami konteksnya, akan tetapi untuk memahami konteks kata-kata dalam sebuah kalimat maka kita harus tahu pula arti dari kata-kata itu. Dalam prosesnya analisis, makan “ada” bisa dilangsungkan tanpa mengabaikan prinsip fenomenologi dimana membiarkan sebuah fakta  terungkap sebab tidak mungkin ada sebuah fakta murni yang terungkap tanpa adanya interpretasi.

Dalam hal potret -memotret, Bagi Subyek yang memotret, sebuah obyek bisa dikatakan sebagai konteks sedangkan image/gambar yang dihasilkan adalah bahasanya. Nah, kita bisa memahami arti dari sebuah image/picture hanya jika kita bisa memahami obyeknya, tetapi itu tidak mungkin bisa jika kita tidak bisa memahami arti fotonya, sehingga interpretasi terhadap sebuah obyek ibarat interpretasi dari konteks bahkan bisa sebagai konteks itu sendiri . Dalam hal ini, sesuatu yang eksplisit atas konteks bisa dibandingkan dengan fotonya secara berulang-ulang dan timbal -balik sehingga memperoleh sebuah makna baru. Akan tetapi bagi Subyek yang memandang, foto /gambar, yang dipandang adalah konteksnya sedangkan interpretasi eksplisit adalah bahasanya. Kita bisa menangkap makna interpretasinya jika kita bisa memahami foto atau gambar itu, hanya saja, untuk memperoleh makna sebuah foto kita harus mampu menginterpretasikannya sehingga interpretasi dari sebuah foto bisa berarti interpretasi terhadap konteks. Jika memandang sebuah foto lalu membandingkannya secara  secara berulang-ulang maka pasti kita akan memunculkan sebuah makna baru atau paling tidak ada sebuah interpretasi baru sehingga ada sebuah pemberian makna terhadap sebuah foto oleh subyek yang memandang obyek yang difoto.

READ ALSO  Celoteh Senja di Pantai Parangtritis, Yogyakarta