AsiaJakarta

Jakarta ; Ketika Ongkos Macet Ditanggung Penumpang

Jakarta saat Jam Sibuk di Sore Hari

Bukan sesuatu yang aneh ketika bernegosiassi ongkos menumpang taksi, bajaj atau ojek dengan pengemudinya. Mungkin akan berbeda, dan tidak perlu bernegosiasi harga lebih jauh, jika hendak menumpang taksi dengan menggunakan argometer, dimana tinggi atau rendah angkos bisa langsung terbaca secara otomatis, tergantung jarak juah atau dekat. Ketika menggunakan taksi (tanpa argo meter), bajaj atau ojek, tentunya kita akan bernegosiasi dengan pengendaranya terkait ongkos tumpangan. Sudah lazim bahwa, semakin jauh ongkosnya semakin tinggi. Namun, perlu diingat bahwa jarak bukan satu-satunya faktor penentu tinggi rendahnya ongkos transport. Ada hal penting lainnya yang juga turut mempengaruhi tingginya ongkos akutan kota, yakni “kemacetan lalu lintas kota.” Iya, kemacetan kota Jakarta selalu menjadi alasan para pengemudi untuk menaikan ongkos transportasi dalam kota pada waktu waktu tertentu.

Sudah sering kali saya menemui pengemudi taksi, bemo, bajaj dengan alasan kemacetan lalu lintas untuk menaikkan ongkos tumpangan kendaraannya. Kemarin sore, sekitar pukul 05 sore, ketika saya hendak pulang dari ITC Cempaka Mas ke tempat penginapan saya di sekitar stasiun Juanda. Jalan raya di depan sana memang benar-benar telah muntah dengan kendaraan, hingga tak ada cela sedikitpun untuk dilewati. Sementara, saya harus segera tiba di penginapan sebab ada janjian untuk menjemput barang titipan. Dalam situasi jalan raya yang benar-benar tersumbat seperti itu, tumpangan ojek atau bajaj adalah pilihan yang tepat agar lebih cepat tiba di tempat tujuan. Saya akan lebih lambat tiba, jika menggunakan taksi, namun saya juga tidak menemukan jasa ojek di sekitar itu, sehingga saya harus menumpang bajaj yang sedang parkir berderetan tidak jauh di depan saya. Sebelumnya, sekitar satu jam yang lalu, dua orang sahabat saya juga menumpang bajaj ke penginapan yang sama di daerah satasiun Juanda, dan mereka cukup membayar ongkos 30 ribu rupiah. Sehinga saya menawarkan harga 35 rupiah, kepada para pengemudi angkot.     Satu per satu pengemudi saya menawarkan mereka, “ bang, ke Stasiun Juanda, berapa?” “ 80 ribu”!, kata si pengemudi bajaj. Biasanya cuma “ 35 ribu” bang ! namun jawabannya “ga berani macet begini, tidk bisa 35 ribu”.

READ ALSO  Dari Tragedi Air Asia Hingga Pesona si Angsa Putih

Saya berpindah menawarkan jasa bajaj yang lainya, ada yang menawarkan harga angkutan ke tempat tujuan saya dengan harga, 70 ribu, 60 ribu, 90 ribu, hingga 100 ribu rupiah. Semuanya dengan alasan yang sama, yakni “ jalan macet”. Bahkan ada seorang pengemudi yang berani menantang saya, “ pak ! kalu tidak macet saya antar ke sana, tidak perlu dibayar”! Wah, mana ada gratis. Namun, bapak ini menawarkan kepada saya, “ baiklah agar sama-sama enaknya, 50 ribu, tapi lewat jalan belakang”. Kata bapak itu. Oke ! yang penting tiba di tempat tujuan dengan selamat. Saya mengiyakan tawarannya, kami pun meluncur dengan kencang, melewati lorong-lorong dan gang, terkadang hampir menabrak kendaraan lain, tidak menghiraukan kendaraan lain, mengambil jalan dengan arah yang salah, hingga akhirnya akhirnya tiba di tempat tujuan.

Bukan baru, alasan “macet” sudah menjadi hal umum tidak hanya supir bajaj, namun supir taksi pun sering mengeluhkannya kepada setiap penumpang yang hendak menumpangi kendaraan mereka, dengan mematok harga tambahan dari yang biasanya (dalam kondisi lalu lintas normal) hingga bisa dua kali lipat. Mematok ongkos yang tinggi atau rendah tentunya tergantung dari jarak dan mood dari si pengemudi, namun menjadi hal yang kedengarannya sumbang jika tambahan kenaikan ongkos angkutan bajaj dan taksi disebabkan karena kemacetan lalu lintas, dan membebankan ongkos kemacetan itu kepada sang penumpang. Seketika saya sempat melontarkan rasa kesal saya ‘ macet itu bukan urusan saya, saya hanya penumpang, kalau tidak ingin kena resiko macet, jangan jadi sopir taksi atau pengemudi bajaj! Maksud saya, kemacetan itu sudah menjadi resiko yang harus ditanggung oleh para sopir taksi dan bajaj, dan tidak perlu menambah beban kemacetan itu dengan tambahan biaya kompensasi, yang dibebankan kepada penumpang. Lebih tepatnya ongkos kompensasi kemacetan lalu lintas itu harus dibebankan kepada pemerintah otoritas setempat, dan bukan kepada penumpang yang hanya sekedar tinggal beberapa hari hanya untuk berwisata atau urusan lainnya.

READ ALSO  Pesona Kota Toea, Jakarta

Para supir taksi dan bajaj atau bemo nampaknya tidak mau tahu apa hubungan kemacetan dengan kenaikan ongkos transport yang mereka bebankan kepada penumpang. Apakah karena mengangkut penumpang pada jam-jam macet beresiko terhadap menguranginya pendapatan mereka? Sehingga lebih baik memilih untuk parkir sambil santai, hingga macetnya berkurang. Ataukah mengangakut penumpang pada jam-jam sibuk tersebut beresiko terhadap nyawa sang pengemudi atau penumpang? Jika pendapatan mereka/gaji mereka dihitung perjam atau perjarak dalam kilo meter yang ditempuh maka sama sekali tidak ada alasan untuk menaikkan harga saat macet. Kompensasi harga kemacetan itu lebih pada faktor mental dalam mengendarai kendaraan. Apalagi saat jam-jam sibuk yang terkenal dengan macet di kota Jakarta. Ya, faktor mental dalam mengemudi kendaraan di tengah jalan yang padat juga berpengaruh besar. Mental yang kurang stabil, kurang sabar, dan kurang menghargai pengendara lain di jalan raya beresiko terhadap kecelakaan di jalan raya. Selain itu mungkin akan tiba di tempat tujuan dengan waktu tempuh yang lebih lama. Memang akan lebih baik jika pada jam-jam sibuk, sebaiknya tidak semua kendaraan secara bersamaan turun ke jalan raya, lebih baik yang lainnya mengalah dan tunggu hingga melewati jam sibuk. Namun pada saat semua orang memiliki kepentingan yang sama dan tidak ingin mengalah agar jalan raya lebih sedikit renggang.

Sudah pasti bahwa otiritas lokal sedang memeras otak dan tenaga untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan sama sekali kemacetan yang ada di Jakarta yang makin hari makin buruk. Di satu sisi para pengguna jalan juga harus lebih turut membantu mengurangi kemacetan. Para sopir taksi, bajaj atau bemo sebetulnya sangat paham bahwa kemacetan di Jakarta ini juga disebabkan karena membludaknya kendaraan di Jakarta termasuk bajaj kendaraan yang sedang saya tumpangi. Sekedar saya bertanya kepada kepada sang pengemudi, apa sebenarnya yang menyebabkan kemacetan begitu parahnya di Jakarta , katanya “ kendaraan semakin banyak, terutama sepeda motor”. Ya, mungkin itu jawaban yang benar meskipun nampak sepihak sebab mobil juga bertambah, demikian juga dengan bajaj atau bemo yang sering kali parkir sembarangan di tepi jalan. Namun kenyataannya sepeda motor di Jakarta memang tak terbendung lagi, penjualan sepeda motor semakin murah, dengan mudah seseorang bisa memiliki sepeda motor di Jakarta. Tidak hanya sepeda motor, mobil juga demikian halnya, namun membatasi penjualan motor dan mobil di Jakarta, apakah bisa?  Mungkin bisa jika semua orang memiliki kepentingan yang sama yaitu ingin mengurangi kemacetan di Jakarta.

READ ALSO  Jakarta Commuter Lines: Move you Around at Low Cost