Travel Story

Kaki Lima di Kereta Eksekutif

Rasanya ingin marah, ingin kukatakan“ sudah ku bilang TIDAK, apa kau tuli? Sebab hampir 20 kali saya didatangi para penjual makanan dan minum , mereka menawarkan berbagai macam makanan secara terus menerus sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta dengan kereta api executive.  Saya memang selalu memilih perjalanan saya ke berbagai daerah di dalam pulau Jawa dengan menggunakan Kerata Api executive meskipun harganya cukup mahal agar bisa memperoleh kenyamanan dan pelayanan yang istimewah dibandingkan kereta Api kelas bisnis dan ekonomi yang carut marut alias amburadul.

Pramugari KA eksekutif/ foto: vhrmedia.com

Dari sisi fasilitas yang diberikan di kereta api eksekutif cukup istimewah di bandingkan kereta kelas bisnis apalagi kelas ekonomi. Akan tetapi, dari sisi kenyamanan, saya merasakan tidak jauh berbeda dengan kereta busnis. Salah satu rasa  kenyamanan bagi saya adalah tidak tergangu dari hiruk pikuk pedagang kaki lima dalam kereta api sepanjang perjalanan saya, sehngga saya bisa memanfatkan waktu untuk membaca atau mungkin menulis dengan notebook saya. Pada kereta kelas bisnis, selalu ribut dan ramai dengan pedagang kaki lima yang masuk ke dalam tiap gerbong hingga menggangu rasa nyaman dari penumpang setiap kali menyinggahi stasiun. Akan tetapi hal serupa juga tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di  dalam garbong kereta api kelas eksekutif. Ketika saya masuk ke dalam gerbong dan setelah lima menit kereta berjalan, bertubi-tubi saya didatangi pelayan atau penjual makanan di dalam kereta yang menawarkan berbagai macam makanan, minuman dan berbagai jenis makanan ringan.

Saat pertama kali seorang pelayan di kereta menawarkan makan, minuman dan berbagai jenis makanan ringan, saya lalu menjawab, “ Tidak terima kasih,” dia lalu terus berjalan ke penumpang lainnya. Lima menit kemudian, pelayan itu kembali lagi, menawarkan hal yang sama. “ Tidak terima kasih,” saya menjawabnya. Beberapa menit kemudian “ datang seorang pelayan yang lainnya lagi menawarkan hal yang sama,” saya tetap menjawab “ tidak  terima kasih.” Beberapa menit kemudian pelayan itu kembali lagi untuk menawarkan hal yang sama. Hikkssss…. Rasa jengkel saya datang, rasanya ingin memaki pelayan itu. Saya memutuskan untuk tidak mau berbicara tetap dengan menggunakan isyarat tangan untuk menolak tawaran itu. Tetapi pelayannya mengatakan

READ ALSO  Mengunjungi Kebun Raya Bogor

” Kami tidak menyediakan makan siang bagi penumpang, sehingga jika mau makan harus memesanya dari sekarang.” Tentunya harus beli !!

Saya merasa tidak nyaman dengan aktivitas mereka yang datang berulang- ulang kali menawarkan makanan dan minuman yang mereka jual di atas kereta. Mereka sama saja seperti pedagang kaki lima lainnya yang turun masuk gerbong kereta api untuk berjualan, bedanya karena pedagang kaki lima di kereta api eksekutif berpakaian rapi dan menggunakan dasi. Jika diperkirakan selama perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta, sekitar 20 kali saya ditawarin jualan mereka, tetapi saya tidak ingin membelinya, sebab sudah pasti harganya dua kali lebih mahal bahkan bisa tiga kali dari harga yang ada di warung-warung makan  atau di stasiun. Sebagai contoh, pada perjalanan yang lainnya, saya pernah membeli satu porsi mie rebus telur, harganya mencapai Rp.14.000,-, padahal jika di terminal atau di warung-warung hanya Rp.4000 sampai Rp.5000,-. Oleh sebab itu, saya menyarankan jika anda ingin bepergian dengan kereta eksekutif, sebaiknya anda membawa makanan sendiri, sebab makanan tidak disediakan gratis di Kereta Api Eksekutif, bahkan air minum pun tidak diberikan.