PadangPeople & CultureSerang

Ketika Urusan Tuhan diambil Alih Manusia

Ketika Urusan Tuhan diambil Alih Manusia

walikotaMenghargai orang lain menjalankan ibadah adalah sesuatu yang mulia, sebagai bentuk pengahragaan terhadap orang lain dengan keyakinan yang berbeda. Apalagi jika penghargaan itu datang dari ketulusan, atas kesdasaran setiap individu, sebagai bagian dari suatu komunitas. Soal penghargaan terhadap orang yang menjalankan ibadah puasa bukan hal yang baru dalam hidup saya, maupun orang-orang yang sekampung dengan saya. Sejak kecil di kampung kecil di Teluk Arguni- Sejak kecil anak-anak telah disampaikan oleh orang tuanya bahwa tidak boleh makan di luar rumah saat bulan puasa. Perintah itu lantas diterima mulus oleh anak-anak, tanpa bertanya mengapa dan mengapa? Saat itu, penduduk asli kampung itu seluruhnya beragama Islam, namun ada beberapa warga beragam Kristen yang berada di di situ, mereka bersal dari kampung sebelah, ditambah dengan anak-anak sekolah dari kampung lain yang tinggal di sebuah rumah yang dibangun oleh orang tua mereka.

Pengalaman itu terbawa hingga seusia SMP, anak-anak itu masih memahami bahwa makan di luar rumah pada bulan puasa itu tidak boleh. Tidak hanya itu, warga juga tidak boleh menyalakan api, atau berasap-asap hingga waktu Ashar tiba (sekitar jam 4 sore) yang ditandai dengan pemukulan beduk oleh marabot yang kenal dengan istilah ‘Tipa Asap”, sebagai tanda dimana orang boleh menyalakan api dan berasap-asap. Lalu bagiaman dengan mereka yang tidak berpuasa, apakah tidak makan? Orang di kampung biasanya mensiasasti dengan meneydiakan makan lebih banyak saat sahur, sehingga bagi yang tidak berpuasa tdak perlu lagi masak hingga menimbulkan asap atau bau-bau masakan sebelum Ashar tiba, sementara bagi warga Kristen yang berada di kampung itu silahkan memasak dan orang kampung memahami itu. Kampumg kami saat itu tidak ada rumah makan,

Tidak ada aturan tertulis tentang aturan itu, tidak ada sangsi hukum atas warga yang melanggar. Warga yang beragam Islam (yang tidak berpuasa) maupun Kristen di kampung itu, mereka boleh makan di luar rumah, mereka boleh saja makan selama bulan puasa, mereka boleh memasak sebelum beduk Ashar berbunyi. Namun mereka tak melakukan itu, mereka tidak makan di luar rumah, juga tidak berasap-asap sebelum beduk Ashar berbunyi, hanya karena rasa malu hati, kepada tetangga. Mereka tidak mengenal yang namanya kata ‘toleransi’. Lantas apa malu hati itu sama dengan toleransi? Tidak ! malu hati itu jauh lebih dalam,sebab seseorang harus menanggung malu atas sikapnya terhadap dirinya sendiri, dan malu terhadap orang lain atas sikapnya, dan itu datanang atas kesadaran, bukan paksaan. Di kesempatan-kesempatan yang lain, saat bersama kawan-kawan saya yang beragama Kristen, dan mereka harus makan siang, mereka terlebih dahulu meminta maaf jika sikap mereka (makan) menggagu saya. Hanya itu, sudah cukup ! Saya juga dalam beberapa kesempatan sering menemani kawan saya yang tidak berpuasa makan di warung atau ngopi ngopi sambil ngobrol.

Wah melihat orang makan atau minum jus jeruk saat terik di atas kepala, sunggih menggoda, namun itu adalah tantangan tersendiri bagi saya. Namun itu tidak berarti apa-apa bagi saya sebab sudah sering saya menemani teman ke warung/kafe dalam kondisi berpuasa. Tentunya semakin berat tantangan semakin mantap pula keyakinanku. Sering teman mengatakan masa ke warung tidak makan? Masa ke café tidak minum? Iya mereka memang tidak yakin jika saya sedang berpuasa. Namun itu rahasia saya dengan Allah, hanya Allah yang tahu. Dari sekian banyak Ibadah hanya satu-satunya Ibadah yang dinilai langsung oleh Allah adalah Puasa Ramadhan. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang beriman, yang tidak beriman tidak akan mampu melakukannya.

Untitled

Menyimak berita terkait razia warung makan oleh aparat negara, bagi saya sungguh menyedihkan. Bagaimana bisa “ Manusia mengambil alih tugas Allah,’ Bukankah sudah jelas hampir setiap malam selama bulan ramadhan telinga kita terus menerus dibacakan Al Baqarah ayat 183  bahwa puasa hanya diwajibkan bagi orang-orang yang beriman? Bukankah sudah jelas bahwa Puasa itu langsung dinilai oleh Allah tanpa perantara (Hr Al-Bukhari ra no.1904). Lantas mengapa harus dipaksakan kalau mereka memang belum beriman? Mengapa walikota harus mengambil alih tugas Allah ? Apalagai dengan menggunakan kekuatan negara. Sungguh menyedihka, puasa itu tidak perlu meminta penghargaan dari manusia, selama masih bebas menjalankan ibadah, maka lakukanlah tanpa mengaharpkan penghargaan dari siapapun.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *