Blog CornerWest Papua

Kisah Lampu Pelita Tua di Bukit Kecil

Dalam malam, di sini dan beginilah, dalam bilik kecil bersama lampu tua dari kaleng bekas. Bersama Ibu, Ayah, adik dan Kakak melewati malam-malam senyap. Duduk atau sambil bertiarap, di atas alas tikar pandan buatan Ibu. Malam ini bersama pelita ini, ku mencoba mengurai satu demi satu ungkapan, kata demi kata dari orang-orang di sini dalam perjalanan saya mencari makna manusia sejati, pada orang-orang yang berbicara dengan bahasa sejati.

Ah malam, betapa engkau kini membawa anganku jauh terbang , melayang jauh pada satu masa, saat aku mulai belajar mengukir huruf, merangkai kata, dan membaca sebuah kata, bersama Ibu dalam redupan lampu pelita tua dari kaleng bekas, tanganku dipandu menuliskan sebuah huruf A, B, C, dan seterusnya hingga larut dan tertidur di atas tanah. Ketika pagi, tubuh ku seakan bermandi wewangian, aroma asam dari asap lampu minyak itu. Ah, malam, hembusan anginmu, semakin lancang merayuku, meniti kembali kisah malam-malamku bersama redup lampu tua itu.

Betapa engkau tahu, aku begitu mencintai malam-malamku bersama pelitu itu. Lampu kaleng tua itu, tidak hanya memberiku cahaya, redupan cahaya lampu pelita tua itu, juga telah mengajariku tentang sebuah perjuangan, pertarungan tentang hidup. Saat di luar sana angin begitu kencang, menusuk masuk menembus celah-celah dinding papan, dua buku ditanganku harus ku pegang di sisi api lampu itu, menghadang tiupuan angin, agar pelita itu tetap menyala, itu satu-satunya harapanku ketika malam datang. Duhai malam, betapa cemburunya angin malam saat, saat aku begitu dekat dengan pelita itu, mengintip cari celah-celah dinding, hendak mengusir cahya pelita agar berlalu dariku.

READ ALSO  Pesona Teluk Triton Kaimana

Duhai angin, aku begitu mencitai malam-malamku bersama pelita itu, malam-malam yang membawaku perpetualang dalam harapan dan cita-cita.   Namun, aku juga menyukai angin dalam malam-malamku. Angin malam yang selalu membawaku, berlayar, mengembara dalam samudra malam, menajariku bermimpi dan khayalan dalam malam. Ah angin, engkau juga telah mengajariku tentang arah dan haluan, ke mana aku harus menuju, dan di mana aku harus berhenti sejenak, mencari celah-celah dan ruang-ruang tempat jiwa dan raga berteduh dalam pengembraan, hingga tiba di tepian pantai, tempat cita, cinta dan harapan berlabuh.

Malam ini, dalam senyap malam di bukit kecil, tempat rumah ayah dan ibu, ada suara jangkrik malam, bersama angin dan lampu pelita yang redup, ku ingin bercerita, cerita tentang perjalananku, bercerita tentang mimpi baruku dan setapak jalan yang baru dirintis. Aku juga ingin sekali mendegarkan cerita tentang rumah kecil di bukit ini, cerita tentang ayah dan perahu kecilnya, cerita tentang Ibu dengan nokennya dan semua cerita tentang malam-malam bersama lampu pelita tua itu. Tapi ayah dan ibu tak ingin lagi bercerita, ayah dan Ibu hanya tersenyum, memandangiku. Ah,….