AsiaTravel StoryWest Papua

Kisah Penerbangan Sore Hari JT-799

Sewa Angkota ke Bandara Sentani

Sudah tengah hari dan matahari begitu terik membakar. Rasanya ingin tetap berada di rumah bersantai sambil menikmati minuman dingin. Ah, tapi saya harus berangkat ke bandara Sentani sekarang sebab pesawat yang akan saya tumpangi akan berangkat pada pukul 14.00 WIT.  Hari ini Sabtu 16 Maret 2019, saya akfan berangkat dengan pesawat ke Sorong dan selanjutnya ke Kaimana dengan menumpang kapal laut bersama dengan tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAIN Papua dengan kota tujuan Kaimana. Rute perjalanan ini sudah sering saya lalui dalam perjalanan pribadi, urusan penelitian hingga urusan dinas, termasuk mengantar dan menjemput mahasiswa KKN tahun 2018, kecuali transportasi darat yang tidak beraturan.

Papua secara keseluruhan belum ada transportasi regular yang bisa diandalkan untuk membawa penumpang dari kota ke bandar udara maupun sebaliknya, dari bandara ke kota yang berdekatan dengan tempta tinggal. Bahkan, Jayapura sebagai ibukota propinsi pun demikian.  Ada bus Damri dari Bandara ke Kota Jayapura via Abepura, namun bus itu tidak memiliki waktu operasi yang pasti. Jika penumpang hendak ke Bandara dari Waena, Abepura maupun Jayapura, tidak tersedia tidak jelas di mana dan kapan harus menunggu bus damri itu. Sehingga jalan alternatifnya adalah dengan menyewa mobil atau ojek, yang harganya cukup mahal. Untuk mencapai bandara dan sebaliknya, biaya yang harus dikeluarkan berkisar antara 200 -250 ribu.

Sopir Angkot Dari NTT

Dari tepi jalan perumnas II Waena, saya berdiri dan mencoba menghentikan angkot yang kosong dan menawarkan sang sopirnya untuk mengantarkan saya ke Bandara Sentani. Keringat karena panas matahari dan debu-debu yang beterbangan disapu kendaran yang menlintas depan mata saya, menjadikan udara begitu kotor dan tak sedap untuk dihirup. Saya harus mundur beberapa langkah dari tepi jalan raya, jika da kendaran besar yang lewat di depan, guna menghindari debu yang beterbangan itu.  Saya berhasil mendapatkan angkot dan menanyakan berapa biayanya.  Si pengemudi itu langsung menjawab “biasanya 200 ribu, itu sudah standar”,  dalam hati saya berkata “ standar? Standar dari mana?  Siapa yang buat standar itu. Ini angkot bukan mobil taxi atau mobil sewa di bandara. Saya coba menawar harganya jadi 150 ribu. Tentunya standar menurut mereka adalah harga yang umumnya dipatok oleh supir angkot untuk jarak dan tujuan tersebut. Syukurlah, sang pengemudi angkot itu bersedia angkotnya disewa dengan harga yang saya ajukan. Pintu dibuka dan barang rackshak saya naikan ke tempat duduk mobil. 

Menumpang Angkot Waena- Bandara Sentani

Si pengemudi itu memulai memutar mobil tua itu. Tangganya yang kurus itu lincah pada setir dan gigi (porsneling) sedikit memaksa. Maklum, angkot itu sudah penyok-penyok, dashboard hampa taka ada langi yang tersisa. Supir itu cuma punya porsneling yang sudah disambung lagi dengan besi, gas, kopling, rem dan lampu sein. Asalkan bisa mengakut penumpang, dan tidak dilarang aman.  Tapi bukan cuma angkot ini, rata-rata angkot di sini sudah seperti itu. Sang sopir paruh baya itu memulai membuka percakapan dengan menanyakan ke mana saya hendak pergi. Sang supir itu rupanya dari Nusa Tenggara Timur (NTT), berkisah bahwa Ia datang ke Jayapura tahun 2011, namun pulang  ke NTT tahun 2013 dan kembali lagi tahun 2017. Orang NTT di Papua memang cukup banyak dan menyebar di berbagai pelosok Papua dan mereka memiliki kampung tersendiri. Menurut sopir itu,  warga NTT diberi sebidang tanah oleh ondoafi di Jayapura, tempat hanya boleh dihuni oleh orang NTT. Katanya, mereka sudah meminta ijin ke ondoafi agar warga lain juga boleh tinggal bersama mereka, namun tidak diijinkan oleh ondoafi. Obrolan kami cukup panjang, hingga ke masalah Pilpres 2019 dimana ada dua calon presiden yang bertarung merebut kursi nomor wahid di Indonesia. Sebenarnya saya cukup yakin kalau si pengemudi itu mendukung Jokowi,  Pencoblosan memang sudah selesai, namun saya hanya bilang kepada pria itu bahwa kedua calon itu bisa baik, bisa juga buruk, namun saya memilih untuk memberikan kesempatan lagi yang kedua kali kepada Jokowi. Pria itu pun menyambut dengan senyum, jawaban saya. Tapi tiba-tiba Ia menarik napas panjang dan mengatakan, “ya siapapun yang menang, nasib saya tetap seperti ini’.  Obran kami berakhir, ketika tiba di depan lokasi pengantaran penumpang bandara Sentani. Saya pun bergegas turun dengan tas ransel saya, dan pria pun tancap gas dan keluar dari areal terminal penumpang bandara Sentani.

JT-799 Ketika Bagasi Tak Lagi Gratis

Bandara Nampak tidak begitu ramai, mungkin karena ini adalah penerbangan tersisa hari ini dari dari bandara Sentani. Di depan pintu masuk hanya ada dua petugas dan beberapa warga yang mondar mandiri menunggu penerbangan mereka atau mungkin menunggu jemputan mereka. Ketika masuk ke dalam geduang terminal, di check-in desk juga sangat renggang. Jam di hanphone saya sudah menunjukan pukul 12.55, saya menuju ke bagian pelaporan untuk melapor dan mengambil boarding pass, sebab saya sudah melakukan check-in secara online dua jam yang lalu sebelum berangkat menuju bandara.  Di depan saya ada seorang pria dengan barang bawaan yang cukup banyak, dan dia harus menanggung beban bagasi yang cukup mahal sebab lion air sudah tidak lagi memberikan gratis bagasi 20Kg seperti sebelumnya. Jika Ia hendak ke Sorong maka pria itu harus membayar 460.000 rupiah, namun jika Ia hendak ke Manado maka biaya bagasi yang harus dibayar adalah 740.000 rupiah, biaya sebesar itu sama dengan separuh harga tiket Jayapura – Manado.

Di ruang tunggu keberangkatan lantai dua hanya tersisa penumpang lion air yang memenuhi ruang tunggu. Sebetulnya masih ada juga satu penerbangan ke Jakarta yakni Batik Air pada pukul 17 sore nanti, cuma penumpangnya mungkin belum datang. Di depan saya, dua orang petugas lion air berjalan memantau barang bawaan penumpang yang akan dinaikan ke kabin pesawat. Satu dari mereka membawa timbangan kecil, sedangkan yang satunya lagi menarik kota dari besi berbentuk segi empat. Mereka memeriksa berat dan ukuran bagasi setiap penumpang. Jika ukurannya melebih ketentuan (ukuran box besi) dan melebihi berat yang ditentukan, tentu akan berurusan dengan pihak maskapai, entah membayarnya dan memasukannya ke bagasi atau meninggalkannya. Nampak beberapa penumpang melakukan kompalin terhadap sikap petugas itu. “ knapa harus di masukan dibagasi? Tadi waktu check-in tidak ada masalah, knapa skarang baru dipermaslahkan?” Tidak, barang ini akan saya bawa ke bersama saya” . Salah satu penumpang yang marah-marah dengan sikap petugas lion air, yang meminta barangnya dimasukan ke bagasi karena ukurannya melebihi standar yang ditentukan. Dua orang petugas itu juga tetap ngotot dan bapak itupun tidak mau mengalah, jadi ribut, namun kemduian ada salah satu orang petugas yang datang menengah dan, bapak itu juga bisa membawa barangay ke kabin, karena sudah pukul 13.30 dan penumpang sudah dipersilahkan untuk boarding.

Trik Bawa Barang Gratis di Lion Air

Penumpang satu per satu masuk ke peswat setelah melewati pemeriksaan boarding pass dan barang bawaan. Di depan saya seorang bapak sedang memagang kotak toolbox dari fiber berwarna krem. Petugas mengambilnya dan memasukannya ke dalam kotak besi segi empat yang dijadikan standar ukuran barang bagasi. Ternyata tidak bisa masuk, alias kebesaran sedikit, petugas itu nampak tidak punya solusi, sementara penumpang harus ke pesawat, akhirnya barang itu tetap diberikan kepada bapak itu untuk dibawa ke kabin. Tapi yang jadi pertanyaan saya, mengapa petugas itu tidak memeriksa ‘backpack” /racksack para penumpang? Saya melihat kebanyakan penumpang membawa ransel atau backpack yang besar dan gemuk isinya. Jika ditimbang pasti beratnya melebihi 7 kilogram. Seperti punya sya, yang di dalamnya ada laptop macbook pro sekitar dengan chargernya yang jika digabungkan beratnya bisa 3 kg tambah dengan beberap buah buku, kamera pakaian dan peralatan memotret lainnya, sudah sekitar 10 kg. Sehingga saya berkesimpulan ukuran /bentuk barang yang kena target adalah tas dengan ukuran proporsional seperti kopor. Sedangkan backpack, tidak dimasukan dalam box segi empat itu. Sehingga selama ini saya selalu bebas membawa barang dengan racksack dan sering melebihi ketentuan berat barang kabin. Mungkin itu tidak baik juga, dari sisi keamanan dan kenyamanan kabin, tetapi itu cara aman yang saya gunakan untuk membawa barang lebih tanpa membayar bagasi.

Ketika memasuki peswat, di depan pintu masuk seorang pramugari cantik, menyapa setiap penumpang yang masuk ke dalam pesawat. Saya munujukan boarding pass saya dan langsung menuju ke seat say 22F-Window. Tempat duduk saya persis di atas sayap peswat, satu seat di depan pintu darurat peawat Boeing 737-900ER. Dua seat di samping kiri saya kosong alias tidak ada penumpang, jadi saya cukup leluasa bergerak. Pimpinan pramugari terus memberitahukan penumpang untuk tidak mengaktifkan atau menggunakan telepon genggam setelah berada dalam peswat. Sayangnya, tidak banyak penumpang yang mematuhinya. Mereka tidak menganggap itu perlu dilakukan, bahkan hingga peswat take off pun masih berkomunikasi dengan Whatsapp.

Pukul 14.04 menit perintah dari cockpit kepada flight attendants untuk menutup pintu pesawat. Selanjutnya, para pramugari melakukan ritual mereka sebelum terbang, yakni demo keselamatan penerbangan. Lagi-lagi, tidak banyak orang yang seriru memperhatikan demo ini, lantaran sudah dianggap hal yang biasa. Pukul 14.06 menit peswat telah push back dan taxing menuju runaway. 

Pesawat take off dengan mulus, dan terbang melintasi  laut hingga hutan belantara dan gunung-gunung  sentani. Hanya ada gumpalan-gumpalan awan terkadang membuat pesawat berguncang sesekali. Dalam penerbangan itu para pramugari juga menjual minuman dan makanan namun saya tidak tertarik. Saya lebih sedang mambaca Lionmag, inflight magazine yang bisa memuat tempat-tempat wisata menarik di Indonesia. Peswat dengan nomor penerbangan JT-799 itu akhirnya mendarat dengan baik di bandara Dominique Eduard Osok (DEO) pukul 15.54 dan langsung merapat di gate 1, bersebelahan dengan Sriwijaya air di sisi sebelah kiri yang sedang melakukan embarkasi, jauh lagi ke sana ada beberapa peswwat ATR yang sedang parkir. Di sisi sebelah kanan saya bisa memandang jaug ke ujunag bandara, dan bentaran tumbuhan rawa-rawa. Yeah, saatnya mencari minuman segar ! 

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *