Dulu waktu kecil kami selalu bermain bersama, di sekolah, ke laut bersama, ke hutan bersama hingga menyelesaikan sekolah menengah pertama kami. saat itu kemudian kami berpencar mencari sekolah keninginan masing-masing. Kami pun berpisah hingga kurang lebih dua puluh tahun. Hari ini aku kembali bertemu dia. Sahabat saya ini telah menikah dengan perempuan di kampung ini dan kini telah menjadi ayah dari empat orang anak, dia sosok yang tenang dan ulet. Ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu, kabr itu aku dengar dari ibuku beberapa tahun yang lalu, saat aku belum barangkat ke Inggris, dan sebagai seorang anak lelaki satu-satunya, dia juga memiliki tanggung jawab dengan adik-adiknya. Saya teringat suatu saat ketika ayahnya masih hidup, dia selalu menemani ayah saya pergi ke dusun tinggal di tengah hutan, memetik buah pala, meramu sagu atau membuka lahan untuk kebun.

Ayahnya itu punya kenangan yang dalam bersama kami. ketika pergi mancing atau berburu di hutan, selain hasilnya dijual untuk kebutuhan mereka, ayahnya selalu menyisihkan sebagian untuk kami. Dia sosok yang ramah, tenang, ulet dan baik hati. Sosok itu terpancancar jelas dari anak laki-laki satau-satunya ini, dia sahabatku. Hari ini saya bertemu dia, bercerita dan dia mengajak saya mancing di laut, kami akan pergi mancing besok pagi. Cukup bereda dengan dua puluh tahun lalu, jika dulu kami harus mendayung perahu, hari ini kami menggunakan motor tempel untuk pergi memancing, dan rata-rata orang-orang di kampung ini sudah memiliki motor tempel dan perahu long boat. Iya memang sudah berbeda, bukan hanya motor tempel, hampir semua rumah di kampung ini telah memiliki parabola satelit dan TV berwarna ukuran besar, tetapi rupanya perubahan itu tidak sebanding dengan kualitas hidup orang-orang di kampung ini. lihat saja, banyak dari mereka yang belum memiliki rumah yang baik dan anak-anak mereka memiliki pendidikan yang memadahi. Ah, ternyata perkembangan teknologi informasi dan komunikasi lebih cepat daripada masyarakatnya. Hmmmm… anyway.. hari ini saya mau pergi mancing.

Matahari masih belum terlalu panas, air laut sudah surut, bibir pantai hampir kering. Kami harus segera meninggalkan pantai sebelum bibir pantai kering dan perahu kami kandas di atas lumpur laut. Ternyata tidak hanya kami berdua, satu sudara dekat juga akan ikut bersama kami, juga ada sudara sepupu yang lain bersama istri dan anak-anaknya akan ikut mancing juga dengan perahu sendiri, mungkin kami akan bertemu di seberang pulau sana. Perahu hampir kandas dan kami harus dorong-perlahan-lahan keluar dari sunagi kecil di samping rumah. Dia lalu menghidupakan motor dan tancap gas keluar dari pantai menuju tanjung sebelah, di sana kami akan menjala udang untuk dijadikan umpan memancing. Di sana saya hanya duduk di atas perahu memandangi sahabat itu, melempar jala dan menariknya, berjalan di tepi –tepi batu tajam dan lumpur di atas lutut dan air sebatas pinggang. Rasanya saya tak sanggup lagi melakukan itu, telapak kaki saya pasti akan tersobek-sobek batu atau serpihan kulit siput. Padahal dulu pekerjaan seperti itu bisa saya lakukan dengan enteng seperti apa yang dilakukan sabahat ini. Di atas perahu saya duduk dan memandangi sahabat itu dengan udang yang berhasil ditangkapnya di dalam perahu. Belum terlalu banyak tangkapan udang yang kami dapat tetapi kami harus segera pergi mancing sebelum air surut dan kering. Kami hanya mengikuti arahan sabahat itu, dia paling tahu kapan dan di mana kita harus mancing. Memang, kalau soal mancing, dia adalah rajanya, dia paling piawai, dia seperti mewarisi kehebatan memancing dari ayahnya, ayahnya memang paling jago mancing di kampung ini dan semua orang tahu itu. Dan benar, hanya beberapa detik, ketika tali pancing kami lempar ke dasar laut, tali pancing sahabat saya itu langsung dihantap seekor seabass sedang, selang beberapa detik kemudian, tali pancing sahabat saya itu juga dihantam seekor barracuda sedang, sedangkan tali pancing saya masih tenang, tidak ada ikan yang menyambar upan tali pancing saya.

Kami lalu berpindah lokasi mancing, di sana, tali pancing saya lebih duluan di hantam, wah… senang skali, seeokar ikan Sembilan putih berhasil saya naikan ke parahu, disusul sahabat saya itu, seeokor barracuda, wah lumayan. Selanjutnya saya tidak lagi menarik seekor pun, tetapi saya cukup puasa dan senang memandangi sahabat itu manarik ikan dari tali pancingnya. Panas matahari membuat kami sangat kehausan dan lapar. Kami mencari tempat berteduh di tepi tanjung, di sana kami akan membakar beberapa ikan untuk disantap, tanpa nasi, singkong atau pisang, hmmm…. Ternyata dari tepi daratan itu, dua sahabat itu, manarik seekor barracuda dan kerapu sedang. Wah… sungguh mujur sahabat itu kalau soal mancing. Usai menyantap ikan bakar di tepi pantai, kami kembali mencari udang dan melanjutkan pemancingan kami. Air pasang baru saja bergerak perlahan, jangkar kami tancapkan di atas spot yang ditentukan oleh sahabt itu. Ahhh….di sana saya berhasil menarik seekor kakap merah ke dalam perahu, dua sahabat saya itu berhasil menambah ikan mereka dengan barracuda dan kakap merah.


Semangat memancing kami menjadi lesu, ketika beberapa kali kami berpindah lokasi mancing, tetapi kurang berhasil dan panas matahari terus membakar badan kami. Saya serasa tak tahan lagi teriknya matahari, saya lelalu meninta sahabat saya itu agar kita segera pulang. Akirnya jangkar perahu kami angkat dan tancap gas menuju kampung. Rasanya untuk kebutuhan hari ini sudah cukup, seekor kakap merah ditambah seekor barracuda yang diberi teman. Ah, sabahat semoga diwajahmu, aku melihat betapa berat beban yang kau pikul, tetapi kau tetap tenang, semoga laut ini selalu bersabahat denganmu dalam segala ikhtiarmu, semoga mujur hari ini selalu dan tetap bersamamu esok , lusa dan seterusnya. Saya masih tetap ingin mancing bersamamu, mu suatu saat ketika ku kembali lagi.