Sejak malam saya merencanakan untuk mengnjungi Kebun Raya Bogor . Saya memulai mempersiapkan keperluan yang akan saya bawa esok nanti. Mengisi ulang baterai Camera, membersihkan lensa-lensa, filter dan mempersipkan tripod. Saya berencana ingin membuat foto macro dan landscape sehingga lensa yang akan saya bawa besok nanti ada tiga. Lensa Nikon Micro 105 mm, lensa wide Tokina 12-24 mm dan juga akan saya bawa lensa tele Tamron 70-300. Selain itu ada beberapa filter cokin ND dan landscape yang akan saya bawa juga.

KRL Ekonomi AC

Ini adalah kali pertama saya akan mengunjungin Kebun Raya Bogor dan saya akan bepergian sendirian. Berbekal informasi yang aku dapat dari beberapa blog semalam.  Jam sembilan pagi setelah mengirim tugas lewat email, saya bergegas menuju shelter transjakarta.  Dengan ongkos 3.500 rupiah saya akan berangkat menuju shelter Juanda. Kebetulan karena saya tinggal di Daerah Salemba- Jakarta pusat, saya akan menggunakan transjakarta dari Shelter Salemba UI tujuan Harmoni dan akan turun di Halte Juanda lalu berjalan menuju Stasion Kereta Juanda. Saya akan melanjutkan perjalalan ke Bogor dengan KRL ekonomi-AC.

Setelah membeli ticket seharga 5.500 rupiah saya pun masuk ke stasuin dan menunggu kereta. Kurang lebih setengah jam, tepat pukul 10.05 WIB rangkaian KRL ekonomi AC tiba. Penumpang bergegas memasuk ke dalam gerbong kereta, saya pun masuk ke dalam gerbong. Kali ini saya berada di gerbong ke enam. Beberapa detik kemudian Kereta pun segera melaju.  Stasiun demi stasiun disinggahi,penumpang makin betambah banyak hingga berdesak-desakan di dalam gerbong kecil itu, tidak leluasa bergerak, ada yang terjepit, terinjak dan terdengar suara tangisan anak kecil karena terhimpit, ya.. maklum hari ini hari libur dan semua orang ingin berekreasi ke luar kota atau mingkin ingin mengunjungi keluarga.

READ ALSO  Jakarta ; Ketika Ongkos Macet Ditanggung Penumpang

Satu jam perjalanan dengan KRL ekonomi AC, akhirnya tiba di stasiun Bogor (Stasiun akhir KRL Ekonomi AC). Bergegas saya keluar dari station, melirik-lirik ke kanan dan ke kiri, lalu saya menuju ke puluhan angkutan kota yang sedang parkir di depan stasiun, saya lansung masuk ke dalam angkot trayek 02 jurusan Sukasari-Babulak, saya akan menumpang akutan kota ini menuju Kebun Raya Bogor, saya akan turun persisi di depan gerbang masuk utama Kebun Raya Bogor. Oh iya, selain angkutan kota trayek 02 untuk ke Kebun Raya Bogor bisa juga menggunakan trayek 6 Ciheuleut-Ramayana atau trayek 10 jurusan Bentar- Kemang- merdeka

Setelah masuk ke dalam angkot dan berjalan beberapa menit kemudian tiba di depan pintu gerbang utama Kebun Raya Bogor. Saya pun turun dari angkot dengan membayar Rp.2000,- . Karena kehabisan uang cash di saku, dan tidak sempat ke ATM sebelum ke Bogor. Mata saya terpaku pada papan iklan ATM BCA persis di seberang jalan, saya lalu menyeberang ke sebelah kanan jalan menuju ATM BCA, di sebelah kirinya juga terdapat ATM Bank Danamon, ada juga Bank Mega, jadi cukup membantu para pengunjung yang membutuhkan uang cash. Saya kemudian kembali ke sebalah jalan dan masuk ke dalam gerbang antrian loket pembelian ticket masuk  dan membeli ticket masuk seharga Rp.9500. Ticket ini sudah bisa digunakan untuk mengunjungi seluruh areal di dalam Kebun Raya Bogor termasuk ke Museum Zoologi.

Saya lalu memulai berpualang di tengah hutan kebun raya, membidik setiap makluk, tumbuhan, bunga bungan yang sempat ku temui sepajang penjelajahanku. Sayangnya, saat aku pergi, si Bunga Bangkai Rafflesia Ardnoldi tidak lagi mekar, sehingga saya tidak bisa menyaksikannya secara langsung dan memotretnya. Petualangan ke rumah anggrek (orchid house) cukup berkesan sebab di sana hampir semua anggrek sedang mekar dengan kembangnya yang rupayan dan warna-wari. Ku habiskan sekitar 80 hingga 100 frame gambar di dalam taman ini.

Selanjutnya saya keluar dari rumah angrek lalu memilih santai di jalan dengan bunga sepanang jalan yang penuh warna-warni, menikmati beberapa potong roti bakar yang saya beli di gerbang masuk tadi. sesekali saya membidik beberapa frame gambar, memcari angel yang tetap untuk membidik warna-warni bunga di sepanjang jalan. Mata saya juga terpanah ketika melihat beberapa tangakai kembang teratai yang mulai memekar di dalam kolam dan berjalan merapat dan membidik beberapa frame

Kembang Teratai

Tentang Kebun Raya Bogor ( Bogor Botanical Garden)

Yang saya tahu sekilas dari literature bahwa awalnya Kebun Raya Bogor adalah bagian dari hutan atau taman buatan yang diperkirakan telah pada pemerintaha Prabu Siliwangi, 1474-1513 dari Kerajaan Sunda, sebagaimana prasasti. Tujuan hutan ini adalah untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan memelihaar berbagai macam benih-benih pohon.

Kebun Raya Bogor

Hutan ini kemudian dibiarkan begitu saja setelah Kerajaan Sunda ditaklukan oleh Kesultanan Banten hingga Van de Capellen, Gubernur Jenderal Belanda ini membangun resident disini.

Sekitar tahun 1800-an Istana Bogor dihuni oleh Gubenur Jenderal Thomas Stamford Raffles yang memiliki ketertarikan dengan Botani, Ia kemudian mengmbangkan halaman Istana menjadi kebun yang indah dengan bantuan ahli botani W. Kent dari London sehingga mendesain halaman Istana dengan gaya klasik Inggris sebagaimana Kebun Raya Bogor saat ini.

Kebun Raya Bogor ini disebut-sebut sebagai awal perkembangan Ilmu Pengetahuan di Indonesia sebab berawal dari sinilah muncul beberapa institusi

Istana Bogor