Perjalanan kali ini saya mengawali  dari Yogyakarat kota Gudeg. Sebenarnya rencana untuk pulang berlibur di Kaimana sudah ada dalam impianku lama, hanya saja belum saya temukan waktu yang tepat karena belum tersedia waktu yang tepat . Saya hanya bisa menelpon malalui telepon gengang , sekedar melepas rindu dengar mendengarkan suara Bapak, Ibu dan juga saudara saudaraku  dan syukurlah bahwa di Kaimana sudah terpasang jaringan TELKOMSEL dan INDOSAT yang cukup membantu kelancaran komunikasi di sana. Secara khusus  cukup memabantu saya untuk berkomunisaksi dengan ornag tua dan sanak saudara di sana.  Tepat pada bulan Ramadhan 1431 H tanggal 17 Agustus  jam 12.18 saya menerima kabar lewat email yang di kirim mbak Nune berisikan daftar nama-nama peserta yang lulus seleksi tahap interview beasiswa IFP IX 2010,  dan di situ ku ketemukan namaku, horee….horee.. aku  lulus seleksi beasiswa International Fellowship Program(IFP) -Foundation  Foundation, begitu gembiranya hati saya saat itu, malam itu juga saya saya mentraktir kawan-kawanku yang begitu gigih memberikan support. Terima Kasih semua sahabat-sahabatku yang hebat..!! Dan malam itu juga saya memutuskan untuk berangkat ke Kaimana alias pulang  kampung, bertemu Bapak, Ibu dan saudara-saudaraku . Besok paginya tanggal 18 Agustus saya ke travel agent membeli ticket pesawat ke Kaimana.

Ada dua maskapai penerbangan yang melayani rute penerbangan menuju kaimana dari Jakarta atau Yogyakarta, ada Lion air dan Express air. Saya memilih Lion air selain agak sedikit murah, saya juga sudah dipastikan mendapat seat dari Ambon-Kaimana . Ticket seharga 2.600.000 saya  tidak peduli, pokoknya harus pulang, “ I must go home” . Hari itu juga saya mengeluarkan beberap lembaran uang dari ATM BCA untuk mengambil tiket itu. Di tiket tertera jam keberangkatan pukul 19.15 WIB dari Bandara Yogyakarta dan akan tiba di Jakarta pukul 20.45 WIB.

Perjalanan pulang kali ini,  akan melalui rute Yogakarta-Jakarta- Ambon – Fakfak-Kaimana dan pesawat akan saya tumpangi adalah jenis Boeng 737-900ER (Extended Range). Ini adalah jenis pesawat terbaru yang diproduksi Boeng tahun 2001 dengan kapasitas penampungan penumpang yang lebih banyak dibanding Boeng 737 seri sebelumnya, selian kapasitsnya, cockpitnya juga telah dilengkapi dengan HUD (Head Up Display) dimana peralatan seperti ini biasanya hanya dipakai pada jet tempur/pesawat militer. Fungsi dari alat ini adalah untuk membantu pilot dalam menentukan kemiringan pesawat baik secara vertikal maupun horizontal sehingga penumpang terasa nyaman duduknya di seat jika pilot memutar pesawat ke kiri, ke kanan atau menaikan dan menurunkan pesawat. Pesawat ini juga menggunakan layar LCD yang terpadu dalam bentuk glass cockpit yang digunakan secara menyeluruh dan sistim Glass cockpit dan Lion Air adalah maskapai  penerbangan pertama di dunia yang menggunakan jenis pesawat ini. Teknelogi Sistim Glass cockpit ini diyakini ke depan akan menajadi trend untuk pesawat-pesawat terbaru nanti.  Wah keren juga…. Hanya kapan bisa saya terbangkan pesawat ini.. haa ha haa…. Cukup lewat Game Flight Simulator saja.

Tanggal 20 September 2010 perjalanan pun saya mulai, semua barang sudah saya packing, 1 suitcase dan 1 backpack, yang berisikan kameraku Nikon D80, beberapa buah lensa Nikon dan filter Cokin serta sebuah Laptop sebab selain berlibur, saya juga ingin memotret landscape Kaimana yang sangat terkenal dengan Senjanya hingga menginspirasikan lagu “ Senja Indah di Kaimana yang dipopulerkan oleh Alfin .

Pukul 06.15 menit, tepatnya setelah berbuka puasa dan shalat Maghrib, kami bergegas menuju bandara Setelah pamitan dengan kawan –kawan kos, Mas Joni, Mas Nono, Fatchi dan bapak kos Mas Cipto. Kami pun meluncur ke Bandara.  Saya bersama Adam dengan Revonya, Dani dan Ade Yamin, masing

masing dengan sepeda motor mereka. Mereka adalah sahabat-sahabat terbaik yang aku punya saat itu dan mereka akan selalu ku kenang. Hampir sejam mereka menemaniku di bandara Adisucipto Yogyakarta hingga tersisa 30 menit saya harus berangkat, Dani, Adam dan Yamin lalu berjalan menuju tempat parkir sepeda motor dan saya pun masuk ke dalam ruang tunggu Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Lima belas menit kemudaian terdengar pemeberitahuan dari ruang informasi bandara bahwa penumpang dengan nomor penerbangan  JT 563 Boeng 737- 900 ER Lion air tujuan Jakarta dipersilahkan naik ke pesawat udara melalu pintu 4, saya lalu masuk ke dalam pesawat bersama penumpang yang lainnya. Saya lebih suka memilih window seat sehingga pada saat cek-in saya selalu minta ke petugas untuk meberikan saya sebuah seat di window, dan saat ini saya diberi tempat duduk 16F, di tempat duduk ini saya bisa mengambil kesempatan untuk memotret dari udara keindahan malam kota Yogyakarta atau Jakarta nanti. Beberapa saat kemudian pesawat Boeng 737-900 ER  yang saya tumpangi ini meluncur perlahan keluar dari tempat parkiran menuju runaway. Dua orang pramugari sedang mensimulasikan penggunakan sabuk pengaman (seat belt), baju pelampung (life jacket) dan  masker oksigen (oxygen mask). Tepat pukul 20.15 WIB, pesawat lepas landas. Kami direncanakan tiba di Cengkareng pukul 21.10 WIB.

Ketika pesawat berada pada ketinggian kira-kira 4000 kaki di atas permukaan laut, pemandangan malam kota Yogyakarta tidak bisa lagi terlihat dengan jelas sebab cuacanya buruk, berawan tebal dan hujan rintik sehingga saya tidak bisa memotret kali ini. Pesawat Boeng ini cukup terguncang dengan tebalnya awan di atas kota Yogyakarta. Sekedar melepas kekecewaan memotret keindahan malam kota Jokjakarta dari udara, tak peduli lagi dengan tetangga sebelah seat-ku, kemungkinan dia seorang executive muda yang kelihatannya capek dan sudah ngantuk.Saya lalu memasangkan microphone MP4 di kedua telingaku sambil mengunyah sebatang silver queen, udara semakin dingin ketika berada di atas ketinggian 35000 feet, topi jaket ku tarik menutupi kepalaku, perlahan ku naikin sedikti lagi voleme MP4 hingga raungan suara mesin jet seperti menghilang dan hanya terdengar alunan musik MP4ku

Another aeroplane
Another sunny place
I’m lucky, I know
But I wanna go home
Mmmm, I’ve got to go home

Oh, Kaimana, aku pulang!!! Home, alunan suara yang sendu Michael Buble tembang ini membuat ku merasa enam jam perjalanan pulang ke Kaimana serasa begitu lama, anganku terbang melayang, terasa telah memotret di pantai yang indah dengan hamparan pasir putih, langit yang biru, laut yang jernih dan senja yang Indah. Hanya seketika mataku terpejam hingga  tertidur di atas seat 16F Boeng 737-900 ER lion air. Hampir menemui mimpiku, terdengar pemeberitahun dari pramugari, pimpinan cabin penerbangan malam itu bahwa mohon kencangkan sabuk pengaman dan menegakkan sandaran kursi serta melipat meja di depan penumpang, dalam beberapa saat lagi peswat akan segera mendarat di bandara Soekarno-Hatta-Jakarta.kira kira pada ketinggian 400-500 kaki pesawat mengalami sedikit guncangan, ada sedikit awan-awan tpis sebelum landing di ladasan. Tepat pukul 20.17 menit, pesawat landing di bandara Cengkareng- Jakarta, lebih dua menit dari jadwal yang di tiba, 10 menit kemudian saya sudah berada dalam gedung terminal 1A bandara Cengkareng. Saya cepat-cepat menuju ke front desk Lion air untuk melapor sebagai penumpang transit. Setelah melapor saya lalu berjalan masuk ke hall keberangkaan. Saya harus menungu sekitar 4 jam lebih untuk melanjutkan perjalanan saya ke Ambon, Fakfak, lalu Kaimana.  (***)