IndonesiaJakartaPeoplePeople & Culture

MODUS BANGET: SIAPA BOHONGI SIAPA DAN SIAPA BODOHI SIAPA?

modus_main-1

Sejak dua hari lalu di halaman facebook saya, ada begitu banyak posting yang lewat terus menerus terkait polemik Al Maidah:51 dimana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tj. Purnama (Ahok) ditudUh telah melakukan penodaan agama (religious blasphemy). Tidak hanya itu, pernyAtaan keras Nusron Wahid terkait polemik penafsiran Al Maidah: 51 pun menjadi viral dengan beragam kritik pedas   kepada dirinya. Saya mencoba berusaha menahan diri untuk tidak memberi komentar sedikit pun di media sosial terkait polemik penafsiran Surat Almaidah:51 itu. Sebab secara kapasitas saya tidak memiliki keahlian dalam menafsirkan ayat itu. Saya hanya cukup membaca pendapat-pendapat para ulama, ahli tafsir yang juga berseliweran di media sosial. Saya tidak mempersoalkan Suart Al Maidah: 51 itu. Itu benar adanya, namun juga ada banyak penafsiran ayat itu yang lebih kontekstual dan relevan dengan kebhinekaan Indonesia. Saya kemudian menimbang-nimbang secara kontekstual, pandangan mana yang bisa saya terima dengan konteks masyarakat Indonesia yang super majemuk ini, apalagi dalam konteks Papua. Sebab saya berkeyakinan bahwa Islam itu pembawa rahmat bagi seluruh alam, termasuk binatang, tumbuhan dan sebagainya dalam jagat raya, apalagi terhadap sesama manusia.

Setelah tiga hari polemik itu bergulir, ternyata saya pun menyerah ! saya pun harus ikut mengomentari itu. Namun sekali lagi, bukan soal Surat Almaidah:51. Setelah saya mendengar video yang dipersoalkan itu dan membaca sikap MUI Pusat yang nampaknya juga menafsirkannya dengan sudut pandangan mereka, yang bagi saya kejanggalan dalam memahami pernyataan Gubernur DKI Jakarta, sebagai mana telah beredar luas di media sosial. Entah, komenytar saya ini nantinya akan dibaca atau tidak, diterima atau tidak, yang perpenting bagi saya adalah menuangkan kegelisahan dalam kepala saya terkait polemik itu, biar tidak terus bekeliaran dibenak saya, dan mengganggu kepala saya.

Bola panas itu semakin memanas, ketikak nada keras dilontarkan oleh Nusron Wahid menantang mereka yang mengatakan Ahok telah melakukan penghinaan terhadapa agama Islam dalam acara ILC TV One edisi Selasa 11 Oktober 2016. Demikian juga dengan penafsiran Al Maidah:51. Pernyataan Nusron Wahid itu kemudian menuai kritik tajam, pedas dan bahkan hingga dikatakan bodoh. Itu dikarenakan pernyataannya bahwa ‘yang tahu kebenaran sesungguhnya tentang isi ayat-ayat Alquran adalah Allah, demikan juga yang tahu kebenaran sesungguhnya tentang pernyatan Ahok, ya Ahok sediri.” Selanjutnya Ia menambahkan bahwa “ QS. Al Maidah:51 itu multi tafsir. Kira-kira demikian, penyataan Nusron. Pernyataan pedas Nusron Wahid itu kini menjadi viral di media sosial dengan beragam kritik tajam bagi Ulama yang berseberangan dengan cara berpikir Nusron.

Saya ingin melihat kembali lagi beberapa penggal pernyataan yang diucapkan Ahok di Kepulauan Seribu itu, yang kemudian oleh MUI Pusat dituding sebagai ‘ Menghina Ulama.

 Berikut ini potongan pernyataan yang dikutip oleh MUI Pusat

Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu pilih saya, ya, kan. Dibohongi pakai surat Al Maidah:51, macam-macam itu. Itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih ni, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya?”

 Mencermati pernyataan Ahok di atas,  MUI Pusat mengambil dua kata sebagai pijakan dalam menentukan sikap mereka yakni kata  “dibohongi” dan “dibodohi”, sebagimana dalam penyataan sikap MUI Pusat yang beredar di media sosial, kemudian ditegaskan ulang oleh Wakil Sejken MUI Pusat Tengku Zulkarnain dalam acara ILC TVOne episode Selasa 11 Oktober 2016. Dua kata itu memang memiliki makna yang buruk, namun sebuah pernyataan tidak dapat dimaknai hanya dengan berpatokan pada dua kata.

Kata di “dibohongi” adalah kata kerja dalam bentuk pasif, demikian juga dengan kata “dibodohi” artinya kata dalam kalimat bisa memerlukan ‘pelaku’ bisa juga tidak perlu. Jika membaca kalimat selangkapnya ‘dibohongi pakai Surat Al Maidah:51, macam, macam itu. Nampak jelas bahwa kalimat itu tidak terdapat pelaku, sementara obyek dari kalimat ini adalah ‘masyarakat” yang hadir dalam pertemuan itu. Siapa yang “dibohongi?” Tentunya adalah ‘Masyarakat” , masyarakat yang mana? Masyarakat Muslim yang hadir dalam pertemuan itu,  jika mengacu pada alat (surat Al Maidah:51) dalam kalimat itu.

Lantas, siapa yang melakukan pembohongan itu? Pada kalimat “dibohongi pakai Surat Al Maidah:51, macam, macam itu…” Subyek atau pelaku dari kalimat itu tidak terdefinsihkan secara jelas. Hal yang sama juga berlaku pada kata “dibodohi.” Siapa yang melakukan pembodohan, juga tidak terdefinishkan dalam kalimat karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya?” Apakah yang melakukan pembohongan dan pembodohan itu adalah Ulama dalam pernyataan Ahok? Tidak, kalimat itu tidak mendifinishkan pelakunya. Lantas bagaimana Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat bisa mengambil pernyataan sikap keagamaan bahwa apa yang telah dikatakan Gubernur DKI Jakarta Ahok telah menuduh Surat “Al Maidah:51 adalah alat untuk melakukan pembohongan dan Ulama-Ulama yang mengajarkan Umat Islam dengan Surat Al Maidah: 51 adalah Pembohong”? Kemudian, Majelis Ulama Indonesia Pusat berkesimpulan bahwa Gubernur DKI Jakarta telah melakukan “Penghinaan” terhadap Ulama’ dan terhadap Umat Islam.” Pada titik ini tuduhan bahwa Ahok telah melakukan “penghinaan terhadap ulama” tidak dapat diterma secara logika bahasa. Sebab kalimat itu masih statis, pelakunya ambigua dan telah diinterpretasikan berbeda oleh MUI Pusat.

Majelis Ulama Indonesia

Foto disalin dari Islamedia.com

Sekarang coba kita lihat konteks dan modus dalam pernyataan Gubernur DKI Jakarta itu. Modus dan konteks di sini berkaitan dengan bagaimana hubungan antara kata kerja (verb) dengan realitas, niat, sausana, dan tindakan menurut tafsiran pembicara terkait dengan apa yang diucapkan. Pada posisi inilah Nusron Wahid berpijak dan berkoar, dan mengatakan bahwa yang tahu maksud sesungguhnya dari pernyataan Ahok, adalah Ahok sendiri. Nusron ada benarnya, namun bahasa itu statis dan makna bahasa itu juga ditentukan oleh pendengar. Sebuah pesan bahasa itu bisa diterima pendengar seperti apa yang diharapkan oleh pembicara, namun bisa juga berbeda dari harapan pembicara. Sehingga konteks dan modus itu sangat penting dalam memaknai bahasa. Untuk itu, pembicara dan pendengar haruslah dalam konteks yang sama. Oleh sebab itu konfirmasi itu penting, untuk memastikan makna bahasa itu.

Boleh saya katakan bahwa dalam video itu Ahok memang sedang berkampanye politik dan mengaharapkan dukungan masyarakat pulau seribu untuk dirinya dengan menyampaikan program-programnya. Oleh sebab itu jika dalam konteks politik maka “Ulama” sebagai pelaku yang dituduh melalukan pembohongan dalam pernyataan Ahok itu, tidak tepat. Dalam konteks itu, yang lebih dekat dengan konteks pembicaraan itu adalah “Politisi.” Politisilah yang melakukan Pembohongan dan Pembodohan itu. Secara tersirat adalah lawan politik Ahok. Sehingga pandangan bahwa Ahok menuduh Surat Al Maidah: 51 sebagai alat untuk melalukan pembohongan, serta menuduh para Ulama yang menyampaikan Surat Al Maidah: 51 adalah pembohong, itu sungguh sangat menyesatkan. Akan berbeda jika, ada Politisi yang juga adalah Ulama dan adalah juga lawan politik Ahok, maka pantaslah Ia merasa dihina oleh pernyataan Ahok itu.

Selanjutnya, bagiamana dengan tuduhan ‘penghinaan terhadap umat Islam?” dari pernytaan MUI Pusat. Pada satu sisi tuduhan ini masih bisa diterima sebab obyek dari alat ( Al maidah: 51) yang digunakan dalam kalimat itu adalah ‘masyarakat Muslim.” Namun, itupun sungguh berlebihan sebab kembali lagi pada siapa yang dibodohi? Maka yang patut merasa dihina adalah mereka yang mau dibohongi dan dibodohi oleh para politisi. Bagi mereka yang tidak merasa dibohongi atau dibodohi, mungkin tidak merasa terhina. Masing-masing orang harus kembali bertanya pada dirinya, apakah saya pernah dibohongi atau dibodohi oleh politisi dengan menggunakan Surat Al Maidah: 51 itu? Jika merasa benar, penah, maka dialah yang patut merasa dihina.

Lalu, apakan pernyataan Ahok itu memiliki modus penghinaan terhadap umat Islam? Penghinaan terhadap Ulama? Apakah masyarakt Islam di Pulau seribu juga mamaknai penyataan Ahok itu sebagai ‘ penghinaan terhadap Ulama? Atau penghinaan terhadap Umat Islam? Itu mungkin bisa terjadi jika antara Ahok dan Masyarakat di Pulau Seribu tidak berada dalam konteks yang sama. Untuk memahami modus dari pernytaan Gubernur DKI itu, maka coba kita menganalisa bahasanya, hubungan antara tindakan (kata kerja) dengan subyek, obyek keterangan pendukung lainnya. Termasuk irama berbicara, volume, gerak dan expresi tubuh. Sudahkan Majelis Ulama Indonesia Pusat menganalisa itu? Sebelum memberi kesimpulan bahwa Ahok telah melakukan penghinaan terhadap umat Islam?

001

Gambar : Liputan6. com

Saya kira kita semua paham bahwa Ahok memang sejak menjadi gubernur DKI Jakarta selalu ditantang, bahkan hingga ada gubernur tandingan. Karena tidak seiman, dan isu sara lainnya.  Telepas dari upaya-upaya penjegalan Ahok sebagai calon Gubernur DKI Jakarta, oleh kelompok-kelompok Islam radikal, karena berbeda agama,  saya juga menilai sikap MUI Pusat dalam Pernyataan Sikap Keagamaan itu, juga sedikit tendensius,  tidak jernilih memaknai setiap kalimat dalam pernyataan itu. Siapa yang melalukan pembodohan?  dan Siapa yang dibodohi? MUI nampak seperti mengamini aksi-aksi kelompok Islam radikal dalam menantang dan menolak Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Dalam kalimat dibodohin gitu ya?” atau kata “dibohongin”, saya tidak menemukan adanya modus penghinaan atau pembodohan, terhadap Ulama dalam kalimat itu. Sebab subyek kalimat itu tidak terdefinishkan. Itu adalah tafsiran dari MUI Pusat sendiri tanpa konfirmasi kepada pembicara. Padahal  Kalimat itu sendiri bermodus ‘konfirmasi’, ingin meminta persetujuan khalayak terkait suatu tindakan (action) yang telah terjadi. Apakah itu benar atau tidak, jawabannya, pembicara tidak memerlukan itu, sebab pembicara juga memiliki jawabannya sendiri.

Hanya karena kata “dibohongin” dan “dibodohi” memiliki makna yang buruk, maka, pernyataan Ahok itupun dinilai buruk. Itu juga mungkin kekeliruan yang dilakukan oleh Ahok. Jika saja kata itu diganti misalnya dengan ‘ dipolitisir pakai Al Maidah: 51 dan atau “dikelabui gitu, ya? Mungkin akan memiliki dampak yang tidak seheboh ini. Al Maidah :51 sebagai alat tidak menjadi korban dalam pernyataan itu (netral), entah digunakan dengan kata ‘diplintir, dipolitisr, dikelabui, dibodohi, dan sebagainya.  Subyek (pelaku) lah yang berkepentingan dengan alat itu, maka subyeknya lah harus ditelusuri.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *