Blog Corner

Nashat Khotbah Jumat Sang Ustad

Adzan Subuh terdengar begitu nyaring ditelingaku, memang karena hanya jarak beberapa langkah dari kamar kosku, ada mushalla kecil kira-kira berukuran 9 x 8 meter persegi, cukup kecil namun selalu saja padat terisi pada waktu-waktu shalat, meskipun aku sendiri jarang shalat bersama warga kompleks sekitar di mushalla.  Adzan subuh telah usai, padahal aku masih belum sempat memejamkan mata sedikitpun, ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan, di awal-awal semester ini,selain aku juga  harus segera menyelesaikan beberapa tulisan yang akan dikirim ke beberapa jurnal ilmiah milik perguruan tinggi mengingat jatuh tempo untuk memasukan naskah tinggal beberapa hari lagi. Perlahan aku bangkit dari duduk, tubuhku terasa pegal dan linu, kelihatan kurus kering sudah beberapa hari ini aku tak sempat tidur pulas. Perlahan aku melangkah keluar kamar dan menghidupkan keran air yang ada di dekat kamar mandi, tetasan air keran membasahi tanganku, terasa begitu dingin menusuk hingga ke dalam lubang pori-pori.

Usai shalat subuh, berbaring sejenak di atas karpet, fajar mulai nampak terlihat dari jendela kamarku,  suara ramai mulai terdengar di sekitar kompleks itu, masing-masing orang memulai kesibukannya, pedangang sayur dan buah, penjual makanan di warung-warung di lorong kompleks. Di sebelah kiri dan kanan tetangga kosku juga sudah terdengar sibuk tapi rasa ngantukku tak dapat lagi aku tahan.

“ Ah, aku tidur beberapa menit, biar sebentar nantinya badan agak fresh” aku harus bangun jam setengah tujuh pagi, aku harus segera berangkat mencari kekurangan buku referensi yang telah aku catat dalam buku agendaku untuk menyesaikan tugas-tugasku dan juga beberapa tulisan untuk jurnal Ilmiah yang sudah separuh jadi sebab seminggu ke depan sudah pasti banyak tugas yang telah menanti. “

Pengingat waktu dari ponselku, aku atur hingga menunjukan pukul enam lebih tiga puluh menit, kumputer tua rakitan itu aku matikan dan akupun membaringkan tubuhku yang telah letih di atas kasur busa yang teramat tipis.Ponsel yang aku letakan dekat kepalaku bergetar dan berdering, aku terbangun sejenak dan mendengarkan nada deringan ponselku  Shimmering Horizon, aku copy dari album Best Of Kitaro, lagu ini selalu aku gunakan sebagai musik pengingat waktu bangun pagi, aku begitu suka irama musik ini, begitu tenang dan lembut, tak jarang aku hanyut terbawa alunan serilungnya yang terasa begitu kental dan merdu, Irama musik ini juga mengingatkan aku pada seorang gadis ayu yang sempat aku kenal dan saling jatuh hati, Dia pun juga suka dengan musik ini, Kami sering mendengarkan musik ini berdua, ah tapi pagi ini, entah di mana dia brerada.

Rasanya ingin sekali aku mendengarkan suaranya di pagi-pagi buta ini, sebelum telingaku mendengarkan suara-suara risih dan hiruk pikuk kota tua ini, Sayangnya, hari ini aku tak tahu dimana dia sekarang, Alamatnya pun aku tak tahu lagi apalagi nomor telepon, aku sempat diberikan oleh beberapa teman-temanya, tapi ketika aku aku hubungi selalu tidak bisa.”

Aku mengambil ponseku dan aku mencari namanya di daftar kontak. Aku mencoba menghubunginya. Sayangnya, “ Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi.”

Jarum jam sudah menunjuk pukul enam lebih tiga puluh tujuh menit, aku harus segera mandi dan berangkat ke kampus, biar nanti nanti sarapan pagi di warung-warung dekat kampus, biasanya sudah ada yang berjualan pukul setengah delapan pagi.

Hampir jam delapan pagi, aku tiba kampus, kebetulan karena jarak kampus dengan tempat kos ku tidak terlalu jauh, kira-kira butuh lima belas menit berjalan kaki, dan aku terbiasa berjalan kaki ke kampus.

Kampus dengan gedung tinggi yang megah masih nampak sepi, hanya ada beberapa mahawiswa yang sedang berbincang-bincang di lobi bagian depan, di samping sebelah kanan ada pegawai cleaning service yang sedang memungut sampah ke dalam kantong plastik hitam.

“Kok sepi sekali? Biasanya jam segini sudah ramai dengan mahasiswa,” ah mungkin masih dalam Susana liburan semester” teman-temanku juga masih belum ada yang kembali dari liburan.”

Aku berjalan peralahan menyusuri sisi kiri gedung utama kampus Paska Sarjana Universitas Pajajaran Dipati Ukur, ada warung-warung kecil yang menjual kopi panas.

Pak Dede biasanya pagi lebih awal sudah berjualan, mungkin Dia tahu kalau kebanyakan mahasiswa jarang sarapan pagi di rumah, selalu langsung berangkat ke kampus dan biasanya cari sarapan pagi di luar.

Aku mampir di warung pak Dede. Pak Dede bersama istrinya sudah mengenal aku, soalnya hampir tiap hari , pagi, siang atau sore, aku slalu mampir dan ngopi di situ.

Bu Dede langsung menyapa aku dengan sapaan khas Bandung, aku tidak paham persis artinya tapi kira-kira sama dengan panggilan abang khas jakarta

“AA, Mau ngopi?

“Iya bu, Aku minta Capuccino Panas,”

“Sekalian AA, tu lempernya masih hangat,”

“Iya, dua.”

Harumnya, Kopi racikan Bu Dede, benar-benar menusuk hidungku hingga ke otak, aku menarik sebungkus rokok dari dalam  saku, ku nyalakan sebatang.

Wah…, terasa sempurna merokok sambil ngopi, kurangnya cuma tidak ada teman ngobrol, Iya kan Bu?

“He he he, iy. AA ni suka bercanda, entar kalu ada teman ga mau ngobrol”

‘Iya, enaknya ngobrol tu berdua atau bertiga, kalau kebanyakan malah rebut”

“Iya, emang gitu kok” kalau banyak teman pasti ribut”

Baru tiga kali meneguk kopi dan membuka lemper yang dibungkus daun pisang, tiba-tiba ada sepeda motor yang lewat di depan warung, sepertinya aku kenal sepeda motor itu. Itu sepeda motornya Adi, nama legkapnya adalah Hardiansyah. Bergegas aku keluar dan melihat ke arah sepeda motor yang parkir tidak jauh dari warung Pak Dede, tempat aku berdiri. Rupanya, si Fahrul yang memakai sepeda motornya Adi.

“Hey, Rul, mau ke mana?”

“Hey, Jimmy, apa kabar? Dah pulang liburannya?”

“Wah.. saya tidak pergi liburan, tetap stay saja di sini”

“Tiket pesawatnya mahal sekali, untuk pergi dan pulang sudah bisa habis enam jutaan, lagian liburannya tidak terlalu lama, kalaupun aku pakai kapal laut, liburannya habis hanya untuk perjalanan.” Lebih baik aku tetap tinggal saja sambil kerjaian semua tugas-tugasku.

“Oh, iya benar, Ya, aku paham itu, aku juga sama tidak pergi liburan, kamu kan tahu, berapa juga biaya yang harus aku keluarkan untuk ongkos pergi dan pulang, aku gak mau terlalu membuat Ibuku Susah, Adi yang pergi liburan dan dia titip sepeda motornya ke saya”

Fahrul Maulana nama lengkapnya, yang sudah sejak lama tinggal menetap di Kalimantan tepatnya di Kabuapten Sambas, ayahnya dari Jawa Timur sedangakan Ibunya orang dari Kalimantan, Ayahnya adalah salah satu yang tewas dalam Konflik di Sambas tahun 1999 lalu. Sekarang tinggal Ia bersama Ibunya dan dua orang adik perempuannya yang kerjanya sehari -hari berjualan makanan kecil, seperti yang dilakukan Pak Dede dan Istrinya sekarang.

“ lalu kamu sudah sudah beres semua tugasnya? “

“Belum, dua sudah tuntas, yang satunya lagi masih belum selesai, masih mau cari buku untuk menyelesaikannya”

“Wah, bagus deh kalau begitu” aku baru selesaikan satu yang duanya lagi tinggal sedikit lagi, dan aku juga lagi mau cari buku”

“Gimana kalau hari ini kita ke toko buku murah?”

“ Ya, Setuju tapi jangan sekarang, aku lagi ngopi ni, mendingan kita ngopi dulu deh, sebentar kira-kira jam sepuluh gitu baru kita ke toko buku”

Great, kamu yang traktir?”

“Oh, boleh, kalaupun ga ada uang, utang juga ga apa-apa kan Bu? Nanti juga dibayarin”

Bu Dede langsung menyahut candaanku

“ Ya boleh, besok, lusa atau bulan depan juga boleh, asal jangan dilupain saja..”

Bu Dede memang suka diajak senda gurau, tak segan-segan aku selalu membuat Pak Dede dan Instrinya tertawa. Tak menunggu lama, satu cangkir cappuccino lagi diracik Bu Dede untuk Fahrul.

Pak Dede dan Instrinya memang sangat pengertian terhadap mahasiswa yang datang ke warungnya dan terkadang suka bercanda guarau, mereka berdua sangat ramah dan baik terhadap siapapun yang sering mampir ngopi atau sekedar duduk nongkrong dan merokok, termasuk aku dan Fahrul.

Bu Dede, malah sudah beberapa kali aku utang rokok.  Pak Dede sudah beberapa kali ajak aku main ke rumahnya di Garut, hanya saja aku yang belum sempat. Tapi aku ingin sekali ke sana.

Matahari sudah cukup tinggi, sketika aku melirik jam tanganku, pukul Sembilan lewat tujuh belas menit, kopi di cangkir sudah habis. Aku dan Fahrul harus melanjutkan rencana kita ke toko buku murah, dari saku belakang aku mengeluarkan dompet dan menarik selembar lima ribu rupiah untuk harga dua cangkir kopi cappuccino dan empat bungkus lemper.

“ Bu, ni lima ribu, dua cangkir kopi dan empat bungkus lemper”

“ Oh, iya makasih AA”

Aku tahu persis harga secangkir kopi Bu Dede dan sebungkus lemper, sebab hampir setiap hari aku selalu ngopi di warungnya. Terkadang jika aku punya cukup rezeki, aku sering kasi lebih untuk harga secangkir kopi.

Aku dan Fahrul melaju dengan sepda motor, ke arah timur, yang kami tuju adalah sebuah bangunan tua dimana para pedagang buku menggelar dagangan mereka. Hanya sekitar tujuh menit kami pun tiba di gedung  tua itu. Di tempat ini buku-buku dijual di bawah harga standar, ada buku-buku terbitan baru dalam negeri maupun  buku-buku bekas tetapi masih dalam kondisi layak digunakan. Banyak mahasiswa yang senang datang mencari buku di tempat ini, selain harganya di bawah standar, pembeli juga boleh menawar hingga hagra yang cocok dan selalu diberi potongan harga oleh penjual.

Aku dan Fahrul pun berpencar, masing-masing mencari buku yang diinginkan, hampir dua jam kami mengelilingi kios -kios di bangunan tua itu, dan kemudian bertemu di lorong tengah.

“Rul, ada yang didapat bukunya?

“ Ya, ada tiga buah yang aku dapat, ini sudah cukup untuk membantu, meskipun masih kurang, sebentar aku juga cari lagi di internet, mungkin saja ada referensi-referensi yang lain”

“Good, aku juga dapat satu, tidak terlalu berkaitan dengan tugas yang sekarang ini, tapi ada sebagain isinya yang menarik dan bisa aku jadikan rujukan untuk membuat tulisan-tulisan lain”

Kami pun berjalan menuju ke kasir.

“ Berapa harganya tiga buku ini?”

“Sebentar ya!

Si penjual itu melihat judul-judul buku yang dipegang Fahrul sambil tangan kanannya menekan kalkulator yang ada di atas mejanya dan menyebutkan judul buku-buku itu serta harganya.

“ Metode penelitian Bahasa dua puluh ribu rupiah, Prosedur penenelitian sastra dua puluh ribu rupiah, dan Metode Kritik Sastra juga dua puluh ribu rupiah, totalnya enam puluh ribu rupiah, tapi saya korting sepuluh ribu jadi semuanya lima puluh ribu”

“Oke, saya ambil.”

Fahrul mengeluarkan selembar uang kertas lima puluh ribu rupiah untuk harga tiga buah buku itu. Memang lumayan murah jika dibandingkan dengan toko-toko buku modern seperti Gramedia, Palasari, dan lain-lainya. Tiga buah buku seperti itu harganya bisa berkisar antara Sembilan puluh hingga seratus ribu rupiah.

Dan aku pun menyodorkan buku yang ada ditanganku kepda si penjual buku.

“ yang ini berepa harganya?”

“Antropologi Agama, harganya dua puluh lima ribu rupiah”

“Kurang sedikit lagi pak?”

“Boleh, dua puluh ribu, harga pass”

“ Oke, aku ambil”

Aku pun membayar dua puluh ribu untuk buku karya Brian Morris, sebenarnya buku ini tidak terlalu berkaitan dengan tugas yang sedang aku kerjakan tetapi aku sangat tertarik dengan ilmu Antropologi, selalu saja aku beli buku-buku Antropologi, apalagi yang satu ini, Brian Morris membahas kritik-kritik teori agama kontemporer dari para ilmuan seperti Levi-Strauss, Marxis, Weber, Alasdair, dan lain-lainnya. Dalam buku ini, Brian Morris menginterpretasikan Antropologi dan Agama dalam pengertian yang paling luas, bagi Dia setiap orang yang mengkaji kondisi manusia adalah seorang Antropolog dan Agama mencakup seluruh fenomena yang memiliki kualitas yang sakral atau supranatural, seperti totemisme,mite, Ilmu ghaib, ritual, keyakinan pada jiwa, simbolisme dan lain-lainya.

Sungguh aku sangat tertarik untuk mempelajari seluruh isi buku ini, Buku ini harga standar di toko-toko buku modern kira-kira antara empat puluh sampai lima puluh ribu rupiah.

Meskipun demikian, tidak semua buku yang kami inginkan tidak kami dapat di sini, sebeb jumlah stock dan judul buku yang ada di gedung tua ini juga terbatas.

Bergegas, akau dan Fahrul keluar dari gedung tua itu, berjalan menuju ke areal parkiran dimana sepeda motor kami parkir. Matahari sudah hampir lurus atas kepala, begitu panas terik, getar dan deru mesin kendaraan di jalan raya melaju meninggalkan debu beterbangan.

Terdengar dari menara-menara masjid, lantunan ayat-ayat suci al-qur`an, aku ingat kalu hari ini hari juma`at.

“Rul, hari ini hari jum`at.”

“Iya benar, Kita mau shalat juma`at di mana?”

“, Diman saja, kamu tahu dimana baiknya”

“Oke, kita berangkat”

Sepeda motor di hidupkan, ditengah teriknya matahari dan debu yang beterbangan, kami melaju di jalan raya dengan kecepaan rata-rata enam puluh kilometer perjam menuju arah jantung kota. Aku tahu ke mana kita sedang menuju.

Hanya kurang dari tiga puluh menit, kita pun tiba di Masjid Raya Bandung yang memiliki dua buah menara paling tinggi yang berdiri kokoh di samping kiri dan kanan. Segera kami mengambil air wudhu yang terletak di lantai bawah, beberapa saat lagi shalat jum`at akan segera dilaksanakan.

Shalat jum`at segera di mulai, sura adzan terhemapas dari dua buah menara tegar di samping kiri dan kanan masjid, menghantam gedung-gedung tinggi, perkantoran dan pusat-pusat perbelanjaan, hingga lorong-lorong sisi kota, warga berdatangan memuhi masjid untuk melaksanakan shalat jum`at berjamaah.

Lepas shalat jum`at aku dan Fahrul sekedar melepaskan lelah di lobi samping masjid, bukan hanya kami, ada begitu banyak orang yang usai shalat jum`at sekedar beristirahat sejenak sebelum kembali melaksanakan pekerjaan mereka.

“ Rul, selanjutnya apa rencanamu?”Apa masih mau lanjut cari buku lagi?”

“Ah, sudah cukup, sebentar aku coba pinjam lagi sama Ina, aku lihat Dia punya banyak buku, mungkin saja ada yang bisa aku pinjam atau sekedar copy.”

“Iya, kalu memang demikian, bagaimana kalau kita istirahat sebentar, lalu kita pulang saja.”

“ Baiklah.”

“ Tapi aku berlainan arah pulangnya, aku mau ke rumah teman di Cibiru, supaya tidak merepotkan kamu, aku nanti ikut Bis Damri saja, kan langsung ke sana”

“ Oh, sebenarnya tidak merepotkan juga, kan kamu satu-satunya sahabatku yang paling baik, tapi bolehlah, kalu memang kamu mau ikut bis”

Biar terasa aman Kami berdua masuk ke dalam masjid dan beristirahat sejenak, seluruh bangunan Masjid yang dilapisi marmer yang indah membuat suasana di dalam sini terasa begitu sejuk dan tenang, sementara di luar sana panasnya begitu terik, Susana kota Bandung yang selalu sejuk, kali ini bener-benar panas terik.

Akan tetapi panas terik hari ini, tidak menghalangi semangat pak Oji, dia adalah salah satu dari sekian banyak pedagang kaki lima yang setiap harinya, dari pagi hingga malam hari menggait rezeki di sini, di areal masjid ini. Aku pernah beberapa kali membeli jajananya, Kopi hangat dan kacang tanah rebus, dia juga menjual air minuman kemasan dan tahu goreng, tak berbeda dengan pedagang kaki lima yang lain yang selelu berjualan di areal ini. Mereka mungkin tidak terlalu khawatir jika terkena razia petuga TRAMTIB, Kota Bandung.

Masjid ini memang telah dirancang sedemikian rupa hingga lokasi masjid ini selalu ramai, Si perencang masjid ini mungkin bermaksud ingin memasyarakatkan masjid atau mendekatkan masjid dengan masyakat. Ada terdapat pusat-pusat perbelanjaan di sekelilingya, juga memiliki Taman tempat rekreasi dan juga ada Tourist Information Center (TIC). Setipa sore hari, tempat ini selalu dipadati oleh warga, ada yang ingin bersantai dengan keluarga, ada juga yang datang untuk shalat, ada juga yang datang untuk berbelanja. Sunggung menarik si perancang Masjid ini.

Di samping kesejukan bagian dalam masjid ini juga karena kami keletihan, apalagi aku yang semalaman begadang, meskipun tadi pagi sempat tidur sedikit tapi itu tidak cukup. Kami berdua pun tertudur di dalam masjid itu hampir sejam.

Aku terbangun, begitu juga Fahrul, suara-ramai sekelompok orang yang masuk ke masjid, sepertinya sebuah kelompok majelis dzikir, hampir seluruhnya memakai pakain putih-putih, mereka mungikn mau melaksanakan dzikir bersama.

“ Rul, kita jalan sekarang yuk?”

“ Ayo, kamu langsung jalan ke halte bis?”

“Iya, aku naik DAMRI di sana.”

“Baiklah, sampai ketemu”

“Oke,Bye!”

Aku berjalan ke sisi sebela kiri masjid, ada sebuah halte bis Damri yang selalu di padati warga yang sedang menunggu Bis.

Tak lama kemudian bis Damri ber-AC warna biru tujuan Cibiru tiba, puluhan orang berebutan naik ke dalam bis untuk mendapatkan tempat duduk. Aku menempati tempat duduk di bagian tengah sisi kiri jendela bis. Di sebelah kananku ada seorang perempuan setengah baya yang sedang membawa beberapa kantong plastik belanjaannya.

“AA mau ka mana?”

“ Mau ke  Cibiru?”

Perempuan itu lanjut bercerita dalam bahasa Sunda, hampir dua menit dia berbicara tapi aku tetap diam dan tidak merespon pembicaraannya, memang aku tidak terlalu bisa bahasa Sunda, kalu mengerti orang ngomong mungkin masih bisa sedikit karena terbiasa dengar teman-teman ku ngomong. Perempuan itu pun sadar kalau orang yang sedang diajak berbicara ini kulitnya berwarna hitam dan rambutnya keriting, sudah pasti bukan orang Sunda dan  tidak bisa bahasa Sunda. Dia pun meminta Maaf

“Duh, Maaf AA, terbiasa ngomong Sunda jadi terbawa,” AA dari NTT?”

“ Bukan, aku dari Papua”

“Oh, iya. Tadi aku gnomong dengan Bahasa Sunda, ga nyangka kalau kamu bukan orang Sunda”

Lanjut perempuan itu,

“Ahh, tapi ada sebagian orang juga dari Ambon, NTT yang sudah terbiasa dan bisa bahasa Sunda”

“ Iya benar, mungkin mereka sudah lama tinggal di sini, kalau aku belum terlalu lama jadi masih belum bisa”

Dalam hatiku berkata

“ Kenapa kamu tidak gunakan bahasa Indonesia mungkin  lebih baik atau Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Bahasa Arab juga boleh.”

Kejadian ini bukan baru kali ini, sudah beberapa kali pernah aku alami. Tapi di satu sisi aku sangat kagum dengan kekentalan budayanya di sini secara khusus bahasanya, jangankan di bis, di tempat-tempat resmi juga sering menggunakan Bahas Sunda, beberapa dosen di kelasku yang memang asli Sunda sering menggunakan Bahasa Sunda, meskipun terkadang teman-teman yang lain sedikit tidak setuju. Tapi bagiku itulah sebuah kebanggaan bagi mereka, upaya dalam mempertahankan identitasnya agar tetap survive termasuk budaya bahasanya hingga beratus- ratusan tahun ke depan. Sebagai orang asing memang harus sedikit menyesuaikan dan bila perlu harus mempelajari budaya termasuk bahasanya. Saya jadi ketawa sendiri dalam hati, Lalulsan sarjana S1 saya dulu memang ilmu bahasa tapi aku sama sekali tidak terpikirkan kalau harus belajar bahasa Sunda juga ketika belajar ilmu sastra.

Kejadian ini, memamang agak berbeda dengan di daerahku, bahasa daerah lokal begitu banyak, kurang lebih ada dua ratus limu puluh bahasa lokal dan penuturnya pun tidak  terlalu banyak seperti Bahasa Sunda Jawa, Batak atau Bugis yang penuturnya di atas satu juta sehingga masyarakat di sana umumnya berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, dan hampir semu orang di sana dari yang kacil hingga yaang tua renta bisa berbahasa Indonesia. Saya sangat yakin bahwa sekitar seratus atau dua ratus tahun ke depan beberapa bahasa lokal mungkin akan punah karena ditinggal penuturnya.

Dekat di depan kami, ada dua orang gadis yang baru saja naik di pertengahan jalan dan berdiri berpegangan pada gantungan di bis karena tempat duduk terisi penuh. Satunya berambut sebahu menggunakan jeans hitam, baju kaos oblong putih dan sepatu karet, satunya lagi berjilbab biru, baju lengan panjang biru dengan setelan jean hitam ketat plus sandal karet setengah sepatu berwana hitam. Keduanya mamakai backpack di punggungnya, mungkin mereka adalah mahasiwi. Mereka berdua sedang asik berbincang-berbincang dalam Bahasa Sunda, dari perbincangan mereka secara keseluruhan aku tidak terlalu paham tapi yang bisa aku paham dari perbicangan mereka adalah mereka sedang berbicara tentang kenaikan harga angkutan kota, sehingga lebih agak irit kalau mereka menggunakan Bis Damri.

Sepanjang perjalanan selalu saja ada penumpang yang naik di pertengahan jalan, Bis tampak sesak bergantungan di lorong tengah dari depan hingga ke belakang, Si penagih karcis begitu kesulitan untuk menagih ongkos dari setiap penumpang yang ada di bis dari depan hingga belakang, tapi nampaknya si penagih karcis itu telah terbiasa melakukan itu dan bukanlah masalah baginya.

Beberpa saat kemudian Bis berhenti di Pasar Ujung Berung, ada beberapa orang yang akan turun di sini, termasuk Perepuan setengah baya yang duduk di samping, dari atas Bis aku melihat  banyak  buah- buahan yang  sedang pajang di samping jalan. Aku pingin membeli beberapa kilo rambutan untuk dibawah ke teman-teman di  Cibiru.  Dua hari lalu aku dieritahu Sukri, kataya si Alim lagi sakit san Jul juga demam. Mungkin sudah sembuh atau masih sakit.

Lalu aku pun turun dari bis dan berjalan menuju buah rambutan yang berada dekat lorong masuk ke dalam pasar. Aku menuju seorang kakek yang juga menjual rambutan. Aku coba menggunakan Bahasa Sunda mesikupn masih amburadul.

“ Kek, sabaraha sa kilo?

“ sa kilo tilu rebu”

“ tilu kilo”

Kakek tua itu pun memasukan rambutan yang ada di meja jualannya ke dalam kantong plastik hitam lalu ditimbang hingga persis tiga kilo.

Aku keluarkan uang sepeluruh ribu dari saku bagian depan celanaku dan membayar tiga kilo rambutan milik kakek itu.

“ Ni, kembilnya sarebu?”

“Ga usah kek”

Aku memgang kantong plastik berisi rambutan dan membalik badan untuk melangkah keluar dari tempat jualan kakek itu, persis di depanku ada seorang kekek yang melunjurkan tangannya ke aku. Akau agak terkejut melihatanya. Kakek itu digendong oleh seorang anak muda, entah itu anaknya atau bukan anaknya, anak muda itu menggendong kekek itu dan berjalan memintah sedekah dari orang-orang di sekitar pasar ini. Kakek itu hanya berkata dengan nada perlahan dan penuh kasihan.

“ Punten,..untuk makan hari ini, ”

Bertemu dengan anak kecil peminta-minta atau pengamen di jalanan maupun di dalam bis kota, bukanlah hal yang aneh dan selalu aku temui akan tetepi kali ini aku menemui hal aneh yang belum pernah akui temui sebelumnya.

Dari saku sebelah kananku aku keluarkan beberapa uang koin kepada kakek itu. Memang aku selalu siapakan bebrapa uang koin ketika keluar rumah untuk diberikan kepada anak jalanan atau pengamen di bis kota maupun di tempat-tempat umumnya yang aku temui. Sebenarnya aku tahu  kalau di beberapa sudut kota ada terpasang  peraturan pemerintah daerah yang melarang untuk tidak memberikan uang kepada anak-anak jalanan tetapi hati saya teramat sedih melihat hal itu.

Di sepanjang jalan menuju ke rumah temanku, aku tak habis membayangkan orang tua itu dan anak leleki muda tadi. Jika saja anak lelaki mudah itu mau menggunakan tenaganya yang ada seperti dia menggendong kakek mengelilingi Pasar itu dari pagi hingga sore hari,  untuk bekerja di ladang, sawah, pabrik atau mungkin buru kasar di bangunan itu akan lebih baik daripada apa yang ia lakukan sekarang ini. Saya teringat sebuah kisah antar Rasulullah dengan Sahabatnya Sa`ad al-Anshari yang disampaikan khotib pada khotbah juma`at siang tadi bahwa suatu kesempatan Rasulullah bertemu dengan  Sa`ad al-Anshari yang memperlihatkan tangannya yang melepuh lalu Nabi bertanya;

“Mengapa tanganmu hitam kasar dan melepuh?”

Sa`ad menjawab

“ Tangan ini kugunakan untuk mencari nafkah bagi keluargaku.”

Dan Nabi pun berkata,

“ Ini tangan yang dicintai Allah,” dan mencium tangan Sa`ad itu.

Jika saja semua orang mau meniru kisah ini, maka hidup ini tidak aka nada lagi orang-orang yang terus membuka tangan di bawah dan mengharapakan belas kasihan orang lain. Miskin bukanlah orang yang berjalan kesan-kemari meminta-minta kemdian diberi seusap dua makanan. Akan tetapi jika hal meminat-minta itu sudah menjadi profesi atau pekerjaan mereka maka selamnaya tangan-tangan mereka akan selalu di bawah.

  1. *****