Pandangan bahwa Eropa yang disebut-sebut sebagai benuanya negara-negara maju dan sejahtera, sedangkan Asia sebagai negara-negara underdevelop atau kasarnya benua negera-negara miskin mungkin harus dirubah.  Saya setuju dengan sahabat saya Yusran Darmawan di Ohio -Amerika  bahwa kita mungkin perlu merevisi mindset kita tentang anggapan superior dunia barat. Pasalnya, meski dikatakan negara maju dan makmur, orang melarat, homeless dan peminta-minta masih tetap ditemukan dihampir seluruh negara-negara di Eropa.  Awalnya, ketika tiba di Inggris, saya begitu terpesona dengan layanan transportasi publik yang begitu bagus, nyaman dan tepat waktu. Memang Sisi yang satu ini harus diakui bahwa sistim transportasi mereka jauh lebih baik dari yang kita miliki di Indonesia. Keramahan orang-orang yang saya bertemu di universitas awal masuk kampus juga memperkuat keyakinan saya bahwa ini benar-benar negaranya orag-orang yang berperadaban tinggi.

Beberapa hari kemudian, saya bermain ke pusat kota,  dan di sana saya bertemu  seorang setengah baya yang sedang duduk di tepi tangga lalu menyodorkan tanganya meminta sepeser uang. Melihat hal demikian, saya lalu bertanya-tanya,  ada juga orang seperti ini di Inggris raya ini, yang notebenenya sudah sangat maju dan sejahtera, hingga penganggurpun digaji. Tetapi, ah mungkin ini kebetulan, begitulah jawaban sementara dihati saya untuk sekedar menenangkan keraguan saya tentang negara-negara maju (Inggris). Tetapi, semakin lama, semakin banyak pula saya bertemu dengan berbagai macam model pemuling yang meminta uang dengan berbagai alasan dan cara. Ada dari mereka yang beralasan kehilangan dompet, atau ada yang berasalan mau ke rumah tapi tidak  punya cukup uang untuk pulang, hingga saya bertemu dengan seseorang yang membalut tanganya dengan pembalut lalu meminta duit dengan alasan untuk biaya pengobatan, padahal untuk urusan kesehatan di Inggris itu gratis bagi siapapun yang tinggal di Inggris, apalagi orang asli British.

Setelah setahun lebih, saya lalu bertualang ke luar Inggris. Selama kurang lebih dua minggu saya memberanikan diri travelling ke beberapa negara di Eropa, hanya sekeder jalan usai menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Ketika di Swedia (Stockholm), saya memang tidak melihat para peminta-minta yang datang lalu menydorkan tanganya, tetapi ketika di Hungary (Budapest), saya sering berpapasan dengan mereka, begitu juga di Italy (Venezia) hingga hari ini di Paris, Perancis. Menariknya, hari ini saya benar-benar bertemu dengan  pengamen di kereta layaknya di atas Metro Mini di Jakarta. Ketika saya berada dalam Metro (kereta bawah tanah di Paris) menuju jantung kota Paris, masuk seorang ibu ke dalam gerbong di mana saya berada, dia lalu menyetel musik dari tape yang digantung dengan tali di lehernya, perempuan itu lalu bernyanyi diiringi musik dari tapenya. Wah, dalam hati saya berkata bahwa,’ jangan-jangan sipengamen ini pernah magang di Jakarta’ he he he. Usai menyanyikan sebuah lagu, dia lalu menyodorkan gelas plastik bekas minum ke setiap penumpang di dalam garbong tersebut, saya tidak sempat mengambil gambarnya sebab agak sedikit was was dengan kenyamanannya. Karena suaranya cukup bagus ketika dia menyanyikan lagu tersebut meski saya tidak paham artinya, saya lalu meminta Julia jika punya uang koin, berikanlah satu pada ibu terebut.  Julia lalu mengeluarkan dua koin dan memasukannya ke dalam gelas ibu tersbut. Ketika tiba di pemberhentian, ibu itu lalu keluar dari gerbong kereta, kemungkinan menunggu kereta berikutnya. Keesokan harinya, kami bertemu juga seorang pria dengan accordion, dia mamainkan melodinya sambil mengikuti irangan tape recordernya. Usai sebuah lagu, pria itu lalu menyodorkan gelas bekas minum ke setiap penumpang dalam kereta. Setelah kereta tiba di pemberhentian,  dia pun turun di pemberhentian itu dan pergi berlalu.

Perjalanan saya lanjutkan, hari ini tujuan saya adalah ingin mengunjungi Menara Eiffel yang konon adalah lambang kemegahan Perancis. Saya ingin melihatnya dari dekat dan jika memungkinkan ini mendaki ke puncaknya. Menjelang siang, saya keluar dari halte Metro, saya sengaja mengambil jarak pandang agak jauh dari Trocadero agar bisa memandangi  menara Eiffel dari kejauhan. Lalu berencana akan berjalan perlahan-lahan mendekati menara itu. Tujuan saya adalah ingin menyaksikan bagaimana kesibukan orang-orang di sekitar menara Eiffel hingga melihat mereka yang persis berada di bawah menara termasyhur di dunia itu. Dengan  kamera yang saya genggam, saya berputar mengelilingi tower dari sudut ke sudut  hingga malam datang bersama saya di bawah menara Eiffel. Saya menyaksikan begitu banyak orang dari berbagai negara dan benua yang datang mengantri panjang, sejak pagi hingga malam agar bisa mendaki ke puncak menara termayshur itu.  Catatan kecil yang ingin saya buat hari ini adalah tentang para wisatawan yang datang serta para pejual makanan fast-food dan souvenir di bawah menara Eiffel.

Suasana Malam di bawah menara Eiffel

 Sejak pagi hingga malam, di setiap sudut wisatawan yang saya lihat kebanyakan dari mereka adalah berwarga negara China. Mereka nampak mendominasi di hampir setiap sudut menara ini hingga obyek-obyek wisata lainnya. Ada  dari mereka yang datang dengan membeli paket tour, ada yang datang sendirian berkelompok dan ada juga yang datang perorangan atau berduaan. Pastinya bahwa warga China adalah pengunjung terbanyak yang sempat saya lihat. Berikutnya kemungkinan warga Timur Tengah yang juga banyak dijupai di bawah Eiffel dan obyek-obyek wisata lainnya. Sisanya adalah gabungan dari sebagian negara-negara , Eropa lainya, Amerika dan Asia. Nampaknya bahwa dunia ini telah sedikit berbalik. Jika dulunya orang Eropa yang suka berwisata ke Asia, perlahan-lahan mulai berbalik. Orang Asia nampak mulai merajai objek-objek wisata di Eropa khususnya orang China.  Apakah ini bertanda bahwa negara-negara di Asia makin sudah bertambah sejahtera kehidupan mereka, ataukah ini merupakan keberhasilan dari negera-negara di Eropa dalam dunia pariwisata, di mana mereka berhasil menjual jasa  pariwisata di Asia hingga mampu menyedot sebanyak-banyak uang dari kantong orang-orang di Asia seperti yang terlihat hari ini. Ya, mungkin benar juga, bagi saya, pariwisata di Eropa ini layaknya mesin penyedot uang yang ampuh. Dalam sekejap ratusan Euro bisa lenyap hanya dengan berkunjung ke sebuah objek wisata.

Melihat ratusan orang yang antri tiap hari sejak pagi hari hingga malam, rasa penasaran saya tentang apa sebenaranya yang menarik orang dari puncak Eiffel itu semakin tak tertahankan, dan petang  ini, beruntung antriannya tidak sepanjang dua hari lalu, nekatlah antri membeli tiket dan menunggu giliran naik lift ke puncak Eiffel.  Begitu tiba di atas, sungguh luar biasa ! Dari atas puncak ini, kemegahan Perancis itu bisa disaksikan, meski hanya kota Paris yang nampak. Dari atas jelas nampak lika-liku jalan raya, gedung-gedung bertingkat, hingga lika-liku Sungai sungai Seine yang membelah kota paris, membuat spektakuler pemandangan kota paris dari atas. Dari tiap sudut puncak menera, saya memandang luas jauh ke tepi langit sebelah. Saya memotret dan menikmati kemegahan kota Paris selama kurang lebih 30 menit lalu masuk ke dalam lift dan turun kembali ke bawah. Mungkin menikmati pendangan kota Paris dari atas bukanlah esesinya. Kemungkinan setiap orang yang mendaki ke atas sini ingin membuat sejarah dalam hidupnya bahwa Ia pernah mendaki ke puncak Menara Eiffel, salah satu menara termashur di dunia.

Usai menikamti kemegahan Paris dari atas Menara Eiffel, harus antri untuk menunggu giliran turun ke bawah. Ketika saya tiba kembali di bawah menara,  saya bertemu lagi dengan para pedagang kaki lima yang berjualan minuman dan souvenir  di taman-taman di bawah menara Eiffel. Mereka  berjalan  mengelilingi dari sudut yang satu ke sudut yang lainnya,  menawarkan minuman dan souvenir mereka kepada para pengunjung yang ada. Sekilas saya membayangkan bahwa pemandangan ini tidak jauh berebeda dengan ketika kita berkunjung  ke Monas di Jakarta. Ada yang menjual kopi, souvenir atau air mineral. Menariknya bahwa ketika saya perhatikan, para penjual minuman dan souvenir, khusunya mereka  yang berjalan memegang botol minuman dan rangkian souvenir mengelilingi tower.

 Ada tiga kemlopok besar, yang pertama adalah kelompok orang-orang Pakistan, itu bisa diketahui dari bahasa yang sering mereka gunakan, meski saya tidak paham bahasa mereka tetapi logat dan gaya bahasa mereka sudah tidak asing lagi ditelinga saya, sebab di Birmingham selalu bertemu mereka di hampir setiap sudut kota bahkan mereka yang menguasai bisnis makanan cepat saji hingga supir taxi. Di bawah menara Eiffel ini sepertinya mereka dikordinir dalam sebuah kelompok, sebab nampaknya mereka saling mengenal satu dengan yang lainnya. Kelompok yang kedua adalah orang-orang kulit hitam, kemungkinan orang-orang Maghrebi Afrika Utara yang juga menjual hal yang sama, tetapi mereka akan lebih nampak ketika malam. Orang-orang kulit hitam ini juga nampakny memiliki jalur kordinasi tersensendiri meski barang yang ditwarkan sama dengan kelompok orang-orang Pakistan. Sedangkan Kelompok yang ketiga adalah orang (Bule), saya tidak ingin menagatkan mereka sebagai orang pribumi perancis, sebab agak sulit bagi saya untuk menjelaskannya, Jadi saya sebut saja orang  Bule. Mereka ini berjualan  di stand-stand jualan di bawah menara Eiffel, barang yang mereka jual adalah minuman, ice cream, fast-food dan juga souvenir. Entah stand-stand itu milik mereka sendiri ataukah mereka hanya sebagai penjual.

Berkaitan dengan orang-orang Pakistan ini, saya ingin mengatakan juga bahwa ada semacam dispora orang-orang Pakistan, Afghanistan, India dan Bangladesh dari wilayah-wilayah mereka ke berbagai negara di dunia yang kiranya bisa memberi peluang hidup bagi mereka. Mereka ini juga dijumpai di berbagai negara di Eropa. Di Venezia, Italy orang-orang Pakistan nampak merajai penjualan souvenir-souvenir di tepi jalan dan di tempat keramaian. Sementara Orang-orang Maghrebi (Marocco, Algeria, Tunisa, dan lain-lain) menjual barang-barang seperti tas dan pernak-pernik hiasan.  Ah, tapi jangan kaget kalau mereka menjual tas Louis Vuitton atau tas PRADA  dengan harga murah, haa ha ha…. Sudah pasti bukan asli.  Umumnya, mereka ini lari dari tekanan politik dan ekonomi di negara mereka lalu mereka keluar menyebar di berbagai negara. Kalau di Inggris bisa saya pahami bahwa jika orang-orang India termasuk Pakistan banyak di sini adalah wajar, sebab mereka adalah koloni Inggris, orang-orang dari sana memang didatangkan sebagai tenaga kerja sejak revolusi Industri dikumandangkan di Inggris, lalu mereka kemudian tinggal menetap dan beranak-pinak di Inggris.  Mungkin kasus ini serupa juga terjadi kepada orang-orang Maghrebi di Perancis di mana beberapa negara di Afrika Utara adalah bekas koloni Perancis.

Penyebaran mereka ini tidak hanya terjadi di Eropa, bahkah di Indonesia sejak sepuluh tahun terakhir para immigrant gelap dari Bangladesh, Pakistan dan Afghansitan begitu terus masuk ke berbagai wilayah di Indonesia hingga tidak jarang dari mereka yang menimbulkan keresahan bagi warga lokal. Mungkin awalnya mereka adalah imigran gelap yang hak-hak mereka dibatasi, tetapi ketika mereka diterima menjadi warga negera tersebut (bisa karena menikah dengan warga lokal) atau alasaln lainnya, mereka mungkin akan lebih siap untuk bersaing dengan warga lokal untuk merebut pasar perekonomian. Gambaran ini nampak jelas di Inggris. Jika anda berkunjung ke Inggris, dihampir setipa kota anda akan menemukan rumah makan fast-food milik orang Pakistan atau Bangladesh, mereka seakan telah merajai bisnis makanan fast-food di seantero Inggris Raya. Atau jika anda di Birmingham, dari sepuluh taxi yang pernah anda telepon menjemput anda di rumah, mungkin anda hanya akan bertemu satu dari mereka orang yang asli orang British, itupun jika anda beruntung. Masyarakat lokal di sini nampak hanya sebagai konsumennya restoran cepat saji mereka, masyarakat lokal bahkan jarang memiliki restoran fast-food seperti ini. Entah kerena mereka tidak ingin atau kerena tidak memiliki peluang. Sehingga terkdang ada sentimen-sentimen antara orang-orang pribumi dengan para imigran di sini. Tetapi yang harus dimaknai di sini adalah bahwa penyebaran mereka ini patutulah diperhitungkan oleh dunia setelah China yang saat ini telah membentangkan sayapnya ke setiap benua di dunia. Dengan modal nekad menyeberangi benua, saya cukup yakin kalu mereka nantinya akan menjadi raksasa kedua Asia meneguasai dunia setelah China.