Blog CornerEuropeEuropeUnited Kingdom

Rokok dan Alkohol; Cerita dari Negeri Seberang

Bulan Mei 2011 saya pertama kali menginjakan kaki saya di Benua Eropa , tepatnya di Kota Birmingham Inggris untuk melanjutkan studi saya. Saa itu saya sedikit terkejut, dengan hal hal yang belum pernah saya temui langsung. Saya adalah perokok berat dan tentunya kemana-mana pasti mencari  di manakah rokok di Jual?, Ketika stock rokok yang saya bawa dari Indonesia habis, saya lalu mencari ke toko toko di dekat tempat tinggal saya. Saya teramat heran sebungkus rokok begitu mahal, untuk ukuran kecil berisi 10 batang, jenis rokok yang termurah harganya £2.80 atau sekitar Rp. 39.200  dan yang berukuran besar 20 batang  £5.30 atau sekitar RP. 74.200 adooo.. saya langsung geleng geleng kepala….mampus sudah !!, jika di Indoneai jumlah ini bisa saya beli atau datau 7 bungkus rokok.  Lebih dari 5 bulan saya merokok tetapi saking mahalnya saya tidak bisa lagi bertahan dan akhirnya STOP MEROKOK !!!…Alhamdulilah.,  I can save my body and save my pocket , Jika tidak berhenti saya harus mengeluarkan sejumlah £159 atau sekitar Rp.2.226.000 setiap bulannya.. wadowwww… jumlah yang sangat besar bagiku, Selaian itu setiap kali ingin membeli rokok saya akan diminta tunjukin KARTU IDENTITAS saya ( kartu mahasiswa atau resident permit) untuk membuktikan kalau saya sudah cukup umur, alias 18+ , jika belum cukup, tidak akan dilayani… huahhh…!!! Anehnya lagi bungkus rokoknya mengerikan wa ka ka ka.. 

Suatu Malam saya diajak teman ke Pub disco, woww…. Banyak hal yang kulihat di sana., dan tentunya berbagai jenis Minuman beralkohol dari yang kelas ringan hingga yang kelas berat. Tetapi berlaku lagi hal yang sama, ketika kami ingin memasuki Pub Disco tersebut, saya dicegat Satpam di depan pintu masuk dan menanyakan saya, How old are you? …ha ha ha… lalu saya keluarkan lagi Kartu Mahasiswa saya ldan ditunjukan lalu diijinkan masuk.  Tidak hanya sebatas itu, membeli minuman pun, harus cukup umur…hmmmm…. Oh, iya, Jika ada toko atau pubs disco yang menjual rokok atau minuman beralkohol kepada anak di bawah umur, dan ketahuan terekam kamera CCTV, maka akan terkena hukum yang berlaku dan izin usaha akan dicabut. Jadi cukup sulit utuk menipu, lagupula semua toko, Pubs, bars, disco clubs  dilengkapi camera CCTV, ini adalah syarat mutlak untuk keamanan. Wah, tapi saya lalu berpikir bagaimana dengan di tempatku ya??

What about Kaimana?

Mungkin terlalu jauh dan terlalu canggih membandingkan Kaimana dengan Inggris tetapi sebenarnya ada hal-hal yang bisa kita lakukan. Sebalumnya  Saya ingin mengatakan beberapa hal sepele sebelum berbicara bagaimana cara mencegah dan menkampanyekan anti alkohol di kaimana.

Ada hal hal rasional yang perlu dipertimbangkan juga berkaitan dengan larangan/pengedaran minuman beralkohol, yaitu bahwa Kaimana akan menjadi bagian dari masyarakat dunia  dan tidak bisa mengunci diri dari pengaruh budaya global  (like alcohol atau masih banyak pengaruh lainnya seperti erosi budaya dan hilangnya bahasa-bahasa lokal), Hal ini bisa terjadi dengan cepat sebab letak geografis Kaimana yang sangat strategis di wialayah Pacific, Amerika dan Australia. Wisatawan akan masuk dan keluar Kaimana dengan cepat, saya dengar dengar teluk Triton dengan underwater view yang indah sedang gencar gencarnya dipromosikan. Itu berarti kita sedang mengundang masuknya lebih banyak lagi alcohol ke Kaimana. Dalam pariwisata ada prinsip bahwa “datangkan orang sebanyak mungkin, tinggalkan mereka selama mungkin sehingga duit mereka pun habis dibelanjakan di situ.`’ Dengan demikian maka tempat-tempat hiburan malam (clubs, pubs disco, dll) diperlukan dan tentunya ada alcohol. Peluang ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, pemerintah maupun pebisnis. 

Kadang membosankan dan tidak menarik lagi membicarakn soal larangan minuman beralkohol dan free sex, tapi untuk Kaimana coba kita benahi. Ah, sebelumnya istilah free sex kayankanya terlalu berlebihan, tdiak ada orang di dunia ini yang mau melakukan hubungan seks bebas bebas, pasti ada aturan main, Ha ha ha ha ha.  Seingat saya ada PERDA  No 3. 2007, yang melarang miras dan peredarannya di Kaimana, tapi kenapa masih ada saja yang mabuk, masih ada rumah remang remang.. wah ha ha… !!!! Untuk memberantas atau paling tidak menghindari Alkhol dan rumah remang remang itu, tentunya butuh pastisipasi aktif semua pihak, dan pihak-pihak yang terlibat harus ada kesadaran dan rasa tanggung jawab penuh.

Pemerintah lokal sebagai pembuat kebijakan tetutunya memiliki otoritas yang kuat untuk melarang/membatasi/mengatur minuman beralkohol di Kaimana, PERDA yang sudah berjalan selama beberapa tahun ini harus dievaluasi pelaksanaanya. Kita perlu melihat pengalaman-penglaman di tempat  lain sebab Kaimana bukana hanya satu satunya daerah yang membuat PERDA larangan minuman keras. Kabupaten Selaman di Yogyakarta, tahun 2007, PERDA prop Bali 2002 dan masih banyak lainya, tetapi banyak juga yang kemudian dicabut karena berbagai alasan dengan kepentingan masing-masing bahkan ada yang dicabut langsung oleh Kementrian Dalam Negeri  seperti perda  Kota Tanggerang No.7  tahun 2005, Perda Kota Bandung No 11. Tahun 2010, Perda Kab. Indramayu No.15. 2006, semuanya tentang Pelarangan dan Pengedaran Minuman Beralkohol. Ha ha ha…. Apaan ini pemerintah….yang benar aja.

Karena banyak kepentingan itulah jangan sampai PERDA di Kaimana pun dicabut,  langkah yang  harus dilakukan adalah mengevaluasinya secara menyeluruh dengan melibatkan pihak pihak yang berkepentingan. Mengapa PERDA itu tidak efektif?, Apa kendalanya? Apa yang perlu dipertegas?, ( apakah PERDA itu, benar2 tersosialisasi dengan baik?, apa tindakan follow up Perda itu?, apakah ada gerakan2 membangun kesadaran masrakat untuk menghindari alkohol? Ataukah PERDA itu hanya sebatas PERDA yang MATI di atas kertas, hanya untuk membohongi publik kalau pemerintah sungguh-sungguh ingin memberantas MIRAS.

Di satu sisi, kita harus realistis juga bahwa untuk memberantas Miras dan Rumah2 Bordil, butuh kerjasama yang baik antara pemerintah, masyakarat dan pebisnis, dan tidak bisa secara mutlak menghilangannya dari kota Kaimana, sebab Kaimana akan menajadi bagian dari budaya global. Yang harus dilakukan adalah  pemerintah bersama  pebisnis harus bisa mmengaturnya dengan baik  agar tertib, dan semua orang harus memiliki keasadaran dan tanggung jawab untuk menjaga/mengontrol pelaksanaan Perda tersebut, tidak hanya hany polisi atau aparat hukum laninya. Lalu, harus ada sangsi yang tegas bagi siapapun yang melanggarnya, anyway Sebagai masyarakat, mugkin yang bisa kita lakukan  adalah

  • Terus mengingatkan pemerintah selaku pembuat kebijakaan agar mengevaluasi dan benar benar menerapkan PERDA dengan tepat, Kita bisa mengingatkan lewat surat, Koran, atau radio.
  • Bentuk sebuah wadah /komite  atau memanfaatkan organisasi organisasi kepemudaan yang ada untuk aksi ini.
  • Membantu Pemeritah mensosialisasi/mengkampanyekan Gerakan anti Miras dan Rumah rumah bordir itu.
  • Kampanye/gerakan anti Miras ini tidak bisa hanya sehari atau dua hari dilakukan, harus ada perencanaan program  yang baik sehingga terus  berkelanjutan hingga pada titi dimana masyakarat Kaimana sadar dan bisa menghindari Miras.

Hmmmm… banyak sekali…wah ha ha ha… But its better to start now than never at all .

Salam,

 

Birmingham, winter, 25 January 2012