CATATAN PERJALANAN HARI KETUJUH : Saya terbangun dari sudah jam tujuh lewat, dari jendela kaca kapal, nampak di luar sana sudah panas. Orang-orang sudah beres-beres,mungkin sebentar lagi kapal akan sandar di pelabuhan Arar SP3 Sorong. Saya hendak mandi namun, kamar mandi masih digunakan rupanya Parto berada di dalam kamar mandi. Ada dua orang anak dari bintuni yang juga semalam ajak ngobrol, telah bersiap-siap juga dengan barang-baranhg mereka. “ terdengar pengumuman di atas kapal bahawa sesaat lagi KMP Kalabia akan segera sandar di dermaga Arar SP3, para ABK (Anak Buah Kapal) bersiap-siap, para penumpang yang hendak turun harap mengikuti arahan anak buah kapal”. Demikian singkatnya pengumuman itu. Ini artinya, saya tak punya kesempatan lagi untuk mandi dan berbagi pakian. Saya membersekan barang-barang, memasukan kembali barang-barang dalam tas, menggengtas ransel saya, memegang tas kamera, dan tripod, kami bertiga berjalan menuju tangga, tempat turun ke dermaga.

Angkot SP3 Arar - Kota Sorong

Menumpang Angkot dari Pelabuhan Arar SP3 Menuju Kota Sorong

Nampaknya memang penumpang tidak banyak, selaian anggota TNI. Di dermaga telah parkir dua buah truk tentara untuk menganngkut prajut yang ada di kapal. Kami sempat ditawarkan untuk menumpang dengan kendaraan mereka, sebab di Arar cukup sulit untuk mendapatkan taksi sewa, jika ada pasti mahal. Namun, kami tidak mengiyakan tawaran itu, saya sediri yakin bahwa di dermaga, ada banyak angkutan yang bisa digunakan. Di dermaga saya berdiri dan menatap di sekitar, memang benar bahwa transportasi agak sulit. Kami beruntung sebab ada satu buah angkot yang masuk ke dermaga untuk mengangkut penumpang menuju kota. Dan sangat beruntung sekali bahwa penumpang ke kota hanya enam orang, jika saja lebih banyak maka mungkin kami juga akana kewalahan mencari transportasi. Di tempat duduk paling depan dekat supir ada seorang laki-laki mudah, di tempat duduk deretan sebelah kanan, ada seorang ibu muda, dengan kopor merah mudahnya, saya lalu seorang ibu setengah baya dengan anak kecilnya berusia sekitar 2,5 tahun. Di deretan sebelah kiri ada sorang anak lelaki mudah, Parto kemudian pak Ahmad. Entah berapa yang harus kami bayar setiap kepala, namun dari bisik-bisik teman orang di dalam angkot satu kepal akan dikenakan Rp.50.000, ada juga yang mangatakan satu kepala Rp.100.000. kita lihat saja sebentar. Supir itu sudah cukup tua, kira kira 50an tahun, ia memasang kacamata hitam dan menghidupkan mobil. Sepertinya Ia berasal dari Ambon atau ternate.

Menumpang Angkot dari Pelabuhan Arar SP3 Menuju Kota Sorong

Menumpang Angkot dari Pelabuhan Arar SP3 Menuju Kota Sorong

Kami melewati SP3 hingga SP2 dan di sepanjang jalan harus melambat kerena jalan yang kurang baik, ada beberapa tiga orang penumpang juga yang naik, seorang lakik-kali dewasa dan dua anak-anak. Rupanya ini adalah daerah transmigrasi, dan hanya sekalis saya melihat orang lokal (orang asli Papua), ketika mobil kami melewati SP3. Sepanjang jalan, seorang anak kecil sedang menghafal ayat-ayat Alqura’an, mungkin ia sekolah di sebuah pesantren. Saya menghitung sepanjang perjalanan, ada sekitar 4 buah Gereja dan juga 4 buah Masjid, dimana letak masjid dan gereja tidak berjauhan. Saya belum tahu dimana nantinya saya dan teman-teman akan menginap semalam. Pak Ahmad juga bertanya-tanya, namun Parto belum bisa pastikan dimana akan kita menginap. Pak Ahmad menyarankan cari hotel di dekat bandara Dominique Edward Osok (DEO), salah satu penumpang anak muadah di dekat Parto mengatakan Le meridien” itu hotel dekat bandara, namun menurut beliau harganya berkisar antara 700 ribu hingga 1 juta per malam” Kalo Kaka dong mau Ikut saya ke Hotek Indah, harganya murah tapi cukup bagus”. Kami sempat ingin berhenti di Le Meriden Hotel namun, mendengar penjelasan dan tawaran anak muda itu, kami sepakat untk ikut bersamanya.

Hotel Indah dan Ikan Bakar Yang Sedap.

Beberapa saat kemudian, kami tiba di hotel yang dimaksudkan. Jam sudah menunjukan pukul 10:55. Hotel Indah, letaknya berdekatan dengan pelabuhan Sorong, berhadapan langsung dengan jalan raya, bersebrangan dengan Tembok Berlin serta tempat makan ikan bakar. Lumayan strategis, letak hotel ini. Parto dan juga anak muda itu ke resepsionis untuk memesan kamar. Rupanya kami harus, menunggu hingga jam 12 siang. Kamar akan tersedia pada jam itu. Menunggu waktu hingga jam 12 siang, sekedar mengisi perut, dari depan hotel kami berjalan kea rah dermaga, mencari rumah makan yang ada. Namun, kami tak menemukan rumah makan, kami mengehentikan angkot, dan menumpangnya menuju Ramayana. Di sana kami turun dan masuk di sebuah restoran, saya memesan satu mangkok mie ayam pedas dan satu gelas air es kelapa mudah, demikan juga dengan anak muda itu, sementara Parto memesan mie ayam dan segelas jeruk hangat. Ah, meneguk ses kalapa mudah itu rasanya seperti telah merenggangkan otot –otot dan saraf yang tegang, segar rasanya. Kami pun menyantap habis pesanan kami, lalu kami bergeser ke bagian luar, sambil merokok.

Hotel Indah Sorong

Hotel Indah Sorong

Baru beberapa detik duduk, saya melihat handphone saya yang memang dalam kondisi silence ternyata ada dua panggilan tak terjawab dari pak Ahmad. Saya kemudian menelpon beliau. Pak Ahmad nampaknya sudah ada di hotel, beliau tadi ke rumah keluarganya dan membawa mobil. “Kalian tunggu di situ, nanti saya datang, saya bawa mobil”, kata pak Ahmad. Kami pun menunggu sambil merokok, sementera teman hotel anak mudah itu sedang ke toilet. Tak lama kemudian, Pak Ahmad tiba dengan mobil Avanza hitam. Beliau yang menyetir, Parto masuk dan duduk di samping beliau, sementera saya, anak muda itu dan sopir mobil duduk di tengah. Pak Ahmad ingin kami mencari makan lagi, misalnya nasi dan ikan, namun sepanjang jalan yang kami lalui tak satupun warung yang kami temui. Ia berinisiatif untuk menurunkan kami di depan hotel, sementara beliau dan sopir kemungkinan pergi mencari warung makan.

Di lobi hotel kami duduk sebentar, lalu pegawai hotel mengatakan bahwa kamar telah tersedia, Parto memasan satu kamar untuk kami bertiga seharga Rp.320.00/malam. Kami memang akan menginap semalam saja di sini. Namun, anak muda itu menawarkan satu lagi tempat tidur di kamarnya yang kosong. Hotelnya lumayan bersih, kamar cukup bersih, namun tidak ada sabun dan handuk di kamar mandi yang cukup luas itu. Ada sebuag meja tulis dan satu buah kursi dan 1 rak pakaian. Kamar ini dilengapi dengan satu unit air conditioning (AC) berukuran kecil, hingga tidak terlalu dingin terasa.

img20161023113522 img20161023115708 img20161023115820

Cermin di kamar pun tak ada. Tidak ada air minum di kamar. Lobi di depan kamar ada sebuah dispenser air minum, namun tak ada isinya. Saya harus turun ke lantai bawah, untuk mengambil air di sebuah dispenser yang letaknya berada dekat tangga naik ke lantai dua. Ah, apapun itu, dengan lokasi yang strategis, dengan harga yang begitu murah, sudah cukup baik menurut saya.

Untuk menyegarkan tubuh, saya harus mandi. Namun sementara Parto masih menggunakan kamar mandi. Sambil menunggu, saya membuka laptop dan melanjutkan menuliskan tiga paragraf dalam catatan harian saya. Usai mandi, saya kembali melanjutkan empat pargafraf lagi. Mata terasa berat dan tubuh juga sudah letih, saya berbaring di samping Parto yang sudah sudah ngorok siang bolong itu. Saya terbangun pukul 6:14 menit, itu terlihat dari jam dinding yang terpasang di kamar hotel. Parto yang sudah bangun lebih awal, sedang duduk di sisi jendela sambil merokok. Pak Ahmad yang tidur di tempat tidur sebelah telah bangkat dan pergi entah ke mana. Parto mengajak saya untuk pergi makan ikan bakar di sebrang jalan, hanya butuh berjalan kaki sekitar dua menit.

Saya bangkit dari tempat tidur, membasuh muka dan mengikuti ajakan Parto, kami menyeberangi jalan yang cukup ramai sore itu. Di seberang jalan sana telah nampak berbagai jenis ikan bakar telah disediakan, dan para pembeli hanya memesannya. Saya dan Parto memaskuki sebuah warung tenda, yang cukup ramai, ada banyak orang yang makan di sana. Di tempat pembekaran ikan tersedia, ikan bobara, ikan kakap merah, kakap batu, ikan garopa, ikan samandar, juga ada mujair. Saya memesan seekor ikan bobara, sementara Parto memesan seekor ikan samandar. Kami pun berjalan masuk ke dalam tenda, saya memilih tempat duduk di tengah yang masih kosong. Di dalam tenda itu ada banyak orang, ada yang datang dengan keluarga, ada yang datang sendirian, ada pula yang datang dengan kekasih. Di sebelah kanan saya ada sepasang kekasih, nampaknya seperti orang Jawa, itu terlihat dari cara bagaimana sang lelaki melap sisa makan di bibir perempuan itu. Mereka rupanya menyantap ayam goreng, sungguh berbeda dengan kebanyakan orang yang datang ke sini.

Sambil menunggu ikan dibakar, saya juga memesan satu gelas teh hangat dan satu porsi sayur kangkung cha. Saya sendiri tidak mengerti mengapa sayur kangkung tumis itu sering disebut dengan istilah ‘kangkung cha’. Tak lama kemudian, pesanan ikan bakar kami datang. Saya memang sudah lapar sekali, namu saya tak mampu juga menghabiskan satu ekor bobara kecil itu. Saya melihat Parto juga sangat lahap menyantap ikan satu ekor ikan samandar.

Ikan Bakar di Sorong

Pengunjung Warung Ikan Bakar di Sorong

img20161017205517

Cumi Bakar Kecap

img20161017205627

Kakap Bakar

img20161017204325

Silahkan Pilih

Usai makan, kami pun berankak keluar dari warung tenda itu, di depan saya ternyata ada juga sebuah kios souvenir, tidak terlalu banyak koleksi, namun sekedar untuk souvenir, kayaknya bisa dikunjungi. Saya juga mengamati ternyata hampir seluruh warung tenda yang ada dimiliki oleh warga dari pulau Jawa. Kami kemudian kembali menyeberangi jalan raya, kembali ke hotel. Saya kembali membuka laptop saya dan mengelurkan dua kartu memori dari kamera, dan memasukannya ke laptop. saya melihat satu persatu foto hasil jepretan, demikian juga dengan video hasil rekaman. Wah, rupanya, banyak dari hasil foto yang kurang baik, demikian juga dengan hasil rekaman video. Kebanyakn berkabut, nosisy dikarenakan angin yang kencang hingga menyapu air laut menghantam lensa kamera. Saya juga menandai beberapa yang bisa digunakan untuk keperluan dokumentasi. Ketika saya sedang memperhatikan video dan foto, Parto dan juga Pak Ahmad yang datang lebih belakang, sudah tertidur. Jam memang sudah mennujukan pukul 10:12 menit, saya juga rasanya tidak lagi mampu bertahan, tubuh masih belum fit dan mata juga sudah letih. Saya memanfaatkan sedikit tenaga utuk menyelesaiakan paragraph ini, selanjutnya saya berbaring di dekat Parto, yang sudah ngorok. Esok pagi, 07:10 menit, saya terbangun, Pak Ahmad dan Parto sudah lebih awal, kami harus bersiap-siap untuk menuju bandara DOE jam 8 nanti, sebab jam 9 pagi ini kami akan kembali ke Jayapura dengan menumpang pesawat Garuda Indonesia jenis Jet Bombardier.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *