Blog CornerJayapura

Saturasi Agama; Orang-Orang Pencari Muka

Spanduk Caleg memenuhi pagar masjid

Spanduk Caleg memenuhi pagar masjid

“Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan selalu membawa berkah yang tak terhingga bagi para umatnya yang mampu memanfaatkannya semasksimal mungkin mencari ridho-Nya”. Begitu panjang pencaremah itu memaparkan keistimewaan bulan Ramadhan bagi para jamaah shalat taraweh malam itu. Ini adalah malam pertama shalat taraweh dan orang begitu antusias, berbondong-bondong masuk ke masjadi agung di Abepura, Jayapura. Saya juga masuk ke masjid melewati pintu samping sebab saya tahu kalau pintu pagar depan masjid telah ditutup, sejak lama dan tidak dibuka lagi. Entah apa alasannya, kemungkinan karena posisi pintu masjid yang berada tepat di depan jalan raya, sehingga demi kenyamanaan orang yang hendak masuk dan kendaraan yang hendak lewat tidak tergangu. Kerinduan orang-orang akan suasana ramadhan itu terobati, begitu juga saya, terasa beda dengan suasana ramadhan setahun lalu ketika masih di Inggris, sehingga malam ini cukup teristimewah.

Esok harinya, ketika hendak ke pasar sore hari dan melewati jalan di depan masjid, mata saya begitu terpanah melihat, berbagai macam spanduk yang berjejeran di depan pintu pagar depan masjid. Spanduk –spanduk itu memuat pesan “selamat menunaikan ibadah puasa” yang datang dari berbagai kalangan, politikus, perusahaan, organisasi paguyuban, dan lain sebagainya. Ini adalah hal rutin yang selalu dilakukan menjelang even-even keagamaan, dan tidak hanya ramadhan atau Idul Fitri, tetapi hari-hari agama yang lain pun demikian seperti , Natal dan tahun baru.

Akan tetapi ucapan selamat itu di mata saya kalah dan tenggelam dengan wajah-wajah para politikus dengan, atribut–atribut yang ditampilkannya di atas spanduk-spanduk itu. Merak adalah para pencari muka ditengah-tengah para pencari Tuhan. Akan lebih bagus jika spanduk-spanduk itu tidak dipasangkan muka mereka dan partai politik mereka. Rupanya saat ini untuk mengucapkan selamat kepada orang lain tidak harus lagi memakai kartus ucapan tetapi harus menggunakan poster berukuran besar atau spanduk yang ditampilkan wajah si pengrim dengan atribut dirinya. Kalau hal ini saya sebut pengkotoran agama, mungkin keterlaluan, kalau mengotori halaman masjid, iya itu jelas, sehingga saya menggunakan istilah “Saturasi Agama” untuk mendiskusikan fenoemana ini.

Para fotografer dan orang-orang yang bekerja dengan media visual pasti sangat paham dengan istilah “saturasi,” yaitu salah satu fitur kontol terhadap tingkat kecerahan dan ketajaman suatu warna yang akan membedakan antara grey dan chrome. Dalam peralatan elektronik seperti camera, computer, TV, atau software pengeditan gambar, kita tentu mengenal RGB colour sebagai representasi dari HSL/HSB (hue, saturation, lightness/brightness) dan HSV (hue, saturation, value) yang bisa dalam bentuk silinder atau lingkaran, dimana sudut sekitar sumbu vertikal akan berkaitan dengan “hue”, sedangkan saturasi adalah jarak dari sumbu, dan jarak sepanjang pusat sumbu vertikal berkaitan adalah kecerahan atau pencahayaan. Kejelasan dari saturasi akan berubah secara dramasi ketika “hue” dalam HSL/HSB dan HSV diarahkan pada atribut yang sama tetapi sebaliklnya jika diarahkan pada atribur yang berbeda, definisi saturasi akan semakin jelas. Dan membuat gambar atau foto yang menarik secara kompisis, baik konten mapun warna dan penggunaan cahaya   memang membutuhkan keahlian tersendiri sebab kesemua itu memiliki makna, cerita dan pesan tersendiri dalam setiap icon, index ataupun symbol yang ditampilkan dalam frame gambar tersebut. Demikian juga dengan poster-poster iklan yang ditampilkan, baik iklan politik mapun iklan komersial, meskipun iklan-iklan itu sudah mengalami manipulasi teknologi, namun menjadi menarik untuk mendiskusikan komposisinya.

Saya tertarik untuk mendiskusikan spanduk-spanduk yang terpampang di masjid itu sebab secara sepintas mungkin orang tidak menggagab itu sebagai sebuat bentuk penawaran identitas baru dan ideologi kepada publik, dengan permianan-kata-kata (caption), kompisisi, tampilan contents, yang ditopang dengan teknologi modern. Kenneth Gergen dengan istilah “Saturasi Sosial” telah menggambarkan bagaimana inovasi teknologi modern, yang dikenal dengan dengan “budaya populer” telah menciptakan akselarasi hubungan antara penggunaan berbagai macam media komunikasi dan mengkombinasikan satu media dengan yang lainnya untuk menciptakan sebuah model baru dalam diri seorang individu. Saturasi itu terjadi ketika tidak ada lagi batasan pada teknologi dan mobilitas sosial untuk menembus sekat-sekat sosial seperti nilai-niali moral dan spiritual, dan ini umumnya terjadi pada ranah seni, musik, literature dan asrsitektur. Namun, jika diamati agama kemudian juga menjadi komiditi dari kombinasi antara politik, ekonomi dan teknologi. Masing masing memanftaatkan kesempatan ramadhan semaksimal mungkin untuk mencapai kemenangan, seperti kata penceramah tadi malam.

Sebetulnya, tanpa harus menjelaskan tujuan daripada spanduk-spanduk itu, secara kasat mata kita sudah bisa memperoleh pesan bahwa, spandak-spanduk itu tujuan utamanya adalah untuk kepentingan politik dan ekonomi. Akan akan lebih baik jika saya mencoba mendeskripsikan muatan kontent dalam spanduk-spanduk itu.Untuk mendeskripsikan gambar sapanduk seperti ini, ada beberapa hal yang bisa dijadikan acuan anasilis, yaitu aspek produksi, aspek image atau obyek yang ada dalam frame, aspek audience, aspek teknologi yang digunakan, aspek komposisi dan aspek sosial. Namun supaya lebih singkat, saya akan mengabaikan aspek, teknnologi dan produksi serta aspek sosial sebab sudah pasti gambar ini menggunakan manipulasi komputer dan teknologi percetakan canggih, menyangkut siapa yang mencetak dan apa hubungan si pencetak dengan gambar tersebut, juga tidak perlu diskusikan. Saya hanya akan mendiskusikan “komposisi” dan audience dari gambar tersebut.

Spanduk Caleg di Pagar Masjid

Spanduk Caleg di Pagar Masjid

Jika mengamati obyek pada spanduk gambar (2), secara komposisi, latar warna biru tua yang ditampilkan mendominasi sekitar 75% dari spanduk tersbut, dan warna biru tua itu berhubungan dengan Jaket yang dugunakan oleh manusia di sisi kiri dan juga dengan logo Parti Politik yang tertera pada bagian sudut kanan dengan warna dasar putih. Wajah orang yang ada di sebelah kiri, ditampilkan setengah bodi serta diikuti nama orang tersbut disbelah kiri sebagai identitas manusianya serta identitas politiknya, dan logo cinta berwarna merah diikuti tulisan “adalah tindakan”, yang bisa dibaca “cinta adalah tindakan sebagai platform perpolitiknya.” Kalimat itu kemungkinan menjadi ideologi gerakan politik, yang kalau saja orang ini paham yang namanya ‘mental syntax’ maka, dia akan tahu kalau kalimat itu tidak memilki spirit gerekan dan tidak akan laku atau tidak mampu menggerakan orang sebagai seorang politisi.

Di sisi sebalah kanan gambar itu, yang hanya sekitar 25% dari spanduk itu bertuliskan “ Selamat menunaikan ibadah PUASA.” Tulisan ini berwarna putih dengan latar belakang putih serta berbingkai garis kuning menyerupai pintu masjid, dan di dalamnya terpampan logo partai politik dan nomor urut peserta pemilu 2014. Ucapan “Selamat menunaikan indah PUASA” itu secara komposisi tenggelam dalam warna putih latar belakang , walaupun ada penekanan pada kata “puasa” dengan huruf kapital, tetapi ukuran yang kecil dan porsi space yang kecil, sehingga kalimat itu tidak menjadi “point of interest.” Selain itu, si pembuat spanduk sebetulnya telah membatasi areal biru (domain politik) dan arel putih (domain agama) tetapi kemudain di dalam areal putih yang terbingkai itu kemudian diwarnai dengan logo partai politik yang lebih mencolok dibanding tulisan dibawahnya. Ini yang saya maksudkan dengan “saturasi agama,” dimana wilayah putih telah dikotori oleh idieologi dan identitas politik. Sehingga secara keseluruhan, focus point dari spanduk-spanduk itu bukan untuk mengucpakan selamat berpuasa kepada umat muslim, tetapi sebagai bentuk kampanye politik terselubung, sehingga genre dari spanduk itu bukan religius tetapi politis. Target audience sebetulnya adalah para pemilih di pemilihan umum secara umum, namun jika dipasangkan di lingkungan masjid berarti secara khusus targetnya dalah umat Islam, namun posisinya yang berada di pagar bagian luar dan meghadap ke jalan raya sehingga targetnya bisa terbuka luas, namun dengan dominasi identitas partai politik, maka bisa jadi orang tidak menghiraukan spanduk itu.

Pada lain event, yaitu seminggu sebelum memasuki ramadhan, saya sempat mengahadiri sebuah safari ramadhan, yang diselenggarakan oleh Kemenag Kota Jayapura dengan sponsor-sponsornya yang mendatangkan seorang ustad TV dari Jakarta. Saya tidak melihat spanduk yang ramai di kota seperti dulu yang biasanya terbentang di sudut-sudut jalan, hanya beberapa banners di depan gedung tempat kegiatan, meskipun kemudian kegiatan itu juga menjadi ajang penjualan pakaian dan perlengkapan shalat memasuki ramadhan. Selain itu, ada yang cukup membuat saya tertarik untuk difoto yaitu, ketika melihat banner latar kegiatan itu. Coba kita lihat spanduk berikut dibawah ini;

spanduk tabliq akbar

spanduk tabliq akbar

Fokus saya pada gambar spaduk ini adalah dua gambar wajah di sudut kiri dan kanan. Tradisionalnya, dalam acara tablik akbar seperi ini, posisi kanan atas biasanya di isi dengan tulisan “Allah” dan di sebelah kiri ada tulisan “Muhammad.” Namun, posisi itu digantikan oleh gambar walikota dan wakil walikota. Mungkin ini pengamalan dari pemahaman bahwa “pimpinan adalah wakil Allah di bumi, sehingga posisinya di dunia bisa digantikan.   Selebih dari itu kerana walikota dan wakil walikota yang berkuasa di kota Jayapura dan kemungkinan yang membantu menfasilitasi biaya dan tempat maka, agama sekalipun harus membela mereka. Singkat saja kesimpulan saya bahwa, keberagamaan di Indonesia ini berantakan disebabkan karena politik nasional Indonesia yang menjadikan agama sebagai kekuatan politik, sehingga agama bisa diputarbalikan oleh kekuatan politik dan politik juga bisa dipurabalikan oleh kekuatan agama. Sekat-sekat agama kemudian ditembus oleh kepentingan politik, sehingga memberikan warna ideologi dan identitas politik sebagai kekuatan umat, yang pada akhirnya agama kemudian harus membela yang berkuasa dan yang berduit.