Blog CornerPeople & Culture

Save Environment ; Pendekatan Lain

Sunset4

Saya terkadang sedikit malas tahu dengan yang namanya “environmental campaigns, environmental management, green economic strategy atau yang sejenisnya dengan berbagai macam konsep dan ide yang mereka terapkan agar bagaimana bisa melestarikan lingkungan, dan bagaimana bisa mengoptimalkan manfaat kekayaan alam tersebut tanpa harus merusak lingkungan beserta ekosistemnya. Tetapi bukan berarti bahwa saya tidak menginginkan agar alam tetap lestari, hijau dengan segala keanekaragaman ekosistemnya. Saya memiliki hobi fotografi dan suka dengan alam, suka memotret keindahan panorama alam, memotret serangga dan binatang-binatang liar. So kalau soal menjaga kelestarian alam, saya setuju dan sangat mendukung.

Tetapi, kenapa saya terkadang cuek dengan kampanye-kampanye yang dilakukan, sebab saya kurang melihat perubahan signifikan dari program-program pelestarian lingkungan yang kerap kali dilakukan, baik oleh pemerintah dengan berbagai aturan dan kebijakannya, maupun oleh NGOs dengan berbagai macam strateginya. Kenapa demikian? Ada begitu banyak program yang telah dilaksanakan oleh pemerintah maupun oleh NGOs yang berlangsung sepanjang tahun tetapi penebangan hutan, pembakaran hutan, dan sebagainya, masih saja terus terjadi. Ini mengindikasikan bahwa pastinya ada yang keliru atau mungkin pendekatan yang dilakukan belum tepat menemui sasaran dalam implementasinya.

Pemerintah di satu sisi juga telah membuat begitu banyak aturan dan kebijakan tentangan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam, dan di hampir setiap konferensi atau seminar, pemerintah selalu mempresentasikan kekayaan sumber daya alam Indonesia yang berlimpah dalam hitungan triyulnan dollar, dan kekayaan itu jika dioptimalisasikan maka akan berkontribusi besar terhadap gross domestic product (GDP). Wah, istilah GDP ini saya sering mendengarkannya dalam berbagai konferensi/seminar ekonomi tetapi saya sendiri tidak terlalu paham lebih jauh apa sebenarnya GDP itu. Sepintas yang saya tahu bahwa GDP itu adalah nilai pasar dari sebuah barang atau jasa yang dihasilkan dalam kurung waktu tertentu dari sebuah daerah tertentu. Nah, kaitannya dengan perihal pelestraian lingkungan dan bagaimana memanfaatkan sumber daya alam yang ada semaksimal mungkin dengan baik , kadang sayang berpikir bahwa pemerintah terlalu egois, maunya mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin dari sumber daya alam yang ada dengan begitu banyak aturan dan kebijakan yang telah ditetapkan. Mereka berani dan bisa menghitungkan secara detail berapa banyak uang ($) yang pemerintah peroleh/dapatkan jika lingkungan dijaga dan dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan tidak merusak lingkungan. Tetapi terlepas dari itu, apakah pemerintah pernah menghitung berapa banyak uang ($) yang bisa dihasilkan oleh masyarakat lokal (grassroots) khususnya mereka yang memiliki hutan tersebut, atau mereka yang hidup dengan alam di sekitar mereka? Mungkin ini yang terkadang pemerintah atau NGOs lupa dalam hitungan-hitungan mereka, dan kemungkinan faktor ini pula yang menyebabkan kegagalan dari program-program yang telah mereka laksanakan.

Ya, ada begitu banyak proyek yang telah dilaksanakan, ada begitu banyak pula aturan dan kebijakan yang telah mereka tetapkan tetapi nampak tidak memberikan manfaat yang signifikan terhadap perubahan pola perilaku dan pola pikir masyakaat terkait menjaga lingkungan hidup. Well, dalam ilmu sosial, ada pandangan senderhana tentang identitas tempat (place identity) dimana seseorang merasa sebagai bagian dari sebuah tempat, memilki atau mewarisi ciri-ciri atau budaya dari tempat tersebut. Ketika seseorang atau sekolompok orang telah ada rasa memikki (belonging) atau merasa sebagai bagian dari sebuah tempat maka dengan sendirinya akan tumbuh kesadaran untuk menjaga dan merawat tempat tersebut. Pada posisi ini, saya kira bahwa umumnya orang-orang asli (indigenous people) dari tempat tersebut tentu memiliki rasa ikatan ini, dan akan lebih mudah menumbuhkan kesadaran mereka tentang lingkungan hidup di wilayah mereka. Akan tetapi orang dari luar (pendatang), yang bukan asli tempat tersebut cenderung tidak peduli sebab tidak memiliki ikatan sosial apapun dengan tempat tersebut alias tidak ada rasa memiliki. Mereka ini yang cenderung menghabisi hutan atau mengeksploitas sumber daya alam secara membabi buta, baik secara liar maupun melalui izin pemerintah. Saya kira ada begitu banyak contoh yang bisa kita lihat saat ini di Indonesia bahwa ada begitu banyak perusahan kayu dari luar ( yang bukan dimiliki oleh pribumi) yang saat ini sedang membabat hutan-hutan di Indonesia. Begitu juga dengan, kapal-kapal penangkap ikan yang secara membabi buta mengangkut segala jenis ikan, kecil dan besar tanpa memperhitungkan akibatnya ke depan.

Pandangan yang lainnya adalah pandangan sisi ekonomi dari sebuah tempat. Apakah tempat dimana sebuah komunitas masyarakat yang hidup di tempat tersebut memperoleh keuntungan (benefits) yang banyak dari tempat tersebut atau tidak? Berapa keuntungan yang mereka peroleh dari tempat tersebut jika mereka terus menjaga kelestariannya dan sebaliknya berapa kerugian yang akan mereka terima ketika merusaknya. Saya kira bahwa hal ini yang tidak disampaikan kepada masyarakat dengan baik sebab seperti telah saya utarakan di atas bahwa pemerintah dalam hal program atau kebijakan-kebijakannya seakan mengabaikan masyarakat. Pemerintah maupun NGO kelihatan seperti hanya sepihak dalam hal berbicara tentang benefit secara ekonomi yang akan diperoleh ketika tetap menjaga kelestarian lingkungan. Masyarakat hanya terus-menerus diperingati dan diberi kesadaran tentang bahaya merusak hutan,tanpa memberi pemahaman kepada mereka secara terang-terang, dengan cara yang bijak memberi pemahaman kepada mereka tentang manfaat ekonomi yang bisa diperoleh masyarakat lokal ketika melestarikan hutan/laut. Misalnya beberapa besar keuntungan dalam jumlah uang yang bisa diperoleh jika hutan/laut tersebut tetap dijaga, dan berapa kerugian dalam jumlah uang yang akan mereka peroleh jika hutan/laut tersebut mereka rusaki. Entah mereka belum bisa menghitungnya, mereka lupa ataukah memang sengaja ditiadakan. Padahal, ketika sekelompok masyarakat telah tahu bahwa mereka diuntungkan atau mendapatkan keuntungan secara ekonomi yang besar dari merawat atau menjaga lingkungan di mana mereka berada maka akan tumbuh rasa memilki (belonging) terhadap lingkungan tersebut dan dengan sendirinya akan muncul kesadaran untuk merawat dan menjaga tempat tersebut.

Saya kira bahwa dua hal tersebut menjadi hal yang terlupakan oleh para aktivis lingkungan dalam mengkampanyekan program-program pelestarian lingkungan hidup, padahal dua faktor di atas sangat penting dan saling mendukung. Jika sebuah komunitas masyarakat telah merasa diuntungkan dari lingkungan di mana mereka hidup maka akan timbul kesadaran untuk tetap mempertahankan kelestariannya, dan jika seseorang atau sebuah komunitas masyarakat telah merasa sebagai bagian dari sebuah tempat maka, ada rasa memilki terhadap sebuah tempat, maka apapun akan mereka lakukan untuk tempat mereka. Tantangannya adalah masyarakat luar yang terus berdatangan mencari hidup baru yang cenderung tidak memikirkan konsekwensi ke depan. Dua hal ini tentunya memilki kontribusi yang besar dalam hal merubah