KaimanaWest Papua

Sawat dan Frise : Kombinasi Unik Melayu Papua

Kombinasi unik Melayu- Papua dalam Tarian Lokal Masyarakat Kaimana

Saya berada di Kaimana tepat Bulan Ramadhan, dan beberapa hari lagi, hari Raya Idul Fitri akan tiba. Saya bisa berkesempatan mengamati suasana perayaan Idul Fitri, tentang tolerasi keagamaan, dan tradisi lokal menyambut dan merayakan lebaran. Tiga tahun lalu, saya tiba di Kaimana pada suasana yang sama dan saat lebaran. Dan pada saat lebaran, selain masyarakat lokal memiliki tradisi pegang tangan, yang tidak kalah menarik adalah pawai tipa hadrat mengelilingi Kota Kaimana, dan itu adalah bagian yang selalu ditungu masyarakat. Pemuda, anak-anak, ibu-ibu semuanya tumpah ruah ke jalan raya dan menari.

Tapi kali ini saya melihat ada hal lain yang lebih menarik dan menyita perhatian saya, yaitu tarian dengan alat musik tipa panjang, tarian khas lokal yang juga tampil dalam pawai itu. Tarian lokal yang sangat terkucilkan dari acara-acara keagamaan, kini bisa dimainkan bersamaan dengan tiba hadrat dalam pawai takbiran keliling kota Kaimana.

Tarian lokal yang ditampilakn ini, bagi saya adalah hal yang unik, dan baru, sebab belum pernah saya menyaksikan tarian traditional lokal, ditampilakn bersamaan dengan permainan hadrat atau dalam acara bernuansa keagamaan. Ini mungkin disebabkan karena, tarial lokal dianggab bukan budaya Islam, atau tidak bersinggungan dengan agama Islam, seperti tipa hadrat yang selalu dimainkan pada hampir setiap kegiatan keagamaan Islam, atau qasidah yang cukup populer di masyarakat sebagai musik-musik bernuansa Islami yang di dalamnya juga ada gambus, dan rebana.

 

Sekilas ketika memperhatikan tipa hadrat yang ditalu penuh gempita itu, terlintas dibenak saya, apa benar ini tradisi Islam, atau tradisi Timur Tengah yang selalu orang identikan dengan Islam. Kebanyakan orang memang tidak pernah bertanya seperti itu, lalu mempermaslahkan yang lain termasuk tarian lokal, dan mengucilkannya dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, ini bisa terjadi kerena kebanyakan orang juga mengenal agama bukan karena mencari tetapi kerena meniru dan mengikuti apa yang telah dilakukan terlebih dahulu yang kemudian menjadi tradisi tanpa mempertanyakannya lagi alias taken for granted.

Namun demikian, kali ini saya tidak ingin menelusurinya dan mendiskusikanya di sini. Di sini saya hanya akan mendiskusikan, tarian lokal yang ditampilkan bersamaan dalam pawai takbiran Idul Fitri itu.

Hal menarik bagi saya pada tarian lokal yang ditampilkan itu adalah, ketika melihat alat musik yang dimainkan dalam tarian itu. Hanya ada dua alat musik, yakini tipa panjang (rumu) dan gong (mamug), dan memang hanya demikan. Tipa panjang sudah menjadi alat musik tradisonal orang Papua, namun tipa panjang yang dimilki orang –orang di sini (Kaimana), sedikit berbeda dengan yang dimiliki orang-orang Papua di pantai Utara, dari ukuran dan kulit serta aksesoriesnya. Pada orang-orang di sini, ukuran tipa lebih panjang dan diameter lebih besar, kulit yang selalu mereka gunakan adalah kulit biawak (kusur rite), karena tipis dan lebih elastis. Mereka juga menempelkan sarang madu, di atas kulit membentuk beberapa titip kecil yang berfungsi menjaga elastifitas kulit tipa dan pengatur nada ketika dipukul. Mamug atau gong, juga menjadi alat musik terpenting yang dikombinasikan dengan tipa panjang dan dipukul mengiringi pukulan tipa panjang. Ini hal unik yang tidak terjadi di wilayah pesisir pantai Utara Papua. Mamug atau gong juga pernah menjadi mas kawin berharga pada masyarakat lokal di Kaimana. Menjadi pertanyaan adalah darimana mereka bisa mengenal gong, yang adalah identik dengan budaya Melayu, Jawa dan China, dan bukan alat musik asli lokal.

Mamug sebagai alat musik pada masyarakt lokal, selain dipadukan dengan tipa panjang (rumu), alat musik ini sudah menjadi instrumen penting dalam permainan musik tipa sawat. Dalam tarian tipa sawatalat musik ini juga berperan memberi stressing dan membakar semangat, selain ‘gendang’ dimana kedua alat musik ini memilki keunikan bunyi tersendiri dan lebih nyaring dari yang lainnya. Dalam permainan Tipa sawat, sering diiringi dengan permainan biola disertai pantun dan menari seperti burung terbang di udara yang dalam bahasa Irarutu menyebutnya fun man. Ini menandakan tipa sawat merupakan tradisi Melayu. Pada masyarakat di Kaimana hingga ke Teluk Arguni, tarian ini selalu identik dengan Islam, kerena selalu ditampilkan pada kegiatan-kegiatan keagamaan Islam, dan bahkan tidak dijumpai ada sebuah pesta yang menampilkan atau menggunakan tipa sawat pada kampung-kampung di Kaimana dan Teluk Arguni yang beragama Kristen. Sehingga dianggab juga sebagai tarian Islam, padahal melayu tidak berarti Islam. Sedangkan mereka yang beragama Kristen lebih cenderung menggunakan gitar nelon, atau ukulele yang mereka kenal dengan istilah ‘band kukur”, kerena cara bermainnya seperti sedang meng-kukur kelapa, dan kemudian juga dianggab sebagai alat musik khas Kristen.

Dugaan saya bahwa, gong (mamug) sebagai alat musik kemungkinan dikenal masyarakat lokal melalui tarian tipa sawat, lalu kemudian digunakan juga untuk mengiringi pukulan tipa panjang dengan tarian khas lokalnya. Sehingga jika gong itu identika dengan tipa sawat, dan tipa sawat itu identik dengan melayu yang oleh anggapan orang lokal, melayu berarti Islam. Maka tarian lokal yang juga menggunakan gong (mamug) seharusnya bisa dimainkan juga dalam acara-acara keagamaan Islam, seperti yang terlihat hari ini. Dan dari sini kita bisa juga menemukan bagaimana hubungan tarian lokal dengan Islam, sehingga tarian lokal tidak harus dikucilkan dalam acara-acara keagamaan.

Kebetulan saya sedang dalam suatu riset yang dua bulan terakhir ini, berkaitan dengan hubungan ritual ukur hidung (wegur nenun) dan Islam pada orang Yerusi dan Wefrna. Saya menemukan dalam nyanyian-nyanyian tradisional yang dilantunkan dalam ritual wegur nenun itu, memilki hubungan dengan kisah-kisah kejadian dalam kitab suci (Al-qur an dan Injil). Dalam ritual itu, nyanyian-nyayian itu bercerita tentang proses penciptaan manusia, bercerita tentang kisah bahterah Nabi Nuh, bercerita tentang kisah nabi Ismail dengan menggunakan Bahasa Kuri. Tentunya temuaan ini butuh analisis dan interpertasi lebih dalam, sebab ada indikasi rekonstruksi budaya ketika menerima pengaruh agama, namun yang ingin saya katakan adalah bahwa secara tradisioanal niali-nilai yang ditunjukan dalam tarian lokal bisa dihubungkan dengan nilai-nilai dan praktek keagamaan saat ini, sehingga tarian-tarian lokal pun bisa menjadi feature penting dalam acara-acara keagamaan dan tidak perlu dikucilkan, atau bial perlu dinomor satukan daripada warisan budaya Timur Tengah atau Melayu