Matahari hanya beberapa jengkal lagi akan tenggelam di balik gunung, memuntahkan berjuta warna ke permukaan danau yang begitu tenang, air di danau itu berubah warna merah kuning keemasan, pohon-pohon dan rumput-rumput kecil di sekitar danau seolah bermandikan cahaya emas, perlahan-lahan kabut tipis turun dari puncak gunung menutupi permukaan air danau, hawa dingin begitu terasa menusuk hingga ke dalam tulang sum-sum. Meskipun tubuh telah berlapiskan jaket penghangat tubuh serta penutup kepala yang tebal hingga hanya tampak wajah dan telapak tangan tapi itu seakan tak mampu membendung rasa dingin di sini, belum lagi tengah malam, entah bagaimana jadinya nanti. Kami bergegas mendirikan tenda sebelum malam tiba, suara jangkrik dan burung malam sahut menyahut mengiringi berlalunya sang mentari di balik bukit. Dua buah tenda telah kami dirikan, Malam ini di Taman Wisata Lembang, Jawa Barat, kami berenam, akan menghabiskan akhir pekan setelah lebih dua pekan menjalani masa oreientasi kampus yang terasa cukup melelahkan.

Matahari telah berlalu meninggalkan kami dan danau itu, hari bertambah gelap. Jimmy, Fahri dan Adi berada dalam satu tenda sedangkan Dwi, Linda dan Febri berada dalam satu tenda, lampu tenda kami nyalakan, beberapa saat kemudian dari celah-celah tenda, terlihat jelas bola bulan seperti sedang mengintip kami dari balik bukit, memacarkan cahayanya ke dalam danau, perlahan diiringi hembusan semilir angin gunung menyapu bersih kabut di tengah danau, dari tepi danau nampak jelas bayangan bola keemasan di dalam danau yang begitu tenang, Sungguh, siapapun yang berada di sini malam ini pasti akan terpesona dengan lukisan alam yang sungguh menakjubkan malam ini. Di tepi danau sana ada sampan kecil dan kayuh rasanya ingin aku mendayung ke tengah danau, tapi terasa begitu dingin hingga tak mampu lagi menyentuh air di danau yang begitu dingin.

Malam ini benar-benar menghapus semua rasa lelah hampir dua pekan lalu. Sekeras-kerasnya aku berteriak, meniru teriakan ala orang pedalaman di pegunungan Jayawijaya Papua,

Auuuuuuu, Auuuuuuuuuu, Auuuuuuuuuuuuu , Auuuuuuuu!

“ Wah sungguh menakjubkan!”

Suara lantang nyaris menghantam bukit di sebelah danau dan menggema di sekitar danau. Semuanya pun berteriak sekeras-kerasnya hingga menggema di hutan sekitar danau.

Auuuuuuuu, Auuuuuuuuuuuu, Auuuuuuuuuuu, Auuuuuuuu!

“ Eh, ngopi yuk,”

Pintas Dwi

“ Yuk, Ayo”

Adi dan Fahrul  mengiyakan tawaran Dwi. Adi mengelarkan kompor kecil yang memang disediakan khusus untuk camping. Fahrul mengambil beberapa cangkir dari dalam tenda, begitu juga dengan Dwi dan Linda yang keluar dari tenda mereka dengan membawa beberapa bungkus kopi dan juga cangkir.

“ Siapa yang mau meracik kopi.” Pinta Fahrul

“ Biar aku aja,” jawab Dwi

“ Ah, aku ga yakin kalau kopi racikanmu mampu bisa membunuh kedinginan malam ini,”

Sedikit bercanda, adi membantah Dwi

“Eh, jangan anggap enteng, gini-gini, pernah racik kopi di starbuck lho.”

“ Oke, oke, nanti aku yang menilai, soalnya aku rajanya kopi”

Adi menghidupkan kompor, beberapa saat kemudian kopi racikan Dwi telah jadi dan siap di nikmati,

“ Aku duluan ya?”

Aku lebih duluan mencoba kopi racikan Dwi,

“Wah, Harum sekali, Hmmm.. sedap, gurih sekali, manis dan  pahitnya seimbang”, luar bisa”

Dwi agak sedikit tersenyum  manis dan penuh rasa percaya diri.

Masing-masing menuanghkan kopi ke dalam cangkirnya, kami semua duduk di alam terbuka di atas sebuah karpet hijau sambil menikmati kopi dan Betapa indahnya lukisan alam malam ini, seakan memahami kalau kami sedang menanti sesuatu yang mampu menghilanngkan segala lelah dan resah. Malam mini benar-benar kenangan yang akan terus tercatat dalam benakku sepanjang hayatku.

Kompor kecil yang kami bawa dihidupkan untuk menghangatkan minuman. Kami berenam bercerita sambil menikmati keindahan alam malam mini,  sudah hampir pukul sebelas malam, udara bertambah dingin, tubuh sudah menggil kedinginan, kamu pun bergegas masuk ke tenda masing-masing.

Aku sendiri belum terlalu kenal akrab dengan Dwi, Linda dan Febri, selain Fahrul dan Adi. Tapi yang jelas aku tahu Adi dan Dwi memang sudah kenal dekat sejak kuliah di UNISBA bebrapa tahun lalu, sepertinya memang mereka sudah menjalani hubungan asmara, kalau Fahrul dan Linda spertinya tidak, mereka berdua memang akrab karena berasal dari satu daerah di Kalimantan dan mereka saling kenal sebelumnya, sedangkan Febri adalah teman dekatnya Linda yang juga dari Kalimantan, hanya saja dia dari Pontianak. Akan tetapi malam ini nampaknya kita semua seperti telah jadi teman akrab begitu lama.

Cahaya matahari pagi sudah namapak di balik bukit, suara burung dan bersiulan dan jangkrik pun kembali ramai menyambut terbitnya mentari. Udara terasa begitu dingin, tubuhku masih menggigil kedinginan, aku coba memberanikan diri keluar tenda,

“uhhhhhhhhh” dingiiin sekali”

Danau masih tertutup kabut putih, sebentar lagi akan tertiup angin dan melayang ke atas puncak bukit. Kembali aku masuk ke dalam Tenda.

Farul dan Adi juga menderita kedinginan,

“Haa haa haa haa”

Aku jadi ketawa, agak sedikit lucu melihat gaya tidur mereka berdua, kaki mereka terlimpat hampir menyatu dengan  kepala.

Sesaat kemudian di sekitar danau sudah terang, sinar matahari cukup kencang menusuk ke dalam danau, perlahan-lahan kabut tipis terbang dan menghilang. Adi dan Fahrul telah bangun meskipun masih kedinginan, begitu juga dengan Dwi, Linda dan Febri.

Aku coba menghidupkan kompor dan meracik kopi.

Dari tenda sebelah aku memanggil Dwi, Linda dan Febri

“ hey, ngopi dulu biar hangat”

Mereka bertiga lalu jalan ke tenda kami. Kami menikmati kopi dan beberapa potongan roti yang kami bawa. Febri lalu memeberikan cangkirnya untuk dituangkan kopi, dia nampknya lebih kedinginan  dari Linda, Dwi mungkin sudah terbiasa ke sini hingga dia tidak terlalu merasa kedinginan

“ Uuhhhhhhh, Aku ga bisa tahan dingin, mendingan kita pulang”

Pintas Febri berkata.

“ AKu juga.” Iya memang kita pulang aja.

Linda menyambung pembicaraan Febri.

“ Okelah. Sambung Adi

Matahari tampak sudah agak tinggi dari puncak gunung, kami bergegas membereskan barang-barang dan melipat tenda, aku dan Farul melipat tenda yang kami gunakan sedangkan Adi membantu Dwi, Lind dan Febri membereskan tenda mereka.

Setelah semua barang beres, kami pun berjalan meninggalkan tepi danau, turun menuju ke arah perkampungan lalu kami menumpang angkutan kota menuju ke kota, masing-masing  pulang ke rumah dengan membawa pulang kesan yang indah dan tak terlupakan di awal persahabatan kita dan di awal dari studi kita di PascaSarjana Universitas Pajajaran Bandung. ET