AsiaTravel StoryWest Papua

Skow Pos Lintas Batas RI-PNG : Hanya Tempat Selfie yang Bikin Iri

Tempat Selfie The Border Post of the Republic of Indonesia – Skow

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mobil yang saya tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi menuju pos lintas batas (cross boder post) RI-PNG. Nampaknya yang beraspal  mulus itu memaksa setiap penegmudi kendaraan untuk menginjak dalam-dalam  pedal gas mobil mereka. Tidak sampai satu jam perjalanan dari Abepura, kami telah memasuki areal pos lintas batas di skow, Muara Tami.

Kondisi ini tentu berbeda dengan sepuluh tahun lalu, ketika  saya mengunjungi pos lintas batas ini kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Saat itu,  tubuh kami  (para penumpang) harus bergoyang-goyang dalam kendaraan mengikuti gerakan kedaraan masuk dan keluar jalan berlubang. Demikian juga dengan para pengunjung, dimana orang agak ragu bahkan takut mengunjungi pos lintas batas. Saat itu,  hanya segelintir orang saja yang berani ke sana. KIni ini ada begitu banyak sekali kendaraan yang menju ke sana membawa ratusan bahkan ribuan orang pada hari-hari libur.

Master Plan – Pos Berbatasan RI-PNG Skow

Ketika hendak masuk areal pos lintas batas, di pos penjagaan Tentara Nasional Indonesia (TNI), setiap mobil dan sepeda motor harus melalui pemeriksaan dan menitipkan kartu identitas salah satu pengunjung dalam satu kendaraan. Setiap mobil harus menunrunkan kaca  ketika hendak melewait pos penjagaan TNI. Pada Pos TNI yang hanya berukuran satu kamar tidur kecil itu (kira-kira 3×4 meter) Nampak empat orang prajurit TNI dengan senapan laras panjang  berdiri memeriksa setiap kendaaran, dua orang parjurti lagi mendata dan mengambil kartu tanda pengenal pengunjung yang hendak masuk. Proses pemeriksaannya tidak ketat seketat dulu, hanya batuh waktu sekitar satu menit.

Setelah melalui pos pemeriksaan, di depan mata, nampak  berdiri dengan gagah megah bangunan pos lintas batas, yang baru saja diresmikan awal mei 2017 lalu oleh Presiden Joko Widodo. Paskah peresmian itu, ribuan orang setiap hari, terutama hari libur berkunjung ke sini, melihat kemegahan pos lintas batas RI-PNG di skow ini. Ini adalah kali kedua saya datang berkunjung di pos lintas  batas ini setelah peresmian pos yang baru. Kondisinya masih belum jauh berbeda dengan kunjungan saya yang pertama. Pada sisi kanan dan kiri proyek pembangunan yang katanya adalah pasar,  sedang dalam proses pengerukan tanah. Kendaraan kami berhenti persis di depan pos imigrasi lintas batas, dan puluhan orang sedang antri berdiri di depan papan nama pos imigrasi bertuliskan SKOW Border Post of the Republic of Indonesia. Papan nama itu tak pernah kosong, oleh pengunjung yang datang untuk ber-selfie di situ. Setelah puas ber-selfie di situ, para pengunjung lalu memasuki gedung, melewati pos imigrasi.

 

Pada pos imigrasi telah dilengkapi dengan mesin scanner itu mengecek barang-barang yang dibawa oleh pengunjung, namun dalam pengamatan saya mesin itu tidak digunakan, mereka hanya melakukan pemerinkasaan manual pada beberap orang yang membawa barang. Saya, juga tidak melihat adanya pengunjung lintas batas yang membawa masuk –keluar barang dalam jumlah yang besar sebab tidak ada yang barang yang bisa dideli di PNG (lintas batas) oleh warga Indonesia kecuali souvenir berupa baju koas oblong  dan topi PNG. Serta mendapat satu suguhan pemandangan pantai Wutung PNG  dari atas sepenggal bukit dengan membayar 10.000 per orang, kepada  warga lokal pengelolah bukit kecil itu. Bisa kita pastikan bahwa warga lokal PNG di wilayah perbatsan juga bertransaksi dengan menggunakan uang Rupiah, itu sebab aktifitas ekonomi diperbatasan masih di dominasi oleh warga Indonesia.   Sementara warga PNG yang ada diksekitar perbatasan  biasanya memasuki perbatsan Indonesia untuk membeli sembako di areal sekitar berbatasan.

Pemandangan Pantai Wutung PNG dari Perbatasan RI-PNG

Jelang Natal seperi saat ini, orang-orang asal Papua New Guinea yang tinggal di wilayah dekat perbatasan bisa membeli berbagai keperluan di Indonesia seperti minuman kaleng dan sebagainya. Mereka mungkin bisa membeli minuman dan kepeluan mereka itu dengan harag yang lebih murah ketimbang beli di PNG. Saya sempat melihat beberapa warga PNG yang membeli bahan makanan dan minuman kaleng  pada kios-kios warga Indonesia di perbatasan dan membawanya melintas pos batas.

POS LINTAS BATAS YANG BIKIN IRI

Pos lintas batas Indonesia yang berdiri gagah dan megah itu, sudah pasti membuat warga negara tentangga iri, jika mereka membandingkanya dengan pos lintas batas yang mereka miliki.  Ketika mereka berkunjung ke pos lintas batas milik Indonesia, mereka terkagum-kagum memandangi kemegahan pos milik Indonesia itu. Tidak hanya bagi warga sipil PNG, tapi juga para prajurit militer Papua New Guinea yang bertugas di pos lintas batas mereka. Pos lintas batas Indonesia yang megah dan perkasa  itu sebaliknya, memberikan kebanggaan dan  perasaan super bagi warga Indonesia yang berkunjung ke Papua New Guinea serta super bagi prajurit TNI yang bertugas di sana ketika melawati pos lintas batas PNG.

Warga PNG Belanja Sembako di Pos Lintas Batas Indonesia

 

 

 

Namun demikan,  selain warga PNG yang iri dengan kemegahan pos lintas batas itu, warga lain yang iri juga adalah warga lokal Papua yang ada di perbatasan? Menurut saya mereka pasti  iri, iri karena bangunan yang megah itu, tidak memberikan dampak yang berarti kepada kehidupan mereka. Mereka hanya berjulaan pinang dengan beralaskan karung di atas tanah. Sementara los-los pasar  (lama) yang ada ditempait oleh warga pendatang dari Sulawesi dan Jawa. Jika tidak ada upaya dari pemerintah lokal maupun nasional dalam rangka pembinanan ekonomi bagi warga lokal, maka mereka mereka akan terus iri dengan kemegahan bangunan perbatasan itu.  Kita tunggu saja, semoga ada keberpihakan pemrintah terhadap warga lokal di perbatasan dalam ekonomi mereka.