IrelandPeople & CultureUnited Kingdom

Studi Tetang Negara Islami di Dunia; Nilai-Nilai Islam Lebih Kental Terasa di Eropa, Bukan di Indonesia atau di Arab Saudi.

Studi Tetang Negara Islami di Dunia; Nilai-Nilai Islam Lebih Kental Terasa di Eropa, Bukan di Indonesia atau di Arab Saudi.
Dublin Mosque

Dublin Mosque

Bagi anda yang pernah tinggal di Inggris, akan merasakan sesuatu yang berbeda ketika pertama kali anda berada di sana. Hal yang membuat saya terkagum-kagum adalah ketika berbelanja di supermarket atau di toko. Anda boleh membawa pulang barang yang telah anda beli selama maksimal dua minggu, jika tidak cocok anda boleh mengembalikannya tanpa dikenakan denda, dengan catatan kuitansi ada, serta lebel barang tersebut masih terpasang. Sungguh suatu aturan yang sangat menghargai pembeli. Orang akhirnya tidak perlu ragu membeli, sebab jika tidak cocok, bisa dikembalikan. Saya pun sering melakukannya. Membeli beberapa potong baju atau celana jeans, ketika sampai di rumah dan mencobanya tetapi tidak merasa cocok, saya kemudian mengembalikannya, dan uang saya dikembalikan 100%. Sangat berbeda jika anda berbelanja di mall di Indonesia, anda akan menemukan tulisan ' barang yang telah dibeli tidak dapat dikembalikan' atau anda akan menemukan tulisam sperti ini ' pecah berarti beli' 

Barang yang telah di beli tidak dapat di kembalikan

Barang yang telah di beli tidak dapat di kembalikan

Ada hal lain juga yang baru adalah ketika orang hendak merubah fungsi rumah atau merubah bentuk rumah, termasuk menambah teras, atau lainnya. Ternyata tidak sesuka hati. Rumah yang saya tempati di sana memliki halaman belakang yang cukup luas, lalu pikiran saya mengapa orang yang punya rumah tidak menambah lagi kamar untuk disewa. Ternyata, tidak mudah melakukanya. Sebab pertama-tama yang punya rumah harus meminta izin kepada tetananga-tetangga terdekat, jika mereka mengizinkannya, maka proses selanjutnya adalah harus mengajukan permohonan kepada pemerintah setempat, dan akan ditinjau kelayaknnya. Jika tetangga tidak mengizinkannya misalnya karena nantinya akan mengganggu kenyamanan mereka, maka perubahan bentuk atau fungsi rumah tidak boleh dilakukan. Belum lagi soal penggunaan jalan, yang menurut beberapa kawan saya bahwa mereka baru benar-benar merasakan menyetir mobil dengan baik dan benar ketika berada di Inggris.

Ketika saya sharing pengalaman ini dengan kawan saya, yang juga adalah ustad yang sudah mempelajari Islam bertahun-tahun di pesantern hingga di perguruan tinggi dan memiliki gelar tertinggi akademik dalam ilmu syariah, dia hanya memberikan saya komentar yang sangat singkat bahwa “ itulah penerapan nilai-nilai Islami yang sesungguhnya”. Wah, koq bisa? negara yang bukan mayoritas Muslim, juga bukan negara Islam, mau mempraktekan prinsip-prinsip Islam?. Kata kawan saya itu ternyata benar, ketika tiga tahun lalu saya membaca sebuah tulisan, hasil studi yang dilakukan oleh dua orang Professor kaliber dunia, Professor Scheherazade S Rehman dan Professor Hossein Askari dari George Washington University, yang diterbitkan dalam Global Economy Journal Vol 10, Issue 3, 2010, hal 1-37.

Mereka menggunakan beberapa kriteria untuk mengukur tingkat Keislaman dari 208 negara dalam penerapan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan ekonomi dan sosial yakni; peluang ekonomi, kebebasan ekonomi, korupsi, sistem keuangan dan hak asasi manusia.

Hasil studi mereka memberikan kesimpulan yang sungguh mengejutkan negara-negara Islam, Negara-negara yang mayoritas Islam dan menerapkan syariat Islam atau prinsip-prinsip Islam, termasuk Indonesia. Sebab tak ada satu pun dari negera-negara itu yang masuk dalam 10 besar Negara Islami, atau Negara yang menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan ekonomi dan sosial mereka. Studi itu menemukan bahwa sebagian besar negara-negara Islam atau negara-negara yang menerapkan prinsip-prinsip Islam sendiri tidak menerapkan nilai-nilai Islam sesuai degan prinsip-prinsip Islam berkaitan dengn persoalan ekonomi, keuangan, politik, hukum sosial dan manajemen. Dan justru sebaliknya negera-negara non Muslim yang jauh lebih baik dalam pirnsip-prinsip Islam dalam parktek kehidupan sehari-hari mereka. Sehingga kandungan Alquran lebih terwakili oleh masyarakat Barat daripada masyarakat Muslim termasuk Indonesia.

Mereka memang tidak menerapkan hukum Islam , akan tetapi dari praktek kehidupan mereka, sungguh mencerminkan prinsip-prinsip Islami. Dengan memperhatikan indeks ekonomi Kota yang memiliki prinsip-prinsip yang sama dengan nilai-nilai Islam, atau seberapa dekat kebijakan-kebjikan dan prestasi negara yang mencerminkan ekonomi Islam, maka Irlandia menempati urutan teratas negara Islami dan Inggris berada pada urutan ke-5, setelah Swedia pada rangking 4, Luxemburg posisi 3 dan Denmark menempati rangking ke-2. Sedangkan negara dengan mayoritas Muslim dan menerapkan prinsip-prinspi Islam adalah Malaysia yang berada pada posisi 33 sedangkan Indonesia berada pada urutan 104. Negara-negara Arab yang menempati posisi 50 besar adalah Kuwait yang berada pada posisi 42, sementara Arab Saudi berada pada posisi 91. Artikel selengkapnya bisa di download di sini Scheherazade S. Rehman and Hossein Askari; An Economic IslamiC city Index (EI2) Global Economy Journal Volume 10, Issue 3 2010 Article 1

Islamic Index

Islamic Index

Hossein Askari, professor asal Iran dari George Washington University itu mengatakan bahwa

negara-negara Muslim hanya menggunakan agama sebagai alat kontrol negara, Banyak negara yang mengaku Islam dan disebut Islami kenyataannya tidak adil, korup, dan terbelakang dan sebenarnya tidak 'Islami' .

Lanjut sang professor Hossein Askari mengatakan

"Jika sebuah negara, masyarakat, atau komunitas menampilkan karakteristik seperti korup, menindas, dan tidak adil penguasa, ketidaksamaan di hadapan hukum, kesempatan yang tidak sama untuk pembangunan manusia, tidak adanya kebebasan memilih (termasuk dari agama), kemewahan bersama kemiskinan, kekuatan, dan agresi sebagai instrumen resolusi konflik yang bertentangan dengan dialog dan rekonsiliasi, dan, di atas semua, prevalensi ketidakadilan apapun, itu adalah bukti prima facie bahwa itu bukan komunitas Islam”.

Indeks Negara Islami yang diteliti ini secara keseluruhan menganalisa aturan-aturan sosial dan langkah-langkah menerapkan hak asasi manusia. Dan peringkat negera ini masih tetap sama dengan peringkat yang studi yang pernah dilakukan pada tahun 2010. Hanya ada pergesaran pada studi terbaru yang dipublikasikan tahun 2014 lalu, dimana Malaysia bergeser turun pada posisi 38 dan Kuwait pada posisi 48. Hasil penelitian ini sebenarnya sudah diulas di media, namun saya mengulasnya kembali sebagai refleski atas tindakan-tindakan atas nama agama (Islam) yang merugikan orang lain.

Hossein Askari

Ireland

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *