harbourbridge1

Matahari sudah hampir ke pearduan,  dan senja hampir tiba. Jelang akhir pekan di museum station kota Sydney,  penghuni kota begitu sibuk hilir mudik, masuk dan keluar dari statiun tua itu . Ada dari mereka yang menunggu kereta untuk pulang ke rumah bertemu keluarga. Ada juga dari mereka yang hendak bepergian ke suatu tempat, bertemu sabahat, kerabat atau kekasih, melepas rindu dan canda di akhir pekan. Ah, kota Sydney, mana mungkin juga saya melewatkan sisa hari ini begitu saja.

Tubuh ini memang terasa sedikit letih setelah hampir seharian bertualang, dari sebelah selatan ke utara dan kembal lagi ketika senja hampir tiba. Namun rasa letih itu tak mampu menghentikan langkah kaki para petualang untuk menikamati kemegahan Darling Harbour, sambil memandang Harbour Bridge dan Opera House yang termasyur itu. Di sana kami akan melepas sedikit kepenatan, menanti saat-saat dimana matahari akan pulang dengan meningggalkan lembayung senja. Sungguh, itu adalah saat-saat yang selalu ku nantikan, itu kreasi alam yang dahsyat, dan  saya benar-benar pencinta senja, penikmat saat-saat matahari hendak pergi menginggalkan hiruk-pikuk kota. Dari stasiun tua itu, saya bersama enam orang sahabat yang baru saya kenal dua pekan lalu. Kami memasuki lorong bawah tanah satasiun tua  itu dengan lenggang lemas tubuh kami. Di situ ada begitu banyak orang yang masuk dan keluar, naik dan turun dari kereta, sebagian dari mereka dalam kereta itu juga hendak menuju tujuan yang sama dengan kami, Circular Quay Station atau yang dikenal dengan Harbour Station.

Ketika tiba di tujuan kami, matahari sudah hanya sejengkal akan tenggelam.  Lampu-lampu di tepi pantai dan gedung-gedung di seberang sanapun telah menyala. Dari depan pintu stasiun nampak orang begitu padat lalu lalang, mencari posisi yang tepat, dari sudut ke sudut dan menagabadikan setiap gaya mereka. Di dermaga itu, bersandar pula kapal pesiar berukuran raksasa dengan tiang-tiang yang menjulang ke langit, dan para pesiar yang ramai yang sesekali melambaikan tangan dari geladak kapal ke seantero dermaga. Aroma romantis terasa ketika persis berada di ujung dermaga. Wajah-wajah letih empat orang sabahatku itu nampak ceria, mereka bergantian membidik aksi mereka, dan menagbadikan suasana di sekitar mereka.

Tak jauh, dari pandangan, di sebuah kafe yang berlabuh di atas air, nampak anak-anak muda duduk perpasang-pasangan, mamandangi laut dan kapal-kapal yang berlalu lalang, melewati kolong Harbour Bridge dalam balutan lembayung senja, dan kehangatan anggur di tangan mereka. Di ujung sana, dekat Opera House, gadis gadis muda berdiri berhadap-hadapan bersama orang-orang terkasih mereka dengan segelas anggur ditangan. Merekapun larut dalam obrolan panjang, entah tentang apa, namun yang ada hanyalah bisikan silir angin laut dan lukisan senja tipis sore itu telah memberi isyarat kemana cerita mereka harus dirangakai.

Opera House Sydney

Empat orang sahabat saya tak ingin pula berdiam, mereka terus mencoba mencari posisi yang sedap dan gaya yang pas untuk memotret. Mungkin puluhan jepretan yang telah mereka jepret dari kamera masing-masing, dan mungkin puluhan cerita telah terangkai dalam angan mereka. Firly gadis pembaca gambar dan media, pasti lebih paham melukiskan suasana itu, Mus sang penasehat yang ulung pun demikian, Ita si ahli kitab tentu lebih banyak lagi yang ingin dilukiskan, Umam sang Pengayom yang bijak terpijak dari sudut ke sudut, dan Rowan sang penunjuk jalan yang selalu menunjukan kami jalan yang lurus dan benar, tak perlah lekang menemani kami. Saya pun menikmati suasana itu, memotret langkah keempat sahabat itu, sesekali memotret suasana dan hinggar binggar di ujung laut hingga gelap datang bersama kami

Lampu-lampu dari dek kapal pesiar berukuran raksasan itu berpadu dengan deretan lampu di tepi pantai, manjadikan suasana semakin indah. Di tepi pantai meja-meja berukuran dua orang dengan lampu yang sedikit redup telah menanti para penikmat eksotisme malam, mereka yang hendak datang menghabiskan akhir pekan di sini. Romantisme malam Darling Harbour semakin kental diiringi musik jazz yang sayu-sayu terdengar dari kafe. Rasanya masih ingin terus barda di sini. sayangnya,    itu tidak memungkinkan lagi.  Cerita ini di dermaga ini harus berakhir di sini, memang tak cukup, namun suasana itu telah terekam dalam benak kami, juga kamera kami, dan suatu ketika akan menjadi kenangan yang indah  bersama sababat MEP 2016 G1  yang akan selalu dikenang. Di sisa waktu malam itu, sang penunjuk jalan membawa kami menuju sebuah rumah makan melayu tak jauh dari stasiun tempat kami datang. Di sana kami santap malam terakhir kami di Sydney, dan entah kapan suasana seperti itu akan terulang lagi. Terima kasih Rowan dan semua crew MEP, terima kasih juga untuk empat orang sahabatku untuk setengah waktu bersama di Darling Harbour, Sydney, episode akhir dari perjalanan MEP 2016 G1.

IMG-20160319-WA0006

Hyde Park Inn Sydney 19 Maret 2016.

ET/UW**

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *