AsiaKaimanaWest Papua

Tanggaromi : Dermaga Kecil Yang Sunyi

Dermaga Apung Perahu Tanggaromi- Kabupaten Kaimana

Hari sudah hampir separuh berlalu, langit yang biru, cerah dan angin mulai bertiup memberi isyarat bahwa kami harus segera berangkat sebelum angin bertambah kencang dan ombak semakin besar. Perahu yang akan saya tumpangi telah berangkat sejak pagi tadi dari kota menuju Dermaga Tanggaromi telah tiba dan menunggu di sana.

Di dermaga kecil Tanggaromi, tempat tambatan perahu, ada puluhan perahu milik orang –orang dari wilayah teluk Arguni hingga Kamberau, berlabuh berderet dengan tenang. Beberapa dari perahu-perahu itu terbuat dari kayu, namun kebanyakan terbuat dari bahan fiber. Meskipun nampak banyak perahu, dermaga apung itu nampak sedikit sepi dengan manusia. Di terminal penumpang yang berantakan hanya ada beberapa orang dan beberapa mobil angkutan umum berwarna biru, yang parkir di areal parkir dermaga. Di sisi kiri ada sebuah warung super kecil milik warga pendatang yang menjual rokok dan makanan. Di warung itu nampak beberapa orang sedang duduk dan asyik bercerita. Dermaga ini telah menjadi jalan alternatif bagi warga yang hendak ke kota Kaimana, dimana mereka tidak lagi harus menantang ombak yang ganas di laut terbuka menuju Kota Kaimana.

Namun, ada pula warga kampung yang masih tetap bertarung menerjang ombak menuju Kaimana. jika dirasakan angin kurang kencang dan ombak tidak terlalu ganas, maka warga bisa langsung menuju Kota Kaimana dengan perahu. Jika keadaan tidak memungkinkan, penumpang dalam satu perahu akan diturunkan di sini, dan hanya ada satu atau dua orang yang akan menantang ombak dengan perahu menuju Kaimana.

Hari ini saya akan menuju kampung Warwasi di Teluk Arguni, dan perjalanan ini telah dimulai sejak pagi tadi. Untuk mencapai dermaga di Tanggaromi, saya harus menggunakan kendaraan sewa dengan biaya 200,000 rupiah. Mobil –mobil sewa untuk ke Tanggaromi berwarna biru, umumnya bermerek APV Suzuki, dan pengemudinya kebanyakan adalah warga Sulawesi Selatan. Biaya sewa kendaraan ini terbilang cukup mahal untuk lama tempuh antara 30-40 menit., seperti dikeluhkan oleh beberapa warga yang saya kenal. Untuk mengurangi biaya itu, warga kampung biasanya sharing kendaraan sehingga biaya sewa satu kendaraan bisa ditanggung oleh dua hingga tiga orang.

READ ALSO  When Teachers Left School

Jalan menuju Tanggaromi berliku-liku, mendaki dan menurun bukit, beraspal tipis dan tidak seluruhnya telah beraspal. Pada beberapa titik nampak lubang-lubang, retak, berlubang dan patah kecil-kecil. Sekitar dua kilometer jalan kaimana Tanggarom masih belum teraspal. Cukup beresiko bahkan berbahaya jika turun hujan dan jalan berlumpur. Apalagi kendaraan yang digunakan warga (disewa) hanyalah kendaraan-kendaraan standar yang tak mampu melewati jalan berlumpur, yang berliku, mendaki dan tidak beraspal. Beruntung hari ini cerah dan jalan ini bisa dilalui tanpa kendala yang berarti, dan boleh saya katakan bahwa secara umum jalan cukup baik untuk dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua (sepeda motor).

Jalan Kaimana- Tanggaromi

Hari ini jalan cukup sepi, hanya beberapa mobil yang dijumpai, dan truk para pekerja serta beberapa kamp mereka di tepi jalan pada beberapa titik. Kemungkinan mereka sedang mengerjakan sisa jalan yang berlum teraspal itu.

Aliran listrik telah melewati jalan ini, itu nampak dari tiang-tiang listrik yang berdiri di tepi jalan dengan kabel yang membentang sepanjang jalan dari kota menuju Tanggaromi. Belum ada lampu jalan, sehingga bisa dipastikan bahwa jalan ini akan gelap gulita jika dilalui pada malam hari. Jalan ini membela kebun-kebun masyarakat, sehingga ketika melewati jalan ini akan dijumpai begitu banyak tanam milik warga seperti pisang dan durian yang berdiri di sisi kiri dan kanan jalan.

Matahari sudah lurus di atas kepala dan bayangan nampak lebih pendek, bertanda sudah tengah hari, dan kami harus segera berangkat. Bergegas kami mengangkut barang-barang dan logistik, dan tali perahu pun dilepas dari dermaga. Dua buah motor tempel berkekuatan 15 Horse Power (HP) dihidupkan dan perahu kami meluncur dengan kecepatan yang tinggi, membela ombak kecil-kecil meninggalkan busa air. Diperkirakan tiga jam kemudian perahu kami akan merapat di dermaga Kampung Warwasi, tempat tujuan kami.

READ ALSO  Arguni Wenum Kosi; Mengenal masa Kanak-kanak