Orang Papua telah menjadi objek penelitian, orang Papua telah menjadi acuan keresahan warga di Yogyakarta, ini tendensius dan sebagainya. Ungkapan-ungkapan itu muncul dari berbagai media sosial menanggapi sebuah skripsi berjudul “Ancaman yang Dirasakan Masyarakat Yogyakarta dari Kehadiran Kelompok Papua.” Skripsi itu ditulis oleh seorang mahasiswa strata satu di salah satu perguruan di Yogyakarta.  Skripsi itu menjadi viral dan telah mengundang reaksi beragama dari warga Papua di media sosial. Jika sepintas membaca judul skripsi itu, memberi isyarat bahwa kehadiran Orang Papua di Yogyakarta menyebabkan kehidupan masyarakat di Yogyakarta tidak nyaman. Sehingga, sangatlah wajar warga Papua bereaksi terhadap karya ilmiah itu, sekaligus penasaran tentang apa sesungguhnya yang diceritakan dalam skripsi itu. Tapi apakah anda sudah membaca isi keseluruhan skripsi itu?

Sebagai karya ilmiah mahasiswa strata satu, tentu memiliki batasan-batasan  yang telah ditentukan, sehingga untuk memahaminya pun harus dengan standar dan batasan-batasan  yang sama. Skripsi itu, dari sisi metodologi, hingga penarikan kesimpulan, tampaknya memang ada yang perlu dipertanyakan, misalnya, berapa banyak orang dilibatkan dalam pengumpulan data, di wilayah mana mereka tinggal, apakah berbeda-beda atau hanya terfokus dalam satu wilayah.   Bias, terbesar yang bisa ditemukan yakni kesimpulan yang ambigua, sebab, kebanyakan responden tidak mengalami secara langsung ancaman kehadiran orang Papua terhadap kehidupan masyarakat di Yogyakarta, melainkan mereka hanya mendengar dari orang lain atau mengetahui dari media. Jadi sesungguhnya perasaan terancam itu terbentuk karena wacana kekerasan yang dihembuskan oleh media dan stereotip tentang orang orang Papua yang telah lama dibentuk. Jika demikian maka, setiap orang dapat memberikan opini sesuai persepsinya, perasaannya, bukan pengalaman hidupnya bersama orang Papua di Yogyakarta, atau pernah melihat orang Papua melakukan kekerasan.  Namun demikian, ada hal penting yang perlu menjadi perhatian bersama dari hasil penelitian itu, khususnya para mahasiswa Papua yang sedang belajar di Yogyakarta, misalnya terkait dengan kebiasaan mabuk-mabukan dan mengganggu kenyamanan orang lain.

Pernyataan bahwa,  “orang Papua telah menjadi objek penelitian,  dalam kasus skripsi itu, sesungguhnya memang benar. Sejak dulu orang Papua telah menjadi objek penelitian, dari manusianya, budayanya, pemikirannya, agamanya, rumahnya, makanya bahkan mungkin celana dalamnya telah menjadi objek penelitian. Itu hal yang lumrah, dan setiap orang berpotensi menjadi objek penelitian dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, dalam penelitian diperlukan yang namanya ‘research ethics’’. Research ethics itu bertujuan untuk melindungi orang-orang yang terlibat dalam sebuah penelitian, melindungi mereka dari dampak buruk secara individu, kelompok maupun institusional, akibat dari hasil penelitian yang terekspos. Research ethics juga memberikan rambu-rambu terkait antisipasi yang tidak dikehendaki dari hasil riset yang dikonsumsi publik.

Dalam kasus skripsi yang menjadi viral itu, soalnya bukan pada orang-orang yang memberikan informasi, melainkan pada antisipasi hasil riset yang kemudian terekspos kepada publik, sehingga menimbulkan penafsiran di luar sudut pandang akademik,  sehingga menimbulkan persoalan baru di masyarakat. Skripsi itu kemungkinan hanya untuk bahan referensi internal kampus, yang juga hanya dapat digunakan untuk pengembangan pengetahuan, namun kemudian terekspos ke publik sehingga viral di media sosial dan menimbulkan berbagai reaksi, apalagi dengan judul yang cukup provokatif. Jika saja judul skripsi itu dirangkai dengan kata-kata yang lebih lunak, kemungkinan besar tidak akan menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda dari masyarakat Papua.

Catatan kita bersama adalah, apakah dalam setiap penelitian yang dilakukan, pernah meminta persetujuan setiap orang yang terlibat dalam penelitian tersebut, pernahkah kita menyampaikan kepada informan atau orang-orang yang dilibatkan dalam penelitian itu bahwa informasi yang diberikan akan dipublikasikan, atau dipergunakan untuk kepentingan A, B dan C, apakah mereka tidak keberatan jika nama dan institusi mereka terpublikasikan, apakah mereka juga diberitahukan tentang antisipasi dampak dari  hasil penelitian yang melibatkan mereka? Hal-hal seperti ini, dipandang sepele, sering tidak dianggap penting sebagai salah satu instrumen dalam penelitian, padahal di tempat lain telah menjadi tradisi dalam penelitian.