EuropeEuropeInterlakenSwitzerland

Untuk Sahabat dari Puncak Alpen Swiss

Tiupan  angin pagi itu membawa butiran-butiran salju menghapas wajahku ketika ku langkahkan kakiku keluar dari bangunan betong yang tertancap di dalam perut puncak gunung itu. Hari masih pagi, baru pukul Sembilan pagi, ini adalah kereta pertama yang kutumpangi menuju puncak Alpen Jungfaujoch, Switzerland. Aku akan bertarung dengan orang-orang satu kereta ini untuk menjadi yang pertama melihat hamparan salju di puncak Alpen yang masih tidur, belum ada jejak kaki orang yang merombok –rombak permukaan halus salju di puncak ini.  Sejak malam sudah say lihat  denah lokasi puncak itu dan saya yakin kalu nantinya orang akan lebih memilih menuju puncak (spinx), ke pucak banguna di atas gunung itu lalu memandang jauh ke hamparan salju di bawah. Dan benar, hampir seluruh orang satu kereta itu menuju ke sana. Saya dan beberapa orang kemudian mengambil arah lain. Dan benar !!! hembusan angin menyambar wajah kami, menyirami wajak kami dengan butiran-butiran salju ketika kami keluar dari gerbang itu.

Oh Tuhan, betapa indahnya… Di depan kami bagai lautan salju, putih membentang dan masih utuh, belum ada  satupun jejak kaki di atas lutan putih mulus itu. Ku tancapkan kakiku ke dalam salju itu dan kakiku tenggelam di dalam salju, empat orang yang bersama saya bahkan melompat dan berguling-guling…. Tentunya sangat gembira. Di ujung sana ada bendera Swiss yang tertancap pada sebatang tiang, aku lalu berlari ke sana dan memegang tiang bendera itu.

Yeahhhhhh……!!! I reach Top of the Europe, the highest point and the most beautiful mountain in Europe.

Kuberdiri lalu memandang jauh ke setiap sudut di puncak itu, Oh indah sekali..!!, Sepintas terlewat dibenakku sepotong gambar yang terpampang di dinding papan dapur kami. Masih teringat benar isi gambar itu. Pegunungan dengan salju yang tebal di puncak-puncaknya, lalu terlihat beberapa orang sedang bermain ski dan di bagian sudut paling bawah tertancap tegak bendera Swiss. Oh, Tuhan inilah lokasi gambar itu, gambar itu begitu memikat mata dan imajinasi saya hingga terpaksa gambar itu harus ku curi dari sekolah lalu kupasangkan di dapur kami. Ahh… padahal saat itu tidak ada bayang-bayang, atau bahkan mimpi ke Swiss pun tidak pernah ada. Hingga kuliah, lalu saya pernah berkenalan dengan seseorang yang sudah kulupa namanya, di berasal dari Swiss dan y sedang berwisata di Papua, lalu dia memberi saya gantungan kunci Swiss yang dilepas dari tasnya, lalu dia pernah mengatakan kepada saya bahwa ‘ semoga suatu saat kau bisa ke Swiss.’

READ ALSO  Backpacker Yuk ...!!

Hai kawan, apa kabarmu? namamu sudah ku lupa, tapi kata-katamu itu masih ku ingat. Kau tahu hari ini aku telah sampai di Swiss, aku telah berdiri di atas puncak Alpen. Puncak tertinggi di Eropa.

Ah,..Entah ini keberuntungan nasib?, mungkinkah ini adalah buah dari sebuah usaha dan kerja keras saya? ataukah ini adalah sebuah mujizat? Atau juga ini adalah jawaban dari doa kawan-kawan, sahabat dan kerabat?  Ah kawan, sulit untuk dijelaskan dengan sempurna. Semua itu seperti kombinasi ramuan yang saling mempengaruhi, memberi rasa dan warna pada roda kehidupan. Bagi saya kata-kata itu memiliki kekuatan sebab itu adalah doa-doa, harapan-harapan, dukungan yang bisa mengubah sesuatu dari sisi-sisi yang tidak pernah kita bayangkan. Saya akhirnya  tahu bahwa  ‘berkata yang baik (positive)’ kepada sahabat, kerabat atau siapa saja adalah motivasi sekaligus doa untuknya. Bagi saya sukses ketika meraih sesuatu bukalah semata kepintaran atau kerja keras yang kita lakukan sendiri, tetapi ada juga sisi lain yang terkadang kita abaikan, yaitu kata-kata teman, sahabat dan kerabat.

Terima Kasih Untuk Semua sahabat dan kerabatku...!!!

Interlaken-Swiss, 7 Juli 2012