img20161019195212

CATATAN PERJALANAN HARI KE TIGA (EPISODE III). Hari sudah gelap, saya, Parto, Syarif dan teman-teman lainya lagi bersantai duduk di lobi belakang rumah. Air laut masih penuh hingga menutupi separuh tiang-tiang paggung dapur rumah. Kami sedang menikmati kopi hangat, sambil bertukar pikiran terkait hal-hal yang kami jumpai siang tadi. Namun, di dermaga yang tak jauh dari pandangan mata, sebuah kapal sedang sandar di dermaga Kokas. Menurut Pak Tentara itu adalah kapal cepat, kemungkinan dari Bintuni, hendak menuju ke Sorong. Dalam benak saya, ah, jika saja kami sudah menyelesaikan pengamatan kami, sungguh menarik jika kita menumpang kapal itu ke Sorong, selanjutnya menggunakan pesawat ke Jayapura. Ternyata tidak hanya saya yang berpikir demikian, Parto juga mengungkapkan hal senada dengan saya.

Kami memang sedang asyik menikmati kopi, mamandang air laut dan juga berbagi cerita-cerita yang menarik, saya sebetulnya penasaran dengan keramaian yang ada di dermaga sana, saya akhirnya pamit keluar untuk membeli rokok, . Sayangnya, kios terdekat tidak menjual rokok, sehingga saya harus ke dua toko yang ada dekat pintu masuk pelabuhan. Saya berjalan ke sana, melawati orang-orang yang cukup ramai di jalan, dan kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda. Mereka nampaknya dari dermaga, melihat keramaian penumpang di pelabuhan, atau mungkin saja mengantar jemput penumpang. Saya tiba di depa tokoh, namun untuk masuk ke dalam toko, saya harus turun melalui tangga yang tingginya hampir mencapai atap toko, dan bangun toko-toko berada sekitar dua meter di bawah jalan utama. Ketika berjalan di jalan utama (Jalan Rumagesan), nampak atap bangunan toko-toko itu, hampir sama tingginya dengan jalan.

Setelah turun dan masuk ke toko, saya membeli rokok Sampoerna merah (besar) tiga bungkus, dengan total harga Rp. 60,000, dimana satu bungkus dikenakan harga Rp. 20.000. Ini harga yang normal, mengingat di Jayapura, sebagian besar toko dan kios menjual dengan harga yang sama, meskipun ada juga yang telah menjual jenis rokok tersebut dengan harga lebih dari 20.000. Selanjutnya, saya keluar dari toko, dan berjalan menuju dermaga, mengobati rasa penasaran saya, meskipun tadinya saya cuma berencana membeli rokok. Ketika memasuki pintu dermaga sebuah buah truk berwarna kuning keluar dari gerbang dermaga. Truk kuning itu memuat masyarakat, yang kebanyakan adalah anak-anak muda. Sedangkan di jalan, ada banyak anak-anak mudah yang masuk dan keluar, ada pula yang hanya nongkrong dekat gerbang dermaga. Saya terus berjalan, melewati pos penjagaan, belok ke arah kiri menuju dermaga, dan berjalan maju perlahan mendekati kapal, sambil memotret situasi di atas dermaga dengan kamera handphone saya.

Di atas dermaga, orang begitu ramai mondar-mandir, berdiri ngobrol dengan teman, pacar, dan sebagainya. Ada pula yang terus menerus berteriak dan memanggil-manggil orang di atas kapal. Mereka yang di atas kapal juga, tak mau ketinggalan menyapa orang-orang di bawah dermaga, yang beberapa saat lagi akan mereka tinggalkan. Mereka memang nampak datang dengan gaya mereka yang paling keren. Di dekat saya ada tiga orang anak muda, dan dua orang cewek yang berdiri, membuat setengah lingkaran. Tiga anak laku-laki muda itu menggunakan celana jeans, dan sepatu kets, sementara dua gadis muda itu menggunakan baju blose dengan parfum yang cukup menusuk hidung. Ah, saya sangat bisa memahami itu. Kapal yang sandar di pelabuhan selalu menjadi tontonan menarik bagi anak muda, di sani mereka bisa bergaya dan melihat penumpang yang datang dan akan pergi. Mereka datang dengan gaya terbaik mereka, dan kehadiran kapal di dermaga juga menjadi kesempatan untuk menyegarkan pikiran bagi anak-anak muda.

Di atas pelabuhan, tidak hanya anak-anak muda yang bergaya, ada pula orang tua yang juga berada di pelabuhan, yang menarik bagi saya di sana ada ibu-ibu yang berjualan makanan siap santap di atas dermaga. Ibu-ibu itu nampak meletakan bahan jualan di atas meja kecil, mungkin mereka membawa meja itu dari rumah. Jualan mereka berupa makan ubi-ubian (singkong rebus, keladi rebus), ada juga nasi bungkus, da roti goreng. Ada pula yang menjual pinang, sirih dan kapur. Ya, fenomena jaualan di dermaga ini bukan sesuatu yang baru, namun bisa dijumpai di setiap pelabuhan, tempat singgah kapal penumpang. Ketika kapal penumpang sandar, dermaga juga menjadi tempat jual beli, oleh penumpang yang turun dari kapal, maupun penumpang yang hendak naik ke kapal. Saya terus berjalan mendekati badan kapal, berdiri beberapa saat, mengamati suasana di atas dermaga dan memotret dengan kamera handphone.

img20161019195417

Nampak juga anak-anak mudah di dermaga itu perkelopok mulai berjalan meninggalkan dermaga, sepertinya kapal akan segera berangkat. Saya memang tidak ingin berlama-lama di deramaga, saya hanya sekedar ingin mengetahui suasana dermaga saat kapal penumpang bersandar. Saya berjalan keluar dari dermaga, tujuan kembali rumah tempat saya menginap. Sudah hampir jam 8 malam, dan jalan utama di kota kecil itu mulai sepi dari orang. Ketika tiba di rumah, saya langsung mengambil laptop saya, juga kamera dan menuju ke lobi bagian belakang. Di sana ada Suparto, Pak tentara dengan istrinya (tuan rumah), ada juga syarif dan pak Ahmad.

Ketika saya memandang ke dermaga, saya tak lagi melihat kapal yang tadi bersandar di dermaga. Kapal itu telah berangkat, dan telah berada di balik tanjung hingga tak lagi bisa terlihat. Saya mulai mengajak Parto juga Pak Tentara dengan Istrinya untuk bercerita tentang pejalanan kami siang tadi. Saat kami akan memulai bercerita mengenai misteri tapak tangan yang terlukis di dinding-dinding terbing karang, Ibu tentara (tuan rumah) yang duduk pada tepi (lobi dapur) mendapat tanda, kode misteri (namun hanya beliaulah yang bisa memahami itu), entah apa maksud dari tanda atau kode itu, namun ada sebuah keyakinan pada mereka bahwa ketika hendak bercerita tentang hal-hal misteri, pasti akan bertemu tanda-tanda seperti itu. Kode itu seolah memberi kesan bahwa apa yang kita sedang ceritakan ini, benar-benar ada. Kode itu juga bisa memberi pesan bahwa cerita kita harus dihentikan. Ibu itu dan suamniya kemudian masuk, ke rumah, kemungkinan melakukan suatu ritual. Biasanya mereka selalu mengeluarkan rokok, membakarnya, lalu berkomunikasi dengan roh-roh (tuan tanah atau leluhur), biasanya dengan menggunakan bahasa lokal.

Saya membuka laptop saya, dan memasukan kartu memori yang saya lepas dari kamera. Saya hanya bersama Parto, sementara teman-teman yang lain sedang menulis dengan laptop masing-masing di ruang depan, Pak Ahmad memang sudah pamit untuk tidur karena kelelahan. Saya mulai membuka satu persatu foto-foto perjalanan siang tadi, hingga saya berhenti pada foto-foto lukisan di tebing batu. Saya dan Parto coba mengamati bentuk bentuk simbol yang pada umumnya berupa telapak tangan dan jari-jari terbuka, ada pula lingkaran menyerupai matahari, serta benuk-bentuk seprti pohon kadal. Kami coba menyelami apa makna dari semua itu. Saya sangat yakin kalau ada sebuah pesan/cerita dibalik lukisan-lukisan itu. Namun, ketika sedang mencoba, menduga-menduga kemungkinan pesan yang tersembunyi, saya tiba-tiba merasa ketakutan, dan merinding. Saya kemudian menutup laptop tiba-tiba dan mengajak Parto untuk mengalihkan cerita kita ke hal yang lain. Saya sendiri kurang paham apakah hanya sebuah perasaan atau memang gambar-gambar di dinding batu itu bertuah, sebab nampak cukup mengerikan. Parto mengatakan bahwa Ia juga mengalami hal yang serupa. Saya mengatakan ke Parto untuk meminta Ibu (tuan rumah) untuk datang dan membuang rokok atau berbicara meredahkan suasana. Namun, Parto secara spontan mengambil sebatang rokok, dan membuangya ke laut, sambil mengatakan ‘ kamu isap rokok ini sudah”, dengan tujuan agar kita tidak diganggung oleh mereka (makhluk/roh leluhur). Perasaan saya sudah tidak lagi pada tensi rasa takut, namun pembicaraan saya dan Parto telah beralih pada perang dunia kedua, tanda salib yang terpasang di depan kampung Andamata. Saya pun mulai berbaring di atas papan anjungan dapur, demikian juga dengan Parto, namun hujan rintik mulai turun, dan kami harus masuk ke dalam rumah. Di ruang depan sudah sepi, teman-teman sudah tidur. Parto pun mengambil posisi tidur di atas sofa, sementara saya menyisip masuk tidur di samping pak Ahmad dan Yusuf. Good n, semoga mimpi tidur malam ini mendapatkan inspirasi untuk esok hari.

Give Comment
https://ethnotraveller.net/wp-content/uploads/2016/11/IMG20161019195417.jpghttps://ethnotraveller.net/wp-content/uploads/2016/11/IMG20161019195417-150x55.jpgUmar WerfeteFakfakPeople & CultureTravel NotesTravel StoryWest Papuadermaga kokas,kapal cepat,Kokas,pelabuhan kokas
CATATAN PERJALANAN HARI KE TIGA (EPISODE III). Hari sudah gelap, saya, Parto, Syarif dan teman-teman lainya lagi bersantai duduk di lobi belakang rumah. Air laut masih penuh hingga menutupi separuh tiang-tiang paggung dapur rumah. Kami sedang menikmati kopi hangat, sambil bertukar pikiran terkait hal-hal yang kami jumpai siang tadi....
READ ALSO  Local People Houses at Kokas, Fakfak