ema-ikuta-shrine_kobe

Ema – Ikuta Shrine Kobe

 Ketika orang berkunjung ke Jepang maka salah satu obyek wisata yang sering dikunjungi adalah shrine, yang tersebar di setiap kota di Jepang. Masing-masing shrine memiliki cerita dan kekhasan tersendiri. Salah satunya adalah pelat kecil yang terbuat dari kayu dengan gambar dan tulisan-tulisan aksara Jepang. Ya, orang Jepang meyebutnya ema (絵馬), dan ada juga yang versi lain yakni O-mikuji Ketika pertama kali saya berkunjung ke Ikuta Shrine di Kobe, saya melihat ada begitu banyak pelat papan kecil yang digantung pada sebuah rumah kecil yang berada di samping kanan kuil itu. Saya hanya bisa menduga-duga maksud dari ribuan papa kecil dengan tulisan- tulisan yang bergantungan itu. Awalnya saya menduga bahwa isi tulisan dalam papan-papan kecil itu adalah nama-nama kerabat pengunjung kuil yang telah meninggal, dengan harapan ketika nama mereka diletakan disitu akan selalu dikenang oleh mereka ketika hednak berkunjung ke shire. Di situ saya juga melihat beberapa orang yang menggantungkan papan mereka disitu. Hal serupa juga saya temukan di Grand Kasuga Taisha Shrine, Kota Nara

Ema berisikan gambar-gambar yang berkaitan dengan shinto, doa-doa dan harapan-harapan sesorang di masa yang akan datang, yang ditinggalkan di shrine, dengan harapan kami  akan menemukannya dan bisa mengabulkan keinginan orang yang menaruhnya di kuil. Dulunya orang menyumbangkan kuda di kuil, untuk kepentingan beramal, kuda dianggab sebagai kendaraan para dewa. Dengan menyumbangkan kuda kepada kuil, diharpakan doa-doa mereka bisa dikabulkan.

Ema- Ikuta Shrine Kobe

ema_ikuta-shrine-kobe

tumpukan-ema_nara

Tumpukan Ema- Grand Kasuga Taisha Shrine, Nara

Akan tetapi, kini telah mangalami perubahan, orang tidak lagi membawa kuda ke sana, namun hanya dengan gambar-gambar pada sebuag pelat kayu. Ya, mungkin itu sebuah proses adapatasi dengan kondisi saat ini, lagipula bisa dibayangkan bagaimana jadinya, jika semua orang datang dengan membawa seekor kuda. Bisa jadi kuil akan penuh dengan kuda. Selain itu, saat ini kuda adalah hewan yang cukup mahal, sehingga tidak mungkin bisa dijangkau oleh semua orang. Dalama perkembanganny, pada masa Muromachi, telah muncul karakter-karakter yang lain selain kuda, dan pada periode selanjutnya, periode Edo, Ema kemudian menjadi tardisi umum dalam masyarakat. Semua orang boleh membeli pelat papan kecil itu untuk menyampaikan doa-doa mereka kepada ‘kami’. Ema bisanya disedikan di kuil, dan anda bisa membelinya. Ketika menjelang ujian sekolah, siswa-siswa di Jepang bisaya datang membeli ema dan menulisakan menuliskan harapan-harapan mereka agar bisa lulus dalam ujian. Ada juga yang melakukannya ketidak hendak mencari kekasih atau melamar pekerjaan.

READ ALSO  Little Life of Kobe City, Japan

Nah, Jika anda berkesempatan mengunjungi kuil mungkin anda bisa membelinya dan meminta bantuan sahabat anda untuk menuliskan keinginanmu-keinginanmu di atas pelat kau itu. Oh, iya, setiap kuil memiliki karakteristik ema yang berbeda-beda

dsc_9701

Give Comment
https://ethnotraveller.net/wp-content/uploads/2016/01/ema-ikuta-shrine_kobe.pnghttps://ethnotraveller.net/wp-content/uploads/2016/01/ema-ikuta-shrine_kobe-150x150.pngUmar WerfetePeople & CultureTravel Storyema,ikuta shrine,japanese lucku
Ema – Ikuta Shrine Kobe  Ketika orang berkunjung ke Jepang maka salah satu obyek wisata yang sering dikunjungi adalah shrine, yang tersebar di setiap kota di Jepang. Masing-masing shrine memiliki cerita dan kekhasan tersendiri. Salah satunya adalah pelat kecil yang terbuat dari kayu dengan gambar dan tulisan-tulisan aksara Jepang. Ya,...