CATATAN PERJALANAN HARI KE TIGA (EPISODE IV) | Matahari sudah condong ke arah barat, perjalanan kami menelusuri jejak misteri pada dinding-dinding batu karang telah usai. Kami masih belum bisa langsung pulang, masih ada satu lagi situs sejarah Islam di Kokas yang harus kami singgahi. Perahu kami melaju dengan kecepatan penuh, air masih surut dan kelihatan di daratan pasir masih kering. Tiba-tiba saja perahu kamu naik hampir kandas di atas pasir, hentakkan badan perahu di atas pasir membuat kami semua kaget, untungnya perahu kami tidak kandas. Sungguh kami semua tidak melihat itu, sebab kami semua duduk dalam perahu dan tidak memperhatikan itu. Driver perahu kami, tiba saja menurunkan gas motor, kami melaju perlahan-lahan hingga lepas dari pasir timbul itu. Kamu pun melaju dengan kecepatan penuh.

dsc_1081

Pengemudi perahu kami membelokkan arah perahu kami 15 derajat menuju daratan. Tujuan kami adalah kampung Raja atau Wertuar. Di sana kami akan melihat sebuah masjid tua Patimburak, yang masih berdiri dan berfungsi hingga hari ini. Ketika perahu kami mulai memasuki muara sungai, nampak putih memanjang, penggusuran tanah dan bebatuan, Bapak Rais yang duduk di depan saya menjelaskan bahwa itu adalah proyek pengerjaan jalan Bomberai – Kokas melewati Patimburaak, “ di sana akan dibangun jembatan panjang menyeberangi sungai’, kata Pak Rais Kuda. Di belakang tanjung juga nampak perkampungan

Dengan rumah-rumah warga dengan warna cat atap berwarna biru. “Itu Kampung Mandoni” Kata Pak Rais. Lanjut beliau bercerita bahwa “ di sebelah kiri kampung itu ada sungai ‘ di situ tempatnya orang-orang marga ‘Herietrenggi”, sementara di sebelah kanan kami, ada beberapa pulau, itu adalah kampung sekar lama, dulunya kampung sekar yang di Kokas itu di sini, lalu kemudian dipindahkan ke sana, antara pulau-pulau ini dulu dibangun jembatan.” Di atas sana gunung yang nampak biru itu Kampung PikPik di sana, orang orang Bahba, Heremba, Patiran, mereka tempatnya dari sana. Kalau saya, moyang saya berasal dari Namatota Kaimana, moyang saya itu saudaranya Hayum Ombaer yang datang ke sini dan tinggal di sini. Tempat tinggal saya di Patimburak, dulunya tempat ini adalah milik orang Baraweri, namun karena mereka membuat masalah maka untuk menebus kesalahan mereka, wilayah di Patimburak ini di serahkan kepada moyang kamu, tanah ini sudah dibeli adat oleh kami, kata Bapak Rais

“Berarti ada proyek jalan ini, hak ulayat dibayar kepada Bapak?” saya memotong cerita Bapak Rais. “Iya tapi kalau untuk bangunan pemerintah, bangun saja, tidak pake bayar-bayar”. Pernah orang Baraweri datang meminta hak mereka, tapi saya bilang, ini bukan hak kalian lagi, tanah ini sudah dibeli secara adat” kata Bapak Rais.

Perahu kami terus melaju dengan kecepatan penuh, hingga merapat di dermaga kecil Kampung Patimburak. Air sudah surut hingga meninggalkan tiang-tiang jembatan yang sudah mengecil termakan tiram yang menempel. Di sebelah dermaga itu ada seorang ibu di atas perahu, yang sedang parkir, dan beberapa saat kemudian ia membelokkan perahunya dan mendayung menuju muara sungai. Dari dermaga, bisa terlihat dengan jelas sebuah kuburan dan bangunan masjid tua yang akan kami singgahi. Bapak Rais lebih awal menaiki tangga ke atas jembatan, saya menggantung kamera menyilang di bahu dan menaiki tangga. Dari dermaga nampak jelas sebuah kuburan dengan tegel berwarna biru laut. Kata Bapak Rais itu adalah kuburan orang tua mereka. Para pejabat dan tamu dari kota sering datang ke sini dan berdoa di kuburan ini. Kami di atas dermaga kayu itu, berjalan menuju ke kampung. Persisi di ujung darat dermaga, samping sebelah kiri, ada sebuah rumah beton sederhana bercat merah muda, Pak Rais lalu mengatakan kepada saya bahwa rumah itu miliki anak laki-laki tertua saya, di rumah ini tersimpan segala bentuk. Namun, Ia tidak berada di sini, Ia seorang mantri, dan sedang bertugas di Kokas.

Saya berjalan mengikuti trotoar jalan hingga ke depan masjid tua yang dimaksud. Dari depan itu saya mengamati sekitar bangunan dari luar pagar. sebuah pelat seng yang sudah berkarat hingga tulisannya sudah hampir habis termakan karatan, dan sulit terbaca, masih berdiri di depan halaman masjid. Pelat seng itu bertuliskan “ Dinas Kebudayaan Provinsi Papua, Situs Masjid Tua Wertuar Patimburak, situs ini dilindungi undang-undang nomor 5 tahun 1992….”

Bapak kepala desa yang tadinya menyambut kami di pelabuhan, terus ikut bersama kami. Beliau tak banyak bercerita sebab, Ia paham kalau Bapak Rais lebih tahu banyak, dan pastinya sudah menceritakan kepada kami soal kampung Wertuar dan Masjid Patimburak ini. Bapak Rais pun mengatakan itu, kepada saya, bahwa “ kalau ada saya” pak Kepala Kampung pasti tidak ingin berbicara lebih banyak”. Bapak kepala desa hanya mengatakan kepada kami bahwa ada bantun dari pemerintah untuk merenovasi masjid Patimburak ini. Namun mereka tidak menginginkan itu. Ketika saya melangkah masuk ke dalam halaman masjid, di sebelah kanan memang tersusun bertumpuk tegel dan daun seng untuk merenovasi bangunan tua itu. Mendengar apa yang dikatakan pak Desa, saya agaknya setuju dengan masyarakat di situ. Jika memang ingin direnovasi, karena usia bangunan yang sudah sangat lama, dengan kayu yang sudah lapuk dan berbahaya keamanan orang di dalam, mungkin diperlukan membangun duplikasi bangunan yang sama. Butuh insinyur yang berpengalaman untuk melakukan renovasi tanpa merusak bentuk dari bangunan tersebut. Memang sangat kelihatan kalau tiang-tiang masjid itu sudah lapuk. Di samping kanan ada dua tangki air berukuran sedang, satu berwarna kuning dan satu lagi berwarna hijau yang tecretak tulisan “AFKN Peduli” serta logo yayasan Alfatih Kafah Nusantara (AFKN) pimpinan uztad Fadlan Garamatan. Saya melihat pak Ahmad dan Parto sudah berjalan ke dalam halaman masjid yang tidak terlalu luas itu, sambil memotret dengan kamera handphone mereka. Saya berjalan mengintari bangunan masjid tua itu, dan berhenti di setiap pintu masuk, sambil memotret.

dsc_1089

Arsitektur masjid ini menurut beberapa orang membentuk lambang salib, namun bagi saya artsitektur masjid ini membentuk empat arah mata angin, dimana setiap sudut mata angin memiliki pintu untuk masuk ke dalam masjid, sehingga orang dengan mudah masuk ke dalam masjid, terkecuali  satu sudut yang menghadap ke kiblat, dimana digunakan sebagai bilik tempat imam dan khatib. Sementara beduk yang kelihatan masih baru itu, terletak pada pintu depan atau pintu sebelah Timur yang menghadap ke pintu pagar. Ruangan shalat di dalamnya cukup kecil, ini bisa dipahami bahwa memang dulu, umat Islam masih sangat sedikit, jika saya perkirakan ruang di dalam hanya bisa menampung antara lima belas hingga dua puluh orang. Pada bagian dalam masjid ini memiliki satu bilik untuk Imam, yang bersebelahan dengan bilik untuk khotib pada sisi sebelah kanan. Pada bagian tengah isi ruang masjid memiliki empat pilar yang sudah lapuk termakan rayap. Kemungkinan tiang ini masih yang asli seperti dulu, sebab ketika masuk ke dalam masjid, dan menengok ke arah atas bagian kubah masjid, palang dan kayu penyangga kubah masjid, atap/daun seng nampak masih baru. Kemungkinan kayu lama sudah lapuk, tak bisa lagi menahan beban, hingga harus diganti, demikian juga dengan atapnya. Menurut bapak Rais, kain dekorasi pada bagian depan bilik Imam dan Khotib, masih yang asli, termasuk tirai penutup mimbar khotib. Ada hal yang menarik bagi saya adalah ketika melihat kaligrafi dan ornamen pada tirai mimbar khotbah. Motif atau ornamen pada tirai itu membentuk lambang laksana orang sedang berdiri dan melebaran kedua tangan. Sekilas ornamen itu juga menyerupai lambang salib. Entahlah, mungkin motif itu memiliki makna yang lain dari yang bisa saya tangkap dengan mata kepala saya. Saya mencoba memotret ruang dalam masjid itu, membuat rekaman video dengan kamera yang saya genggam.

Setelah saya memotret bagian dalam masjid, saya keluar dan menuju ke kuburan yang barada di tepi pantai. Saya berdiri di sebelah laut dan memotret kuburan itu dengan latar masjid tua Patimburak. Parto, Pak Ahmad Bapak Rais dan Pak tentara telah berjalan menuju ke dermaga. Kami akan segera berangkat, tujuan kami adalah kembali ke kampung Sekar di Kokas. Kami kembali menelusuri muara sungai yang berhulu di Kampung Kayuni itu, tempat dimana beberapa hari lalu kami lewat dan parkir sebentar memotert air terjun. Bapak Rais kembali bercerita soal wilayah milik mereka yang kini sedang digusur untuk dibangun jalan. “Orang Baraweri memang datang dan mengatakan ini tanah mereka, tapi saya bilang ini bukan tanah kalian lagi, tanah ini sudah dibeli” Bapak Rais menegaskan. Saya hanya mendengar dan menambahkan “jadi tanah ini sudah dibeli secara adat?” Bapak Rais lalu mengiyakan itu.

Perahu kami terus melaju, melewati bekas Kampung Sekar (Kampung Lama), yang ketika memandang dari jarak kami berada, sudah tidak kelihatan lagi bekas-bekas rumah atau peninggalan. Saya sebetulnya ingin sekali mampir dan melihat bekas-bekas kampung. Informasi yang saya peroleh dari warga di kampung sekar (kokas) bahwa di Kampung Sekar lama itulah terdapat masjid pertama, yang kemudian dipindahkan ke Sekar di Kokas seiring perpindahan masyarakat. Pak tentara juga menjelaskan bahwa “ bapak mantunya (almarhum) Bapak Serbunit, mengatakan bahwa dulu Bapak Raja Wertuar sering shalat di Masjid Sekar (kampung lama) hingga para tetua itu mengatakan kepada Bapak Raja bahwa sebaiknya Bapak raja bangun saja Masjid di Kampung Patimburak, karena di sana juga ada warga yang beragam Islam. Atas usulan itulah Bapak Raja memerintahkan masyarakatnya, baik yang beragama Islam maupun Kristen, bahu membahu membangun masjid Patimburak, dibawah Komando Kepala Tukang Bapak Kilian.

Kami tidak bisa singgah di kampung itu, untuk menelusuri bekas-bekas kampung itu, sebab teman-teman sudah merasa haus dan lapar. Matahri sudah miring dari atas kepala kami, kemungkinan sekitar jam setengah empat. Kami tak bawa bekal makanan, hanya ada air minum mineral. Saya dan juga teman-teman bertahan dengan beberapa botol air mineral, hingga kami tiba di kampung. Saat tiba di kampung, air laut masih belum mencapai daratan, hingga kami harus berjalan di atas lumpur menuju rumah. Pak Ahmad yang sudah tak tahan rasa lapar, langsung menuju meja makan, menyusul Parto, Saya dan teman-teman lain. Selain lapar, kami juga kelelahan, terpapar teriknya matahari air laut. Usai makan, saya masih mengotak-atik handphone, saya hanya ingin melihat, jika ada pesan atau email penting. Di depan, di ruang tamu, teman-teman sudah membaring-baringkan tubuh yang kelelahan. Saya pun ikut, membaringkan tubuh dan tertidur, hingga bangun sudah hampir jam enam sore.

Give Comment
https://ethnotraveller.net/wp-content/uploads/2016/11/DSC_1081.jpghttps://ethnotraveller.net/wp-content/uploads/2016/11/DSC_1081-150x55.jpgUmar WerfeteFakfakIndonesiaTravel StoryWest Papuakampung raja,kampung wertuar,Kokas,masjid tua patimburak,wertuar
CATATAN PERJALANAN HARI KE TIGA (EPISODE IV) | Matahari sudah condong ke arah barat, perjalanan kami menelusuri jejak misteri pada dinding-dinding batu karang telah usai. Kami masih belum bisa langsung pulang, masih ada satu lagi situs sejarah Islam di Kokas yang harus kami singgahi. Perahu kami melaju dengan kecepatan...
READ ALSO  Masjid Wertuar Patimburak, Kokas