img20161019064600

CATATAN LAPANGAN HARI KE TIGA, EPISODE I | Pukul 05: 37 pagi saya terbangun dari tidur, di sebelah kanan saya Pak Ahmad masih terbaring dalam selimut, Yusuf, Hidayat dan Syarif juga masih tertidur. Parto yang tidur paling ujung kiri sudah bangkit dan meninggalkan tempat tidurnya. Ia nampak sedang memainkan jarin-jarinya di atas keyboard laptopnya, matanya nampak sedikit sayu karena melototi layar laptop dengan kondisi kecerahan yang sengaja dikurangi agar menghemat baterai laptop. Iya, maklum karena di sini pada siang hari listrik tidak menyala.

Saya bergegas bangkit dan menuju dapur, tempat nongkrong. Cuaca sedikit dingin, angin pagi yang bertiup sepoi-sepoi. Papan lantai duduk masih basah karena hujan gerimis tengah malam. Air laut masih penuh sikar dan tenang, perahu-perahu warga berlabuh tenang. Sinar matahai pagi mulai cerah membakar bibir pantai. Dari lobi tempat nongkrong di belakang rumah, nampak langsung dapur para warga dengan kesibukan mereka. Ada yang memotong kayu bakar, menimbah air, mencuci hingga mempersiapkan perahu mereka untuk keluar mencari nafkah. Beberapa perahu nampak masuk ke pemukiman warga melewati sisi kanan lampu merkusuar milik syahbandar pelabuhan laut yang tepat berada di depan pandangan saya. Saya kembali masuk ke dalam rumah, membuka tas dan mengambil laptop. Saya kembali melanjutkan sisa cerita kemarin yang belum usai tertuliskan. Meskipun belum tuntas, saya jadi terpancing dengan suasana pagi yang damai ini. Saya mengalihkan tulisan saya tentang pagi yang indah, teduh dan damai dari lobi belakang rumah

Toko di Kokas

Toko di Kokas

toko di kokas

Beberapa saat kemudian Parto keluar bersama saya, Pak Ahmad, Syarif, Yusuf dan Hidayat. Papan tempat duduk kami memang belum kering benar, namun cukup untuk bisa diduduki. Kami semua melantai di atas papan, sambil berdiskusi kecil-kecil. Saya pun terus mengikuti diskusi kawan-kawan, namun jari-jari saya terus berjalan di atas tuts keyboard, merangkai kata-kata tentang pagi yang damai ini.

Matahari telah bersinar terang, gelap telah lenyap, saya dengan leluasa bisa memandang sejauh mungkin. Beberapa saat kemudian kami disuguhkan dua piring pisang goreng hangat dan kopi. Sungguh nikmat pagi, sungguh sebuah kemewahan yang sulit dijumpai. Kami menikmati pisang goreng dan kopi sambil memandang ke arah dermaga, dan laut dengan perahu-perahu warga yang lalu lalang. Pagi ini, kami juga ditemani oleh Pak BABINSA, saudaranya Parto, dalam cerita-cerita lepas, beliau yang lebih paham situasi di sini. Hari ini kami memang memiliki rencana agenda yang cukup banyak, ada banyak tempat yang akan dikunjungi, dan kemungkinan bisa menghabiskan sehari penuh. Sambil menunggu persiapan keberangkatan kami ke lokasi-lokasi tujuan, dari bincang-bincang santai itu, kami lalu bersepakat untuk berjalan melihat-lihat suasana pagi di kota kecil ini. Saya masih asyik mengetik, sambil menunggu teman-teman bersiap-siap untuk berjalan melihat-lihat kota kecil ini di pagi hari usai menyantap habis pisang goreng hangat dan kopi dan kopi hitam buatan tuan rumah.

img201610190639301

Rupanya kawan-kawan telah berjalan agak lama ketika saya keluar dari pintu depan rumah. Saya tidak tahu ke arah mana, apakah ke Arah Timur atau Barat. Beruntung, tetangga di rumah sebelah kanan memberitahukan saya bahwa mereka ke arah Barat. Itu artinya mereka berjalan ke arah dermaga Kokos, yang tidak jauh jika dipandang dari lobi rumah Pak Tentara, tempat kami biasanya duduk. Saya mengikuti jalan menuju kea rah dermaga. Melewati beberapa rumah dan satu kios di sebelah kanan jalan, hingga menjumpai sebuah bangkai meriam tua peninggalan tentara Jepang pada Perang Pacific. Meriam ini letaknya di sebelah kanan jalan depan masjid. Masjid ini nampaknya masih sangat baru. Dari bincang-bincang tadi pagi di lobi, Pak tentara mengatakan bahwa memang masjid yang lama hancur dibom, masjid yang lama itu letaknya di tempat dimana saat ini dibuat Taman Makam Pahlawan” Lanjut Ia mengatakan “ Masjid ini baru rencanana akan dipasang mahkotanya dari mahkota masjid lama yang kini sedang tersimpan di rumah Bapak Kepala Desa.

Saya terus berjalan mengikuti arah teman-teman. Saya melihat di depan rumah ada seorang ibu sedang berjulan kue untuk sarapan pagi di depan rumahnya. Di dekat jalan utama juga ada berkeliaran empat ekor sapi dan dua ekor kambing di jalan utama. Ketika menunuju ke arah pelabuhan, saya melihat Pak Ahmad, Parto, Syarif, Hidayat dan Yusuf sedang berdiri di pelabuhan, pak mereka juga sedang mangamati sebuah meriam tua yang diletakan d depan gerbang masuk pelabuhan. Saya juga penasaran dengan meriam itu. saya mendekati gundukan batu kecil itu berserta meriam yang ada di situ. Saya memanjat naik ke gundukan batu itu, melihat lebih dekat, meriam itu. Meriam itu memiliki dua roda dan bertulisakan “TOKYO MARUSEKO “entah apa artinya itu, saya belum paham”. Meriam itu memang sudah berkarat. Di atas gundukan bukit batu itu juga telah di didirkan sebuah tugu milik TNI, tuga ABRI Manunggal Desa. Bagi saya kehadiran tugu ini, yang hanya beberapa jengkal dari meriam tentara Jepang pada perang pacific, sangat memberi pandangan yang berbeda. Seakan-akan ingin juga menunjukan kehebatan mereka yang juga setara dengan Jepang, atau memang hanya ingin sekedar popularitas, mudah di kenal atau numpang popular lewat penginggalan milik tertara Jepang.

Usai puas memotret, saya berjalan beberapa meter lagi mengikuti jalan utama, dan di sebelah kiri saya, ada sebuah benteng milik Jepang, yang menurut warga berfungsi sebagai tempat persembunyian, juga sebagai rumah sakit tentara Jepang. Saya tidak sempat masuk ke dalam, namun saya berencana jika punya kesempatan nanti sebelum pulang ke Jayapura, saya ingin masuk, menelusuri jejak Jepang di dalam benteng ini. Saya sempat memotert dari depan wajah benteng itu, saya juga memotret dari ketinggian dermaga dan perahu-perahu, serta rakit milik perusahaan, yang sedang parkir di dermaga. Selain itu, mata juga saya terpaku pada tumpukan berwarna merah-merah dan biru di dalam dermaga Kokas. Saya kemudian berjalan masuk ke dalam dermaga, di susul Parto, Syarif dan teman-teman lainya.

Saya menduga tumpukan itu adalah tumpukan jaring ikan, namun setelah mendekat, tumpukan itu ternyata berupa kabel-kabel, serta pasak-pasak yang saling bersambung, nampak seperti alat ini digunakan di tanah, dan pasak-pasak itu akan ditancapkan ke dalam tanah. Kemungkinan alat ini digunakan untuk mengukur tanah, atau mungkin untuk meledakan tanah, saya hanya menduga-duga. Di ujuang dermaga tua yang hanya tinggal rangka, air begitu jernih, dan dari atas rangka dermaga itu kelihatan dengan jelas, ikan bobara sedang berenang bergerombolan, sesekali menyambar ikan-ikan kecil yang berenang mengintar di bawah tiang-tiang rangka dermaga. Melihat ikan yang banyak itu, saya berkeinginan sekali untuk memancing di sini. Mungkin setelah agenda kami selesai, atau sebelum kembali. Di atas rangka dermaga itu, juga ada pipa-pipa baja berukuran besar untuk tiang dermaga, tertumpuk di sisi sebelah kiri. Kemungkinan akan memperpanjang dermaga ini. Memang dermaga ini, sebelah kirinya adalah dermaga yang masih berfungsi, namun sebelah kanannya, hanya tinggal rangka, alias rusak. Syarif yang menggenggam kamera besar milik pak Ahmad, terus memotret suasana pagi di dermaga itu, saya juga sempat memotret beberapa gambar dengan menggunakan kamera handphone saya.

img20161019070403

Kami harus kembali ke rumah, sebab hari ini kami berencana akan ke laut melihat misteri tapak tangan berdarah di pukau-pulau yang berada di laut kokas dan juga beberapa tempat-tempat lainnya. Ketika kami tiba di rumah, tak lama kemudian, datang seorang Kakek “ini Bapak Rais Kuda, beliau adalah salah satu orang tua di kampung Sekar ini,” “kalau mau tanya-tanya tentang Kokas, Bapak ini adalah salah satu orang tua yang juga tahu banyak, dan bisa bercerita,” kata Pak Tentara, saudaranya Parto. Lanjut pak tentara mengatakan “Beliau ini adalah salah satu orang tua yang juga dengan terang-terang mengatakan bahwa Sekar ini milik orang Serbunit.” Bapak itu datang dan duduk berdekatan dengan kami, dan sambil basa-basi, saya meminta Bapak Rais untuk ceritakan dulu sedikit tentang Jepang di Kokas ini. Namun, beliau mengarakan, saya masih sangat kecil saat Jepang berada di sini, jadi saya tidak terlalu tahu tentang Jepang. Kalu Trikora saya tahu, Tentara Trikora pertama kali mendarat itu di Nembuktep, lalu orang-orang di sana datang dan memberitahukan orang di sini, “ kata bapak Rais.

“ waktu itu di Nembuktep, dia lepas, lalu di keluar lagi, lampu masih hidup, lampu merah masih hidup, terus dia balik ke laut, dia balik lagi masuk, tiga kali putar, turun lagi, dia putar pulang, besok balik lagi kasi turun di Mambunbuni. Jadi, Mambunibuni jam enam itu kita lihat tentara payung turun-turun”. Itu saya masih di kampung, yang kamuka di Nembuktep itu saya ada di pasar pendek, begitu ada berita tentara Indonesia sudah masuk, saya keluar kasih tahu di sini, bahwa tentara Indonesia sudah ada di hutan” Kasih tahu bukan untuk apa tapi, untuk jaga-jaga saja, karena di Kampung Sekar ini juga, ada yang Pro Indonesia, ada yang Pro Belanda. Yang keluar ke sini itu Saifudin, dia kasih tahu bahwa tentara sudah ada di Nembuktep. Waktu itu di sini belum ada tentara, cuma polisi. Waktu itu ada Bren tapi tidak ada yang tahu pakai, polisi juga tidak tahu.”

Demikian cerita singkat Pak Rais soal pendaratan tentara Trikora di Fakfak. Belia memang tidak terlalu tahu soal Jepang di Kokas.

Mesikupun demikian, Bapak Rais hanya mengatakan bahwa Kokas ini dulu memang tempat tentara Jepang, “ di laut sana ada bangkai pesawat yang jatuh” kata beliau sambil menunjuk ke arah laut. Beliau sendiri pun tidak tahu itu peswat milik siapa. Ketika saya tanya Ia hanya menjawab ‘pesawat Belanda’. Namun Bapak Rias benar, setelah saya memeriksa beberapa catatan, ternyata Kokas (Kaukus) dalam Pacific Wreck.Com mengatakan bahwa Kokas dulu adalah pangkalan atau basis pertahanan pesawat laut (seaplane) pasukan Jepang dalam perang pacific. Kokas diduduki oleh sebuah detasmen kecil tentara Jepang and menggunakannya sebagai dearah pemasok, tempat berkumpul dan pangkalan armada pesawat laut (seaplane). Di sana banyak digunakan pesawat-pewaat bifer yang bisa mendarat di atas laut. Pangkalan Jepang ini seriang diserang oleh tentara Sekutu Amerika yang berpangkalan di Biak dan Jayapura.

Dari catatan yang saya peroleh, sejak 10 Juni 1943 hingga 27 September 1944, kurang lebih pangkalan Jepang di Kokas telah di serang sebanyak 13 kali oleh pasukan sekutu Amerika. Kemungkinan bangkai pesawat yang dimaksudkan oleh Bapak Rais itu, adalah peswat jenis A-20 yang dipimpin oleh Kolonel Strauss yang berangkat dari Pangkalan Holandia (Jayapura) dengan misi terbang rendah di Kokas dan menjatuhkan Bom di pangkalan Jepang. A20G “Bavo” 439432 ini merupakan pernerbanagan terakhir dari tiga penerbangan yang dipimpin oleh Captain Jack. W. Klein dengan penerbang Letnan Dua Marvin. H. Kapson. Seteleh melepas bom seberat 250lbs di pangkalan Jepang di Kokas, kemudian peswat A20 ini ditembak oleh senjata anti peswat udara pada posisi yang sangat rendah. A20 kemudian jatuh ke dalam air laut di depan kampung Sekar dan meladak.

Foto from : www.pacificwreck.com

Foto from : www.pacificwreck.com

Kembali ke rencana hari ini, sambil berbincang kami juga mengisi perut kami, dengan nasi, ikan asin dan mie rebus. Air sudah agak surut dan kami harus segera keluar sebelum, perahu kami kandas. Bapak Rais dan juga anak mudah yang akan menjadi jurumudi kami juga sudah siap. Saya mengambil peralatan, berupa kamera dan tripod, memeriksa lensa yang di bawah dan meninggalkan handphone saya di dalam tas. Syarif, Hidayat dan Yusuf tetap tinggal di kota, menjalankan misi mereka hari ini yakni bersosialisasi dengan kampung dan warganya. Saya, Parto, Pak Ahmad, Pak Tentara, Bapak Rais serta jurumudi, akan segera berangkat.

Give Comment
https://ethnotraveller.net/wp-content/uploads/2016/11/56768686_138935971001-1.gifhttps://ethnotraveller.net/wp-content/uploads/2016/11/56768686_138935971001-1-150x55.gifUmar WerfeteFakfakTravel NotesTravel StoryWest PapuaKokas,pacific war,pelabuhan kokas,world war two,wwii
CATATAN LAPANGAN HARI KE TIGA, EPISODE I | Pukul 05: 37 pagi saya terbangun dari tidur, di sebelah kanan saya Pak Ahmad masih terbaring dalam selimut, Yusuf, Hidayat dan Syarif juga masih tertidur. Parto yang tidur paling ujung kiri sudah bangkit dan meninggalkan tempat tidurnya. Ia nampak sedang memainkan...
READ ALSO  Local People Houses at Kokas, Fakfak