the-learning-curve-2014-report1

Ketika gelar akademik menjadi salah satu pra syarat dalam jenjang karir dan jabatan maka, dengan berbagai cara orang berbondong-bondong memburu gelar akademik di perguruan tinggi. Sebagian orang bertarung untuk memperoleh gelar-gelar akdemik mereka melalui proses yang panjang dan jatuh bangun. Mereka bahkan bertarung dengan kemampuan mereka untuk bisa menembus masuk perguruan tinggi terbaik di dunia. Dan sesungguhnya jumlah mereka juga tidak sedikit. Di sisi yang lain, ada pula sebagian orang yang menginginkan gelar-gelar itu melalui cara-cara khusus, tanpa melalui proses yang panjang dan rumit. Mereka tidak peduli soal apa yang akan mereka bawa ke perguruan tinggi untuk dikaji dan diteliti, mereka hanya menginginkan agar segalanya yang berkaitan dengan perkuliahan telah disediakan oleh pihak penyedia jasa pendidikan kelas khusus, atau apapun namanya. Mereka juga tidak peduli tentang bidang kajian mereka yang akan terus mereka kembangkan sebagai brand diri mereka paskah meraih gelar akademik mereka. Bahkan sungguh memalukan jika kebijakan kelas khusus itu adalah inisiatif dari pimpinan PTAIN dan sungguhnya adalah pelecehan akademik bagi perguruan tinggi yang bersedia menyediakan jasa kelas khusus bagi dosen di PTAIN.

Jika proses potong kompas itu terus terjadi pada dosen di PTAIN bisa tergambar dengan jelas bagiamana kualitas dosen di PTAIN yang sebetulnya tidak hanya sebatas pengajar, tetapi juga motivator dan inspirator. Bagaimana pula jadinya kualitas PTAIN untuk meraih ambisi world class university sebagaimana dikampanyekan oleh Diktis?

Kelas khusus yang dimaksukan adalah bahwa dalam proses meraih gelar akademik dari tingkat strata dua hingga doktor dilakukan dengan cara yang khusus. Tidak melalui proses seleksi, proses kuliah dipersingkat dan bahkan proses penyelesaian tugas akhir juga asal asalan, bila perlu dibantu penulisan tugas akhirnya, agar semuanya harus selesai pada waktu yang disepakati antara penyedia jasa kelas khsusus dan pengguna jasa kelas khusus. Sudah pasti kualitasnya akan jauh di bawah mereka yang masuk perguruan tinggi melalui proses yang komplit, dari menyusun rencana studi, rancangan proposal penelitian, mencari professor pembimbing akademik, melamar ke perguruan tinggi, mengikut seleksi beasiswa, perkulihan yang rutin hingga meraih gelar akademik mereka dengan kepuasan, penih haru atas jerih payah mereka. Sementara mereka yang melalui proses ini akan memiliki komitmen dan hasrat yang tinggi terhadap apa yang menjadi bidang kajian mereka. Mereka juga memiliki semangat juang yang tinggi denga segudang pengalam berharga yang dapat dibagikan dan bisa mengisinpirasi teman dan mahasiswa dimana Ia mengabdi.

Namun, ketika proses dalam meraih gelar akademik itu dilalui dengan memotong sebagian proses. Sudah pasti mereka tidak memiliki pengalaman yang banyak untuk berbagi terkait proses meraih gelar akademik. Mereka juga belum teruji terkait komitmen dan hasrat mereka terhadap apa yang menjadi minat kajian mereka. Mereka hanya akan berharap kepada orang-orang disekitar mereka untuk memberikan bantuan terkait apa yang akan menjadi bidang kajiannya, hingga tumpulnya determinasi mereka dalam belajar. Di dunia akademik, daya juang mereka menjadi tumpul dan tidak mampu dalam menghasilkan karya-karya ilmiah, dan untuk keperluan karir kepangkatan mereka. Dan untuk itu, mereka akan menggunakan penulis hantu (ghost writer) untuk menuliskan jurnal, makalah hingga buku-buku mereka, yang kebanykan tidak sejalan dengan keahlian mereka, atau tidak memperhatikan standar akademik. Mereka bahkan tidak malu menggunakan karya-karya ghost writer untuk pengusulan kepangkatan fungsional mereka serta memburuh gelar guru besar dengan tulisan-tulisan yang dibeli.

Jika praktek-parketk itu terus terjadi pada dosen di PTAIN maka, sudah bisa dipastikan bahwa perguruan tinggi dimana mereka berada tidak akan memiliki orang-orang dengan determinasi dan kreatifitas tinggi dalam menghasilkan karya-karya ilmiah, namun hanya akan menghasilkan orang-orang yang gila jabatan dengan gelar yang mereka miliki. Bagaimana mungkin PTAIN bisa meraih ambisi world class university sebagaimana dikampanyekan oleh Diktis?

wcu1

Give Comment
https://ethnotraveller.net/wp-content/uploads/2016/07/the-learning-curve-2014-report1.jpghttps://ethnotraveller.net/wp-content/uploads/2016/07/the-learning-curve-2014-report1-150x55.jpgUmar WerfeteIndonesiaPeople & Culturedosen PTKIN,kelas khusus,PTAIN,world class university
Ketika gelar akademik menjadi salah satu pra syarat dalam jenjang karir dan jabatan maka, dengan berbagai cara orang berbondong-bondong memburu gelar akademik di perguruan tinggi. Sebagian orang bertarung untuk memperoleh gelar-gelar akdemik mereka melalui proses yang panjang dan jatuh bangun. Mereka bahkan bertarung dengan kemampuan mereka untuk bisa menembus...